Feeds:
Pos
Komentar

Archive for April, 2007

Bumi Dayak

TRANSMIGRASI DI ATAS TANAH DAYAK

Oleh : Nasrullah


Tulisan ini mencoba membahas transmigrasi di Proyek Lahan Gambut Sejuta (PLG) Hektar Kalimanatan Tengah yang akan direhabilitasi dan menghubungkannya dengan multikultural dan kebudayaan lokal. Saya memulai tulisan ini dengan beberapa pandangan mengenai multikulturalisme di Indonesia.

Yogyakarta bulan Februari 2007 lalu, dalam peresmian gedung budaya UGM. Hadir Sri Sultan Hamengku Bowono IX memberikan kata sambutan. Menurut Sultan, multikultural pada mulanya dianggap sebagai sebuah mozaik. Ia terlihat begitu indah dipandang karena keragamannya, namun keindahan itu sendiri bukan jaminan dari suatu kelestarian. Mozaik itu bisa jatuh dan menjadi pecah. Umar Kayam kemudian mencoba mencari upaya yang menguatkan multikultural, melalui Dialog Kebudayaan. Sehingga multikultural tidak lagi hanya dianggap sebagai mozaik melainkan laksana serat (fiber) yang satu sama lain bersama untuk saling menguatkan. (lebih…)

Iklan

Read Full Post »

Buatmu

(untukmu, puisi ini wakil perasaanku)

Perkenankanlah Aku Mencintaimu

Oleh: A. Mustofa Bisri

Perkenankanlah aku mencintaimu seperti ini
tanpa kekecewaan yang berarti
harapan-harapan yang setiap kali dikecewakan kenyataan
biarlah dibayar oleh harapan-harapan baru yang menjanjikan
Perkenankanlah aku mencintaimu semampuku
menyebut-nyebut namamu
dalam kesendirian pun lumayan
berdiri di depan pintumu tanpa harapan
kau membukakannya pun terasa nyaman
sekali-kali membayangkan kau memperhatikankupun cukup memuaskan
perkenankanlah aku mencintaimu sebisaku
2000

Read Full Post »

Tidak banyak yang mengetahui atau mengingat kembali peristiwa heroik terjadi di Marabahan 58 tahun lalu, tepatnya 5 Desember 1945. Peristiwa 5 Desember 1945 tidak hanya kebanggaan rakyat Marabahan, juga masyarakat Kalimantan Selatan pada umumnya karena sebagai bukti perjuangan rakyat untuk kemerdekaan RI. Meskipun ada tenggang waktu sekitar empat bulan setelah proklamasi kemerdekaan RI, baru proklamasi kemerdekaan rakyat Marabahan sebagai perwujudan konsekwensi logis dukungan kemerdekaan, untuk hidup merdeka, bebas dalam menentukan nasib sendiri untuk bergabung dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia walaupun menempuh berbagai risiko berat.

Beberapa catatan menarik sekitar peristiwa 5 Desember 1945, perlu diungkap kembali mengingat mulai lunturnya penghargaan terhadap pejuang kemerdekaan tempo dulu. Begitu juga sedikit sekali catatan-catatan sejarah pejuang lokal yang dipublikasikan ditambah banyak saksi dan pelaku sejarah yang telah meninggal dunia. (lebih…)

Read Full Post »

Bangsa Indonesia kaya akan cerita-cerita rakyat dalam sastra lisan (foklore), sebenarnya kalau dicermati ternyata kebanyakan cerita tersebut mempunyai kesamaan ide. Namun demikian, tidak banyak di antara kita yang mendalaminya, apalagi memahami pesan dari suatu cerita. Mungkin kebanyakan kita, hanya melihat sebagai suatu legenda, terkadang untuk ditakuti, dikagumi, atau bahkan sekadar dongeng menjelang tidur bagi anak-anak.

Kecenderungan adanya sastra lisan tersebut, bisa dimaklumi sebab pepatah Arab mengatakan, manusia adalah hewan yang bertutur. Dari situlah yang membedakan manusia dari makhluk Tuhan lainnya. Menurut Ahimsa Putra (2002) manusia adalah makhluk yang mampu menggunakan, mengembangkan, menciptakan lambang untuk berkomunikasi dengan sesama. Melalui lambang-lambang pula manusia menanggapi lingkungannya. Dalam hal ini bahasa merupakan sistem lambang yang paling penting dalam kehidupan manusia.
Pembahasan lebih luas muncul, bahwa melalui bertutur atau bahasa sebagai pintu gerbang untuk memahami tingkah laku, atau kebudayaan manusia. Termasuk memahami kebudayaan yang terkandung dalam cerita rakyat. Bahasa kemudian menjadi penting ketika dihubungkan dengan kebudayaan. Ketika misalnya kebudayaan adalah perangkat simbol yang diperoleh dari belajar dalam kehidupan bermasyarakat, yang melestarikan kehidupan manusia. Maka kebudayaan itu, bisa dikatakan adalah berarti bahasa. Berhubungan dengan makna, fungsi teks hadir untuk menguraikannya. Sebab teks, adalah kumpulan bahasa yang tertulis.
Begitulah, bagi kalangan pemerhati budaya, sastra lisan bukan sesuatu yang kering makna. Dari sudut pandang demikian, saya mencoba mengangkat sastra lisan tentang Patih Bahandang Balau, sebuah cerita yang masyhur bagi kalangan orang-orang Bakumpai.

Asal Usul Orang Bakumpai
Sastra lisan Patih Bahandang Balau telah dibukukan oleh Depdikbub Jakarta tahun 1979 yang disusun oleh Sjahrial SAR Ibrahim dkk. Versi lain yang isinya tidak jauh berbeda disusun oleh Kasmuddin dkk, terbitan tahun 2005 oleh Institute For Sustainable Develompment Marabahan. Tidak menutup kemungkinan, ada versi lain tentang kisah Patih Bahandang Balau.
Di luar pendapat para pakar tentang asal-usul orang Bakumpai, dalam cerita ini disebutkan bahwa: Helu ete si ngaju sungei Barito kanih ada lebu ji araiye Air Manitis, ji iyelai uluh Suku Dusun Biaju. Artinya Dahulu di daerah hulu sungai Barito, ada kampung yang bernama Air Manitis dihuni oleh Suku Dusun Biaju.
Kepala suku tersebut mempunyai anak kembar, sang kakak seorang laki-laki bernama Patih Bahandang Balau selanjutnya disebut Patih saja, dan adik kembar perempuannya bernama Datu Sadurung Malan, kemudian ditulis Datu. Masing-masing melahirkan keturunan orang Bakumpai dan Biaju, bermula kisah ketika Datu memilih tajun (melarikan diri) karena tidak mau menikah dengan Kakak kandungnya Patih.
Dari hulu Barito, Datu menggunakan jukung berkayuh menjauh dari kampung halaman. Pilihannya pergi ke pulau Jawa, waktu itu sungai Barito hanya sampai Muara Pulau (terletak di kecamatan Tabukan, Batola). Selanjutnya sungai Barito menyambung ke sungai Kahayan. Karena tidak mau pelariannya diketahui, Datu membuat jalan sendiri. Ia menarik jukung ke arah sebelah kiri, tepat di belakang kampung Muara Pulau berdiri Kampung Jambu Baru. Bekas jalan dari jukung Datu, membuat sungai kecil, lama kelamaan membesar hingga disebut sungai Barito.
Sekian waktu berlalu, tahulah Datu bahwa Patih sudah menikah. Ia pun berfikir untuk pulang ke kampung dengan membawa suami dan anak cucunya, sambil menapak tilasi jalan yang ia buat dulu. Melewati tempat tersebut, terkejutlah Datu jalan itu telah ramai dan menjadi sungai. Akhirnya sebelum melanjutkan perjalanan ke kampung halaman, Datu membuat rumah tempat tinggal bersama keluarganya di suatu tempat dengan tanda ayam jantan berkokok.
Tempat itupun kemudian dikenal sebagai Marabahan, atau Kampung Bakumpai. Demikianlah dalam cerita tersebut, memberikan kesan pada kita bahwa suku Bakumpai juga suku-bangsa Dayak.
Bukan Kasih Tak Sampai
Kisah cinta Patih terhadap adiknya, kalau dicermati secara serius ternyata tidak sekedar kisah cinta yang tak terbalas atau kasih tak sampai. Dikisahkan Datu mempunyai paras sangat cantik, sehingga kakaknya jatuh cinta. Tidak tahan dengan perasaan sendiri, Patih mencari-cari kesempatan menyatakan cintanya dengan Datu.
Suatu kesempatan di sawah, Patih mengutarakan isi hati pada adiknya sendiri untuk memperistri Datu. Sayangnya Datu tidak mau menikah dengan Patih, setelah kejadian Datu tidak mau lagi berduaan dengan kakaknya di sawah kecuali ada kedua orang tuanya.
Kesempatan lain, Patih mengutarakan lagi niatnya, namun lagi-lagi Datu menolak dengan mengatakan. “Itah te hampahari ka’ai kakueh beh adat istiadat gida mambolehkan hal jite”. Artinya, kita itu bersaudara Kak, bagaimanapun adat istiadat melarang hal itu. Merasa cintanya benar-benar tak terbalas, Patih menjadi gelap mata dengan mengancam membunuh adiknya. Sebaliknya, merasa tidak aman Datu pun memilih melarikan diri dan bersuami dengan orang lain, sebagaiaman diceritakan di atas.
Menurut saya di sinilah inti pesan sebenarnya, sebagaimana kisah Sangkuring di tanah Jawa atau Sawerigading di Sulawesi. Bukan terletak pada jalannya kisah cinta, melainkan upaya untuk menghindari perkawinan sedarah atau larang inses.
Kasus tertolaknya cinta Patih oleh adiknya Datu, memberikan pemahaman pada kita sebagaimana diungkapkan Lévi-Strauss (1969) bahwa larangan inses sudah menjadi norma sosial sejak zaman dahulu kala. Sigmun Freud yang mempengaruhi aliran strukturalisme Lĕvi-Strauss bahwa prilaku-prilaku individu didorong oleh dibawah sadarnya yang ada pada individu, contohnya pada kasus mimpi basah pada seseorang.
Kaitannya dengan incest adalah, manusia memang mempunyai hasrat sex sebagai buktinya mimpi basah tersebut dan begitu juga pada binatang (animality). Akan tetapi strukturalisme bertujuan mengarahkan manusia dari natur ke cultur, artinya ada keteraturan yang tidak disadari pada perilaku seks tersebut bila dikaitkan dengan manusia sebagai makhluk sosial. Van Baal (1998) menjelaskan butir pikiran Lévi-Strauss manusia dimana-mana mengisi kebebasan dengan ketentuan di mana alam memberinya kebebasan. Tapi pertama-tama yang dilakukan manusia ialah membatasi kebebasan itu dengan dengan ketentuan insest yang melarang hubungan seks dengan saudara-saudara tertentu.
Pilihan Datu tajun (melarikan diri) ke pulau seberang, semakin memperjelas upaya menghindari inses. Juga memperkokoh posisi perempuan dalam sistem tukar menukar, menurut Marcel Mauss (1992) Fenomena adanya tukar menukar pada masyarakat, pemberian merupakan fakta sosial, artinya pemberian bukan hanya berkaitan dengan untung dan rugi. Pemberian merupakan alat sosial untuk membangun integrasi sosial.
Mauss melihat adanya hubungan timbal-balik telah terbukti menjadi ‘norma’ yang essensial pada masyarakat yang ditelitinya. Oleh Badcock (2006) menjelaskan dalam kasus The Gift, Mauss mencapainya sebagian paling tidak memberi bobot berat pada perlunya timbal balik, dan dengan melihat timbal balik ini bukan hanya dengan implikasi normatifnya, tetapi juga dengan implikasi strukturalnya karena norma timbal-balik tersebut akan memastikan sistem komunikasi bisa berfungsi dimana bakat-bakat dipertimbangkan.
Kasusnya larinya Datu, menguatkan kedudukan perempuan yang menurut Lévi-Strauss (1969) menempati fungsi yang fundamental. Suatu tinjauan kritis kiranya pada tempatnya diberikan di sini, menurut Van Baal (1988) Lévi-Strauss merefleksikan realisme yang dalam dan mendasar. Memang dalam perkawinan perempuan dijadikan pertukaran, tetapi tidak serta merta berarti perempuan menjadi objek. Lebih lanjut dijelaskan, perempuan membiarkan dirinya dipertukarkan dan dengan itu mewajibkan saudara laki-lakinya untuk memelihara relasi yang permanen dengan dirinya dan anak-anaknya, serta memelihara hubungan matrilineal yang melintasi hubungan patrilineal. Jadi perempuan telah menciptakan kewajiban dalam hubungan kekerabatan.
Kemudian bisa jadi muncul pertanyaan mengapa insest yang dilarang? Di sinilah “Pemberian” Mauss menjadi penting. Bahwa manusia tidak hidup sendiri atau makhluk sosial. Kembali mengutip Van Baal (1988) Manusia harus memperlihatkan sifat timbal balik sebagai satu-satunya ketentuan umum yang mungkin dalam pergaulan antar manusia. Ketentuan timbal-balik tidak hanya bersifat umum, tetapi juga merupakan struktur yang khas dari jiwa yang berfikir secara berpasangan dan yang saling berlawanan serta mencari keseimbangan kesatuan dalam pasangan yang dimana menampakkan dirinya.
Pada akhir kisah Patih, kita melihat suatu jalan keluar yang dilakukan. Patih menikah dengan seorang perempuan di kampungnya (endogami) sedangkan Datu, nampaknya memilih orang luar (eksogami). Terhindarlah mereka dari perkawinan sedarah, dan sebenarnyalah dalam sastra lisan rakyat, terdapat kearifan-kearifan lokal. Kini, menjadi tugas kita semua menggali untuk memaknai pesan-pesan yang terkandung di dalamnya.
.

Read Full Post »

Wanita Bakumpai

Wanita Bakumpai Riwayatmu Kini
(Potret Wanita Pekerja Bakumpai Sepanjang DAS Barito)
Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito menjadi tempat tersendiri untuk etnis Bakumpai. Sungai yang membentang sepanjang ratusan kilometer membelah wilayah Kal-Sel dan Kal-teng mampu menyediakan beraneka sumber daya lam bagi kelangsungan hidup penduduk yang tinggal di sekitarnya.
Masyarakat Bakumpai dari wilayah Batola hingga Murung Raya sampai saat ini, sebagian besar wilayahnya belum ada hubungan jalur transportasi darat. Masyarakat Bakumpai menggantungkan hidup mereka pada usaha pertanian, hutan dan perikanan sehingga jarang ada penduduk yang melakukan migrasi (bhs Banjar. Madam) bekerja ke luar daerah, mengingat lahan pekerjaan telah tersedia. Namun yang menjadi masalah adalah kerja keras tanpa hasil yang memadai.
Bila ditinjau kembali dari sektor pertanian, maka masyarakat Bakumpai memiliki keterikatan sesama yang sangat kental. Diperkuat oleh pendapat Totok Mardikanto (1993) bahwa petani di pedesaan umumnya memiliki hubungan sosial yang sangat erat kaitannya satu dengan yang lain. Hal ini terjadi, bukan saja karena masih memiliki hubungan kekerabatan dalam satu sistem keluarga yang luas (extended-family), tetapi sifat pekerjaan dari usahatani yang mereka lakukan seringkali menuntut kerjasama dan kesepakatan bersama.
Menarik untuk dibahas adalah campur tangan wanita Bakumpai yang bekerja sepenuhnya. Penulis menyadari meskupun ada begitu banyak tulisan membicarakan tentang eksistensi wanita, misalnya emansipasi atau pun gender ternyata studi tentang wanita Bakumpai tidak ada sama sekali.
Padahal apa yang dilakukan wanita Bakumpai dalam bekerja mudah sekali didapatkan manakala menelusuri sepanjang DAS Barito. Sebenarnya Wanita Bakumpai memiliki kesamaan dengan wanita yang lain mereka hidup dan berkeluarga, perbedaannya meskipun pada wanita Minang misalnya, menurut Arini (BPost 12-04-02) mempunyai fungsi lebih yakni menjaga harta pusaka keluarga. Tetapi bagi wanita Bakumpai lebih dari itu yakni ikut serta alam mengumpulkan harta sebagai nafkah hidup dengan menjadi wanita pekerja.
Bukan Pekerjaan Mudah
Tulisan ini menggambarkan kehidupan wanita pekerja Bakumpai tanpa mengesampingkan keberadaan kaum laki-laki. Selama ini bekerja keras adalah dominasi mereka, anggapan ini akan berubah ketika kita menemukan kehidupan wanita Bakumpai yang terlihat jelas sepanjang Sungai Barito, terutama daerah pedesaan. Sebagaimana diketahui hasil hutan seperti gelondongan kayu diproduksi untuk menjadi papan, dengan adanya pabrik penggergjian kayu (selain industri besar di Muara Barito) bertebaran sepanjang DAS Barito yang disebut dengan Sirkal oleh penduduk setempat.
Pekerjaan menaikkan gelondongan kayu ke atas galangan bukanlah pekerjan mudah, namun oleh wanita-wanita ini dikerjakan sekuat tenaga tanpa kenal lelah. Tambang yang dipakai untuk menarik gelondongan kayu hampir sebesar pergelangan tangan anak kecil, menjadi kencang dan perlahan-lahan gelondongan kayu itu menggelinding ke atas galangan, hingga terkumpul berpuluh-puluh jumlahnya.
Mereka tidak hanya menarik gelondongan kayu, tetapi menggangkat potongan-potongan kayu yang tidak terpakai, pekerjaan di penggergajian kayu ini benar-benar memerlukan ketahanan fisik yang kuat. Wanita Bakumpai juga tidak semuanya melakukan pekerjaan ini.
Pekerjaan ini adalah mencari rotan (bhs bakumpai = manetes), dengan merambah hutan, menebas semak belukar, mengoyak duri-duri rotan dengan parang yang tajam, namun sayangnya rotan tersebut tidak tersedia begitu saja, mengambil batang rotan yang menjulang keatas melingkar di pohon-pohon yang tumbuh sekitarnya. Haruslah ditarik pula bahkan tidak jarang mereka harus menaiki pohon untuk mendapatkan rotan-rotan tersebut.
