Feeds:
Pos
Komentar

(Catatan Awal yang Subyektif dan Motivatif untuk
Mengiringi Suksesi Kepemimpinan Batola tahun 2017)

“Ela Malawan ji Bakas!”
Dalam kultur di masyarakat kita, terutama di kalangan orang Bakumpai, orang Banjar, orang Jawa dan suku-suku lain terdapat kesamaan mendudukkan “yang muda” secara subordinat. Sebaliknya orang tua berada pada posisi dominan. Ungkapan-ungkapan kebahasaan sehari-hari dapat menjadi bukti nyata. Bagian ini saya coba untuk membahas dalam kultur Bakumpai saja, karena pengetahuan, pengalaman dan pemahaman saya tentang Bakumpai lebih memadai dibanding pengetahuan saya dengan suku bangsa lain. Selain itu dapat menjadi refleksi terhadap kuatnya subordinat terhadap “yang muda” dalam kultur suku bangsa yang lain. Lanjut Baca »

(Catatan Awal yang Subyektif dan Motivatif untuk
Mengiringi Suksesi Kepemimpinan Batola tahun 2017)

Opini Media Kalimantan

Ketika “Yang Muda” di Depan Mata
“Katabelaan,” “masih anum,” “kakanakan,” “nakuluhan”atau kata-kata lain yang semakna telah menjadi trending topik di masyarakat. Pemicunya adalah kehadiran orang-orang muda yang memproklamirkan diri untuk berlaga dalam pilkada Batola tahun 2017. Memang ada banyak cerita kesuksesan orang-orang muda memimpin daerah, memimpin perusahaan, bahkan menjadi pemimpin umat. Namun justru disitulah masalahnya. Cerita sukses orang muda itu berjarak psikologis, jarak geografis, jarak sosial dengan masyarakat setempat. Sehingga ketika cerita berubah menjadi realitas yang terpampang di depan mata, banyak orang menjadi takipik (terkejut) karenanya. It’s for real? Bujurankah? Itulah ekspresi antara percaya dan tidak dalam benak masyarakat. Lanjut Baca »

(Sebuah Etnografi Awam Mengiringi Pilkada Batola 2017)
Oleh : Nasrullah

Tiga Tokoh Berbaju Putih. Lokasi foto di Handil Bakti

Tiga Tokoh Berbaju Putih. Lokasi foto di Handil Bakti

3. Golongan Berbaju Putih: FN, HBN dan HI
Benda dan pemilik yang menggunakannya memiliki sejarah sendiri dan menentukan status sosial berdasarkan kebendaan tersebut. Seperti itu pula dengan baju yang kita pakai. Pada mulanya, baju itu berstatus baju hanyar atau puga atau baju baru. Kebaruan pada baju itulah membuat pemiliknya berhati-hati menggunakan agar tidak kotor. Setelah berulang kali dipakai, belasan bahkan puluhan kali, baju itu pun berubah status sebagai baju tilasan atau baju untuk dipakai sehari-hari. Kemudian karena terus menerus dipakai, baju yang awalnya baru berubah warna menjadi pudar, beberapa jahitan mulai renggang, benang tercerabut, akhirnya baju itu kehilangan fungsi sebagai pakaian. Maka status baju kemudian berubah dari pakaian hanyar atau puga, kemudian baju tilasan dan berakhir sebagai lap atau digunakan untuk mengepel lantai. Lanjut Baca »

(Sebuah Etnografi Awam Mengiringi Pilkada Batola 2017)
Oleh : Nasrullah

Baju Putih

1. Putih Nan Suci atau Parigatan?
Di waktu kecil, ketika saya berkeinginan membeli baju berwarna putih, mendadak ibu saya melarang. Alasan beliau baju berwarna putih itu parigatan atau mudah kotor. Sebaliknya di lain kesempatan, ibu saya malah membelikan baju putih tanpa saya minta. Saya pun menyetujui dan senang sekali mendapatkan baju putih. Bagaimana mungkin saya menolak baju putih tersebut karena dipakai sebagai baju wajib untuk sekolah. Jadi saya dan orang tua, bahkan masyarakat sekitar memilih baju putih karena dikontrol oleh sebuah otoritas bernama peraturan sekolah. Begitulah selama belasan tahun saya menggunakan baju putih sebagai pakaian seragam ke sekolah. Hal demikian berlangsung hingga awal masuk kuliah atau sebagai mahasiswa baru, saya masih diwajibkan memakai baju putih. Lanjut Baca »

Foto Koleksi Hj Noormiliyani, SH

Foto Koleksi Hj Noormiliyani, SH

Menghadiri jamuan makan siang sambil diskusi ringan dengan pemimpin perempuan pertama di rumah Banjar atau DPRD Kalsel yakni bunda Hj Noormiliyani sungguh kesempatan langka. Apalagi menu diskusi kami tidak kalah enaknya dibanding hidangan yang disajikan. Diskusi mengalir menyambangi pengalaman beliau pada hari-hari pertama memimpin DPRD Kalsel. “Hari pertama menjabat, saya sudah menghadapi demo mahasiswa” kenang bunda. Lanjut Baca »

Bersama Bupati Batola, Sekda Batola dan mahasiswa yang tergabung dalam Kerukunan Mahasiswa Kabupaten Barito Kuala

Bersama Bupati Batola, Sekda Batola dan mahasiswa yang tergabung dalam Kerukunan Mahasiswa Kabupaten Barito Kuala

(Bukan Catatan Menjelang Suksesi Batola 2017)

Oleh Nasrullah

Penulis Ketua Kerukunan Mahasiswa Kabupaten Batola (KMKB)

Periode 2001 – 2002

Mahasiswa Batola sedang tidak enak hati. Mereka bingung, gelisah, galau dan merana. Bahkan saking bingungnya, mereka tidak tahu harus berbuat apa. Mahasiswa ini adalah mereka yang tergabung dalam Kerukunan Mahasiswa Kabupaten Batola (KMKB). Secara khusus mereka berada dalam naungan dua atap, yakni asrama putri/mahasiswi Batola dan asrama putra/mahasiswa Batola.

Situasi tidak nyaman semakin memuncak menjelang berakhirnya waktu bagi mereka untuk menempati asrama sesuai dengan isi kontrak. Maklum saja mahasiwa Batola sejak tahun 2001 selalu tinggal dalam asrama berstatus kontrak. Terlebih lagi asrama putra KMKB itu selalu berpindah, karena menyesuaikan kondisi rumah, biaya kontrak, hingga jumlah mahasiswa. Mereka adalah mahasiswa nomaden tergantung di mana tempat mereka bisa mengontrak tentu saja dari bantuan pemerintah kabupaten Batola. Lanjut Baca »

DSCN1490

(Bagian 5 atau penutup dari 5 tulisan dengan judul  utama  Kontestasi Wacana Pertanian Padi Tiga Tokoh Batola Dalam Baliho)

Oleh Nasrullah

Pada gambar tiga terdapat teks

Satu Kata, Satu Rasa

Untuk Membangun Batolaku Tercinta

Berbeda dengan gambar satu dan gambar dua, gambar tiga ini menampilkan teks yang deklaratif dan bertabur kata. Terdapat pengulangan kata “Satu” yang disandingkan pada “kata” dan “rasa” secara bergantian menunjukkan pada aktivitas inderawi dan daya tangkap perasaan. Selain bersifat deklaratif, penggunaan kata-kata “Satu kata, satu rasa” menunjukkan upaya menghimpun pembaca pada satu kesatuan yang diharapkan. Lanjut Baca »