Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Maret, 2014

Sala Faham

Kahandak nah manggilau paung lauk tahuman (Orheichepalus micropeltes) ji ganal, kareh mun tame huang karamba mangat dan barake maingu ei. Mun si lebu te ada beh pang baranakan tahuman, tagal halus banar kilau hidi. Paling ganal te kilau angking lenge atau kilau indu lenge te gin heka gilau ei. Kilau kate ukuran ei te, bahali mampakanan. Umpan harus inansang helu, hanyar manenga tahuman.

Dari pada repot maingu ji halus, tulak ai ikih batelu. Yaku, Apaku dan Gulu ku tulak kan daerah Bararawa, Danau Panggang. Auh hete paung tahuman ha’i-ha’i. Maka lumayan kejau, tau kiraku 4 jam hanyar sampai. Apalagi ikih bakalutuk ji mahapa masin Mitsubishi, pilian aruah ini tuwe nyelu 80-an. Mahalau lebu Hampelas, Kabuau, Jarenang, Asia Baru, Kuripan, Rimbun Tulang tarus beh kan ngaju. Imbah te tame kan huang Paminggir. (lebih…)

Iklan

Read Full Post »

Oleh: Nasrullah
Penulis Staf Pengajar PSP Sosiologi dan Antropologi
FKIP – Unlam

Ketika seorang anak tiba-tiba terjatuh saat bermain, respon orang tua yang melihat kejadian itu tentu segera menemui anaknya. Orang tua akan mengkhawatirkan akibat buruk pada anaknya, seperti memar atau bincul (trauma akibat benturan). Orang tua terutama ibu dengan penuh kasih sayang akan memeluk erat anaknya, sambil mengoles-oles bagian sakit dan mengucapkan “kurrrr sumangat anakku”. Bahkan sang ibu memberikan sugesti dengan mengucapkan, “taguh batu, Nak ai”.

Barito PUtera di ILC

Barito Putera ketika menjadi tuan rumah inter Island Cup

Ada juga reaksi sebaliknya terhadap orang yang ditimpa kemalangan. Alih-alih menunjukkan sikap empati malah mawada, atau maniwas yakni mempersalahkan korban dengan cara semacam perbuatan mengejek dan merendahkan. Biasanya orang seperti ini ingin menikmati saja dan cenderung setia saat keberhasilan, tetapi mudah meninggalkan ketika terpuruk. Namun, tulisan ini mengabaikan hal-hal negatif, karena akan lebih konstruktif jika melihat kur sumangat sebagai kearifan lokal ini diterapkan. (lebih…)

Read Full Post »

Oleh: Nasrullah
Staf Pengajar PSP Sosiologi dan Antropologi, FKIP Unlam

ProfileKebingungan tengah melanda kalangan pemilih untuk menentukan calon anggota legislatif (caleg) pada pemilu 2014. Ada yang mengatakan, “Mereka, para caleg itu, bukan orang jauh dari negeri antah berantah. Caleg justru dari orang-orang sekeliling kita. Mereka adalah sahabat karib, kolega, keluarga, relasi dan lain sebagainya”.

Dapat dibayangkan betapa dilematisnya pemilih, karena beberapa orang dekat menjadi caleg dalam satu daerah pemilihan. Padahal, pemilu adalah penguatan hubungan politis antara pemilih dengan caleg. (lebih…)

Read Full Post »

Oleh: Nasrullah
Staf Pengajar PSP Sosiologi dan Antropologi, FKIP Unlam

Semakin mendekati pemilu legislatif April 2014, semakin mudah pula kita menemukan wajah-wajah calon anggota legislatif (caleg). Ada yang muncul di bawah pepohonan, di batang pohon, di tepi sungai, di pinggir jalan, di sela-sela rerumputan, hingga dalam gang sempit.

Hampir di setiap tempat, ada wajah caleg yang tampil melalui spanduk, baliho, banner dan sebagainya (selanjutnya disebut media caleg). Bahkan, kalau bisa dilakukan, wajah caleg boleh jadi ada di angkasa yang menempel pada awan. (lebih…)

Read Full Post »