Bahaya yang didapat tentunya tidak sedikit, kecelakaan berupa terluka akibat parang yang digunakan, ditimpa dahan patah bahkan ancaman sengatan binatang berbisa seperti lebah merupakan resiko yang harus dihadapi, belum lagi harus merelakan tangan-tangan halus itu berubah menjadi kasar. Demi mendapatkan berpuluh kilogram rotan-rotan yang dikumpulkan.
Kebanyakan pula dilakukan wanita Bakumpai adalah bertani, mereka turut bersama kaum pria bekerja sepenuhnya di sawah karena bertani menghasilkan sesuatu yang pokok bagi kehidupan, namun hal ini banyak juga dilakukan oleh berbagai etnis lainnya seperti etnis Banjar.
Mencari purun untuk diolah menjadi tikar adalah pekerjaan yang mudah di antara jenis pekerjaan yang dilakukan, namun memerlukan ketelatenan. Menganyam tikar purun yang sering dilakukan wanita Bakumpai bahkan dikerjakan hingga larut malam bagi ibu rumah tangga dijadikan selingan sambil menidurkan anak.
Begitulah yang dilakukan wanita Bakumpai, masih banyak sebenarnya pekerjaan yang dilakukan dan berapa pun hasil yang didapatkan mereka, tidak menutup kenyataan merupakan pekerjaan berat bagi kaum wanita Bakumpai dan setali tiga uang dengan kenyataan yang dihadapi masyarakat Bakumpai sendiri. Dalam situs google.com tertulis the Bakumpai also need more medical attention, clinics and medical personnel. In addition to this, the development of their transportation fleet along the river and improvement of their handiwork skilss would greatly help in improving their income.
Kebutuhan (sekaligus sebagai kekurangan ) masyarakat Bakumpai ternyata terletak pada pelayanan kesehatan, klinik dan kesehatan pribadi. Sekaligus perkembangan transportasi sungai, bahkan menurut H Iskandar Atak Gantang (BPost 18/4) masalah kanal Barito yang terletak di Desa Penda Ansem yang dibuat tentara Jepang dahulu membuat jalur transportasi sulit, ditandai derasnya arus Barito, sehingga terjadinya abrasi. Hal ini menyulitkan suplai sembako ke daerah hulu Barito.
Belum lagi minimnya kemampuan tangan-tangan terampil dari kaum intelektuan maupun penduduk setempat yang diharapkan mampu menambah pemasukan.
Umur Wanita Pekerja
Kebanyakan wanita Bakumpai yang bekerja seperti ini ternyata sudah berumahtangga, bahkan seorang wanita tua yang mempunyai beberapa orang cucu, harus duduk manis berkayuh jukung di pagi buta, sementara asap mengepul seperti lokomotif dari tempat pengasapan untuk mengusir nyamuk yang siap mengisap darah tuanya. Ia bekerja untuk diri sendiri dan juga merupakan tradisi. Tak terbayangkan betapa lelahnya ketika kembali menjelang matahari terbenam.
Bagi wanita yang telah menginjak usia remaja, mampu bekerja tapi secara psikologis tampak agak malu-malu atau gengsi dan kebanyakan mereka tidak bisa menikmati masa remajanya seperti anak seusia mereka pada umumnya.
Hanya sedikit yang di antara mereka yang mampu melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi Padahal menurut ZA Maulani (2000) tidak ada keraguan sedikit pun, tingkat pendidikan seseorang berperan meningkatkan pendapatan yang bersangkutan. Penulis beranggapan hal demikian diperparah oleh keterbatasan dana, masalah jarak dan transportasi yang sulit. Didukung pula dengan keterbiasaan puas dengan apa adanya.
Wanita Bakumpai sebagai ibu rumahtangga menempati posisi yang benar-benar harus bertanggung jawab, dalam urusan ini mereka tidak hanya dituntut mengurus dapur dan merawat anak, juga bekerja. Kaum laki-laki sebenarnya tak kalah keras berjibaku memenuhi kewajibannya sebagai kepala rumahtangga. Namun turun tangannya wanita Bakumpai mau tidak mau harus diakui.
Demikianlah kehidupan wanita pekerja etnis Bakumpai. Sejak dulu sampai sekarang, riwayatnya sama saja dan kebanyakan dari kita sepertinya tidak peduli.
http://www.indomedia.com/bpost/092002/5/opini/opini2.htm

Read Full Post »

(Mengenang ZA Maulani)
“Republik ini melupakan, pendiri pasukan payung pertama cikal bakal Kopaskhas dari TNI AU adalah seorang anak Dayak asli bernama Tjilik Riwut.” (ZA Maulani, 2005: 99)
Kutipan di atas, saya ambil dari buku Melaksanakan Kewajiban Kepada Tuhan dan Tanah Air Memoar Seorang Prajurit TNI, yang mengilhami saya untuk melihat kembali perhatian Zaini Azhar Maulani (Pak Zen) tentang sesama manusia Dayak maupun terhadap Kalimantan.
Begitu teliti perhatiannya, sehingga Pak Zen tak melupakan Tjilik Riwut dan tokoh lain dalam memoarnya yang diterbitkan setelah beliau meninggal dunia. Alangkah indahnya jika sesama tokoh Kalimantan, saling membahu memperjuangkan tanah kelahirannya untuk menuju kemajuan terlepas dari segala atribut dan golongan mana pun.
Satu tahun lalu, tepatnya Selasa 5 April 2005 pukul 16.20 WIB, Zaini Azhar Maulani (Pak Zen) seorang putra terbaik bangsa Indonesia berasal dari Marabahan Kalsel meninggalkan dunia. Sejak itu, ucapan duka belasungkawa baik dari institusi pemerintah, swasta maupun pribadi terpampang di pelbagai media massa.
Tahun itu juga, Budi Kurniawan, Setia Budhi dan saya menulis tentang Pak Zen. Tapi rasanya, masih tidak cukup tulisan itu. Saya merasa masih harus menulis untuk kembali mengenang, dengan harapan mendapatkan pelajaran dari kehidupan seorang tokoh dari daerah kita sendiri.
Inilah pentingnya mengaktulisasi tokoh Kalimantan, agar tidak ada benang merah yang putus antargenerasi. Saya malu pada pertemuan nonformal sekitar 2001 di kampus Fisip Unlam, yang dengan lugu bertanya: Siapakah Tjilik Riwut? Setia Budhi dosen Fisip, sembari tersenyum menjelaskan dengan singkat dan jelas, beberapa orang teman aktivis mahasiswa juga turut menyimak. Entahlah, apakah mereka sama tidak tahunya seperti saya? Sejak saat itu saya bertekad, mengenal dan mengetahui tokoh dari Kalimantan.
Mengenai Tjilik Riwut, saya menjadi semakin mengenal melalui beberapa buku karyanya maupun riwayat hidupnya. Buku, Tjilik Riwut Berkisah Aksi Kalimantan dalam Tugas Operasional Militer Pertama Pasukan Payung Angkatan Udara Republik Indonesia yang diceritakan kembali oleh Nina Soseno puteri ketiga Tjilik Riwut, menceritakan operasi penerjunan payung pada 17 Oktober 1947 dan penerjunnya merupakan putra Kalimantan. Dalam hal ini, Pak Zen mempertegas peran dan jasa Tjilik Riwut.
Nasib Orang Dayak dan Kalimantan
Kembali tentang Pak Zen. Apa yang telah diperbuat seorang Zen terhadap tempat asalnya, tanah Kalimantan? Menjawab pertanyaan ini, dimulai dari pengalaman Pak Zen menjelang akhir pendidikan sebagai Taruna Akademi Militer Nasional Magelang, pada malam terakhir Kuliah Kerja Nyata di Desa Dangkel kecamatan Parakan Kabupaten Wonosobo di atas Gunung Sumbing.
Salah satu acaranya adalah Dayak-dayakan. Pesertanya melumuri tubuh dengan bubuk arang dan hitam mengkilat terkena sinar lampu. Cerita Pak Zen, aurat mereka hanya ditutupi janur kelapa. Mereka tampak seram dengan sebilah tombak di tangan sambil berteriak: “Huu huu. Huu.” Semuanya terhibur. Tapi penduduk baru tahu, ada orang Dayak sebenarnya dalam pasukan. Berita itu pun tersebar luas. Keesokan harinya penduduk penasaran dan mengintip, siapakah orang Dayak itu. Tidak ada orang yang berbeda dalam satu pleton pasukan. Yang ada hanya orang Dayak menjadi pemimpin pleton bernama ZA Maulani.
