Ditulis oleh baritobasin di/pada Desember 6, 2008

Sungai Barito dengan latar belakangan perkampungan penduduk
Jika Anda sering bepergian ke pegunungan untuk menikmati indahnya pemandangan alam dengan udara yang sejuk dan dingin. Dari tempat itu pula terlihat sawah membentang, rumah-rumah penduduk maupun gedung-gedung yang terlihat mengecil. Kalau malam hari terlihat cahaya lampu dari kejauhan berkelap-kelip. Atau pun jika Anda terbiasa pergi ke pantai, menikmati angin laut sepoi-sepoi, memandang gelombang laut yang bergulung-gulung. Sesekali Anda pergi berselancar, lalu kemudian istirahat dan berjemur di atas pasir putih. Di tepi pantai kala matahari menuju ufuk barat, keindahan laut akan semakin sempurna dengan melihat matahari sedikit demi sedikit tenggelam di dasar laut (sunset). Anda sudah menikmati dua tempat itu, yakni gunung dan laut tentu pilihan lain adalah datang ke perkotaan atau mengunjungi tempat-tempat keramaian, seperti mall dan plaza untuk membeli pakaian, buku-buku, menonton bioskop dan lain sebagainya.
Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Sungai | 2 Komentar »
Ditulis oleh baritobasin di/pada November 22, 2008
NGAJU, NGAWA, NGAMBU, LIWA
(LÉVI-STRAUSS’ STRUCTURALIST ANALYSIS OF DAYAK BAKUMPAI
SPATIAL CONCEPTUALIZATION AT THE BARITO RIVER)
Oleh : Nasrullah
Program Studi : Antropologi
Pembimbing : Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa-Putra, MA., M.Phil
Tanggal Wisuda : 29 Oktober 2008
The Barito River exists not only in its physical form, but also in the many meanings it possesses for the Bakumpai culture residing along the river. Empirically, this can be seen from the Bakumpai’s knowledge and experience on establishing orientation based on the flow of river. The Bakumpai have four directions: ngaju (upper course of the river), ngawa (lower course of the river), ngambu (land), and liwa (sea). This study is aimed at finding deeper meaning behind the Bakumpai’s spatial concept of the Barito River , probing beyond simple direction Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Uncategorized | 2 Komentar »
Ditulis oleh baritobasin di/pada November 10, 2008

Bersiap-siap untuk bekerja.
Dalam bahasa Bakumpai dikenal kata atau istilah mansan yang secara sederhana diartikan menetap sementara untuk bekerja. Namun, istilah ini barangkali mulai asing karena jarang digunakan apalagi oleh penutur Bakumpai yang tinggal di daerah perkotaan. Aktivitas mansan tetap dilakukan orang Bakumpai yang tinggal di pedesaan dan dalam kehidupan sehari-harinya mengolah SDA. Kata mansan mulai terbatas penggunaannya, padahal suatu bahasa akan hilang atau setidaknya mengalami perubahan apabila satu persatu istilah-istilah yang terkandung di dalamnya jarang digunakan, apalagi tidak diikat dalam sebuah kamus. Begitu pula dengan istilah mansan, saya tidak menemukannya dalam kamus Bakumpai Indonesia (lihat Kawi, Dj., 1985; Rangga, 2007). Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Uncategorized | 6 Komentar »
Ditulis oleh baritobasin di/pada September 9, 2008
Oleh : Nasrullah

Ketika tiba bulan Ramadhan, aku banyak menerima ucapan selamat menjalankan ibadah puasa yang dikirimkan melalui sms. Sms-sms itu bisa seperti pantun, hingga kutipan hadits. Namun, paling terasa adalah sms dari Juhaidi, temanku yang studi S3 di Bandung, “TITIK banyu mata mangganang buka puasa dan sunset tepian Barito” (Menetes air mata mengingat berbuka puasa dan matahari tenggelam di tepian Sungai Barito). Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Marabahan | 1 Komentar »
Ditulis oleh baritobasin di/pada September 9, 2008
Saur … saur …. saur….
Penjaga masjid yang disebut kaum (penjaga masjid), salah satu tugasnya pada bulan Ramadhan membangunkan orang untuk makan sahur. Ia berjalan kaki dari ujung desa hulu hingga hilir, dan memanggil setiap penghuni rumah dan baru berhenti memanggil apabila ada sahutan dari dalam rumah. Setelah itu, kaum (penjaga masjid) akan membangunkan penghuni rumah berikutnya. Orang atau penghuni rumah yang tidak menyahut panggilan kaum (penjaga masjid) untuk sahur dianggap tidak sopan. Oleh karena itu, kaum (penjaga masjid) memiliki wewenang untuk terus memanggil orang tersebut hingga ada sahutan. Bagi kaum (penjaga masjid) sendiri membangunkan orang tidur untuk makan sahur merupakan tanggung jawab dari tugasnya. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »