Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Marabahan’ Category

Oleh: Nasrullah
Staf Pengajar Program Studi Pendidikan Sosiologi
dan Antropologi FKIP Universitas Lambung Mangkurat

Saat ini sedang berlangsung rangkaian kegiatan pemilihan kepala daerah (Pilkada) langsung di Provinsi Kalimantan Selatan khususnya di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) dan Kabupaten Barito Kuala (Batola).

Jika ada sesuatu hal yang maknanya dipertentangkan, diperjuangkan hingga diperdebatkan saat masa kampanye pada pemilihan kepala daerah tersebut, maka itu adalah angka. Pada dasarnya, angka merupakan otoritas eksak, tapi dalam pilkada angka menjadi tidak pasti.

Bayangkan saja penghitungan 1+0=?; 1+1=? Atau 1+2=? sangat mudah dijumlahkan, bahkan anak TK saja dapat menjawabnya. Namun jumlah itu pada masa pilkada menjadi problematis diucapkan, karena orang cenderung berpihak pada angka tertentu. (lebih…)

Iklan

Read Full Post »

Oleh Nasrullah

Pasangan calon (paslon) kepala daerah perlu menghadirkan diri ke tengah masyarakat agar pemilih terus mengingat dan menentukan pilihannya. Kehadiran mereka secara tidak langsung dapat melalui perantara spanduk sebagai media efektif agar masyarakat khususnya pemilih dapat mengenal paslon lebih jauh, apalagi paslon tidak mungkin berada pada satu tempat setiap saat. Tulisan ini secara khusus mencermati paslon dalam spanduk pilkada Batola untuk menemukan konsep tentang identitas dan prioritas masing-masing paslon. (lebih…)

Read Full Post »

(Catatan Awal yang Subyektif dan Motivatif untuk
Mengiringi Suksesi Kepemimpinan Batola tahun 2017)

“Ela Malawan ji Bakas!”
Dalam kultur di masyarakat kita, terutama di kalangan orang Bakumpai, orang Banjar, orang Jawa dan suku-suku lain terdapat kesamaan mendudukkan “yang muda” secara subordinat. Sebaliknya orang tua berada pada posisi dominan. Ungkapan-ungkapan kebahasaan sehari-hari dapat menjadi bukti nyata. Bagian ini saya coba untuk membahas dalam kultur Bakumpai saja, karena pengetahuan, pengalaman dan pemahaman saya tentang Bakumpai lebih memadai dibanding pengetahuan saya dengan suku bangsa lain. Selain itu dapat menjadi refleksi terhadap kuatnya subordinat terhadap “yang muda” dalam kultur suku bangsa yang lain. (lebih…)

Read Full Post »

(Catatan Awal yang Subyektif dan Motivatif untuk
Mengiringi Suksesi Kepemimpinan Batola tahun 2017)

Opini Media Kalimantan

Ketika “Yang Muda” di Depan Mata
“Katabelaan,” “masih anum,” “kakanakan,” “nakuluhan”atau kata-kata lain yang semakna telah menjadi trending topik di masyarakat. Pemicunya adalah kehadiran orang-orang muda yang memproklamirkan diri untuk berlaga dalam pilkada Batola tahun 2017. Memang ada banyak cerita kesuksesan orang-orang muda memimpin daerah, memimpin perusahaan, bahkan menjadi pemimpin umat. Namun justru disitulah masalahnya. Cerita sukses orang muda itu berjarak psikologis, jarak geografis, jarak sosial dengan masyarakat setempat. Sehingga ketika cerita berubah menjadi realitas yang terpampang di depan mata, banyak orang menjadi takipik (terkejut) karenanya. It’s for real? Bujurankah? Itulah ekspresi antara percaya dan tidak dalam benak masyarakat. (lebih…)

Read Full Post »

(Sebuah Etnografi Awam Mengiringi Pilkada Batola 2017)
Oleh : Nasrullah

Tiga Tokoh Berbaju Putih. Lokasi foto di Handil Bakti

Tiga Tokoh Berbaju Putih. Lokasi foto di Handil Bakti

3. Golongan Berbaju Putih: FN, HBN dan HI
Benda dan pemilik yang menggunakannya memiliki sejarah sendiri dan menentukan status sosial berdasarkan kebendaan tersebut. Seperti itu pula dengan baju yang kita pakai. Pada mulanya, baju itu berstatus baju hanyar atau puga atau baju baru. Kebaruan pada baju itulah membuat pemiliknya berhati-hati menggunakan agar tidak kotor. Setelah berulang kali dipakai, belasan bahkan puluhan kali, baju itu pun berubah status sebagai baju tilasan atau baju untuk dipakai sehari-hari. Kemudian karena terus menerus dipakai, baju yang awalnya baru berubah warna menjadi pudar, beberapa jahitan mulai renggang, benang tercerabut, akhirnya baju itu kehilangan fungsi sebagai pakaian. Maka status baju kemudian berubah dari pakaian hanyar atau puga, kemudian baju tilasan dan berakhir sebagai lap atau digunakan untuk mengepel lantai. (lebih…)

Read Full Post »

(Sebuah Etnografi Awam Mengiringi Pilkada Batola 2017)
Oleh : Nasrullah

Baju Putih

1. Putih Nan Suci atau Parigatan?
Di waktu kecil, ketika saya berkeinginan membeli baju berwarna putih, mendadak ibu saya melarang. Alasan beliau baju berwarna putih itu parigatan atau mudah kotor. Sebaliknya di lain kesempatan, ibu saya malah membelikan baju putih tanpa saya minta. Saya pun menyetujui dan senang sekali mendapatkan baju putih. Bagaimana mungkin saya menolak baju putih tersebut karena dipakai sebagai baju wajib untuk sekolah. Jadi saya dan orang tua, bahkan masyarakat sekitar memilih baju putih karena dikontrol oleh sebuah otoritas bernama peraturan sekolah. Begitulah selama belasan tahun saya menggunakan baju putih sebagai pakaian seragam ke sekolah. Hal demikian berlangsung hingga awal masuk kuliah atau sebagai mahasiswa baru, saya masih diwajibkan memakai baju putih. (lebih…)

Read Full Post »

Foto Koleksi Hj Noormiliyani, SH

Foto Koleksi Hj Noormiliyani, SH

Menghadiri jamuan makan siang sambil diskusi ringan dengan pemimpin perempuan pertama di rumah Banjar atau DPRD Kalsel yakni bunda Hj Noormiliyani sungguh kesempatan langka. Apalagi menu diskusi kami tidak kalah enaknya dibanding hidangan yang disajikan. Diskusi mengalir menyambangi pengalaman beliau pada hari-hari pertama memimpin DPRD Kalsel. “Hari pertama menjabat, saya sudah menghadapi demo mahasiswa” kenang bunda. (lebih…)

Read Full Post »

Older Posts »