Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juli, 2018

Penulis bersama paman (tak terlihat dalam foto) menelusuri bekas lahan (padang galam) yang terbakar untuk menemukan jejak rusa. Foto diambil di kawasan desa Jambu Baru tanggal 30 Nopember 2014.

Oleh Nasrullah
Terbit di harian Kompas h.7, Hari Sabtu 9 Juni 2018

Bencana kebakaran lahan di Indonesia sebenarnya dapat diprediksi karena terjadi setiap tahun pada musim kemarau. Namun, praktik menghadapinya ternyata sangat sulit sebab ketidakmampuan manusia dalam mengantisipasi bencana secara sistematis.

Pada tataran popularitas, pembahasan akan sangat menarik ketika bencana kebakaran lahan sedang berlangsung. Sebaliknya, mendiskusikan lebih awal menunjukkan kesiapan mengantisipasi bencana. Karena itu, sebelum memasuki puncak musim kemarau, yang menurut prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika akan berlangsung pada Agustus dan September 2018, maka upaya pencegahan dapat dimulai pada saat ini atau menjelang akhir musim hujan. Di tingkat lokal, Kalimantan

Kesalahpahaman negara

Upaya pencegahan tersebut sangat rumit karena tak sekadar menyiramkan air ke lahan yang terbakar, juga terletak pada upaya melibatkan masyarakat setempat dalam merawat dan memanfaatkan lahan. Karena itu, negara jangan sampai mengulangi kesalahpahaman untuk mencegah kebakaran, apalagi memarjinalkan peran masyarakat setempat. Sebab, berbagai kajian tentang kebakaran lahan dan peladang menunjukkan kaitan erat antara siklus hidup masyarakat dengan lingkungannya. (lebih…)

Read Full Post »

Negara Sungai

Oleh Nasrullah

Terbit di Harian Kompas, h. 7, hari Rabu 14 Maret 2018

Penulis bersama penumpang, yang kebanyakan perempuan, menyusuri sungai Barito untuk menemui keluarga yang melaksanakan upacara perkawinan di kampung tetangga.

Gegap gempita dinamika politik di Tanah Air cenderung mengaburkan kepedulian kita terhadap lingkungan. Alhasil, bencana lingkungan yang sebenarnya begitu dirasakan akibatnya ternyata tidak ditanggulangi secara serius. Bencana ekologi seperti banjir, kemarau, kebakaran lahan merupakan siklus tahunan yang semestinya dapat dihindari atau paling tidak mampu diminimalkan.

Pada kenyataannya bencana seperti itu tak kunjung mendapatkan solusi tepat pada level nasional sebagai tindakan preventif. Penyebabnya tidak lain adalah kebijakan negara terlalu sibuk mengeksploitasi sumber daya alam. Melalui julukan Indonesia sebagai negara maritim dan negara agrarismenunjukkan betapa kuatnya semangat untuk memproduksi hasil bumi. Padahal, pada saat bersamaan kita mengabaikan bagaimana produksi hasil bumi bisa ada dan kemudian dinikmati secara berkelanjutan, yang dalam hal ini sungai sebagai ekologi yang selama ini dipandang sempit sebagai sarana transportasi belaka.

Peradaban sungai

Sejak masa lalu, sungai punya posisi vital dalam membentuk peradaban dunia. Sungai Nil, Sungai Indus, Sungai Gangga, hingga peradaban Sungai Eufrat dan Tigris adalah bukti nyata lahirnya peradaban besar dunia itu. Di sekitar aliran sungai tersebut muncullah negara-negara besar yang berpengaruh secara global. (lebih…)

Read Full Post »