Mungkin dari peristiwa itulah hingga Pak Zen mengatakan: “Sebagian besar masyarakat Indonesia sampai hari ini memiliki kekeliruan persepsi tentang etnik Dayak.” Dalam Memoarnya, ia menjelaskan tentang Dayak dan menggambarkan penderitaan rakyat. Karena, tanah Kalimantan hanya menjadi daerah pemasok bahan mentah bagi tanah Jawa melalui proyek lahan Gambut Sejuta Hektare yang pada akhirnya proyek ini gagal.
Perhatiannya semakin fokus kepada Kalimantan, ketika Pak Zen menjabat sebagai Pangdam Tanjungpura. Salah satu butir pemikirannya ialah melindungi kepentingan rakyat sehubungan dengan investasi kapital berskala besar yang membanjiri Kalimantan agar tidak sampai kontra produktif. Yaitu, alih-alih memakmurkan rakyat Kalimantan malah memelaratkan.
Hal lain, menyadari jaringan transportasi jalan darat di Kalimantan sedemikian susahnya. Bersama empat gubernur di Kalimantan, diupayakan jalan keluarnya. Beberapa waktu lalu, agenda ‘Kalimantan Membangun’ berhasil dilaksanakan namun berujung kegagalan setelah masa jabatan Pak Zen berakhir pada 1991. Dalam memoarnya ia juga menulis: “Saya tidak menutup mata atas kegagalan yang kemudian menerpa impian ‘Kalimantan Membangun’. Terus terang, saya dengan pilu menyesalkannya. Semuanya itu terjadi karena hilangnya wadah konsultasi antara keempat gubernur se Kalimantan yang pernah ada.”
Selama menjabat pangdam, Pak Zen merasakan betul kesulitan masyarakat berkaitan dengan rotan. Medio 1990, Departemen Perdagangan RI mengeluarkan ketentuan yang isinya melarang eksport rotan basah, termasuk jenis webbing (anyam-anyaman basah). Akibat kebijakan ini, rakyat Kalimantan yang terpukul. Semula harga rotan Rp185.000 per kuintal, turun tajam mencapai harga Rp8.000 per kuintal.
Akibatnya, banyak industri rotan gulung tikar. Rakyat kehilangan pekerjaan dan ancaman kelaparan meledak, meliputi 60.000 mulut di pusat penghasil rotan Kalimantan, Kabupaten Barito Utara. Pak Zen memperjuangkan agar kabupaten Barito Utara diberikan dispensasi atas kebijakan itu, dengan menemui seorang pejabat yang menikmati masa santainya di hotel mewah Ambarukmo Palace Yogyakarta sementara rakyat tengah mengalami kelaparan. Ternyata, keputusan pemerintah tetap tidak berubah.
Perhatian Pak Zen terhadap Kalimantan tidak hanya saat menjabat sebagai Pangdam, tetap berlanjut ketika menjadi Kabakin atau ketua Kaukus Kalimantan. Ia mengutarakan ide ‘Kalimantan Bangkit’ setelah ‘Kalimantan Membangun’. Dengan mengatakan, ‘Kalimantan Bangkit’ hanya akan memiliki makna bila kita memiliki sumberdaya manusia bermutu didukung budaya yang kompatibel dan infrastruktur yang diperlukan. Terhadap daerah kelahirannya, ia mengajukan pemikiran Pembangunan Segitiga Barito yang meliputi Kabupaten Barito Kuala, Barito Selatan dan Barito Utara.
Semua yang saya tuliskan di sini, hanya sebuah gambaran dari seorang putra daerah yang memikirkan dan berusaha keras untuk kemajuan tanah kelahirannya. Masih banyak kiprah Pak Zen yang belum tercover.
Ketokohan seseorang tidak terletak pada ketinggian pangkat dan jabatan, kepintaran, kekayaan. Tetapi, bagaimana mendayagunakan semua itu untuk kepentingan orang banyak. Dan, seorang Zen saja tidak akan mampu menggapai ‘mimpi-mimpi’ itu. Tapi, ia telah merintis sebuah jalan membuka kemakmuran tanah Kalimantan dan kepedulian terhadap orang Dayak. Setelah ‘Kalimantan Membangun’ lalu ‘Kalimantan Bangkit’, kini apalagi. Apakah hanya bertahan di situ hingga Kalimantan ‘tertidur’ lagi, dan akhirnya kita kalah di kampung sendiri? Entahlah.http://www.indomedia.com/bpost/042006/5/opini/opini1.htm

Read Full Post »