Feeds:
Tulisan
Komentar

Arsip untuk ‘Uncategorized’ Kategori

Jika Golput Harus Memilih

Oleh: Nasrullah
Staf Pengajar PSP Sosiologi dan Antropologi, FKIP Unlam

ProfileKebingungan tengah melanda kalangan pemilih untuk menentukan calon anggota legislatif (caleg) pada pemilu 2014. Ada yang mengatakan, “Mereka, para caleg itu, bukan orang jauh dari negeri antah berantah. Caleg justru dari orang-orang sekeliling kita. Mereka adalah sahabat karib, kolega, keluarga, relasi dan lain sebagainya”.

Dapat dibayangkan betapa dilematisnya pemilih, karena beberapa orang dekat menjadi caleg dalam satu daerah pemilihan. Padahal, pemilu adalah penguatan hubungan politis antara pemilih dengan caleg. (lebih…)

Read Full Post »

Oleh: Nasrullah
Staf Pengajar PSP Sosiologi dan Antropologi, FKIP Unlam

Semakin mendekati pemilu legislatif April 2014, semakin mudah pula kita menemukan wajah-wajah calon anggota legislatif (caleg). Ada yang muncul di bawah pepohonan, di batang pohon, di tepi sungai, di pinggir jalan, di sela-sela rerumputan, hingga dalam gang sempit.

Hampir di setiap tempat, ada wajah caleg yang tampil melalui spanduk, baliho, banner dan sebagainya (selanjutnya disebut media caleg). Bahkan, kalau bisa dilakukan, wajah caleg boleh jadi ada di angkasa yang menempel pada awan. (lebih…)

Read Full Post »

Atas Nama Kebudayaan

Oleh: Nasrullah

Akhir-akhir ini istilah ‘kebudayaan’ begitu ramai dibicarakan, bahkan menjadi trending topic karena selalu diletakkan dalam berbagai kegiatan. Istilah ‘kebudayaan’ tersebut dapat dilihat dalam berbagai baliho yang berukuran kecil hingga raksasa, dilekatkan dalam berbagai kegiatan dari menari, menyanyi, hingga masuk dalam kancah kegiatan festival besar. Pokoknya kebudayaan seperti benda pajangan dalam etalase toko yang dapat dilihat, dipegang dan dibeli untuk kepentingan apapun. Jika kebudayaan menjadi sedemikian fleksibel, dapat menyeruak dalam segala lini maka menjadi pertanyaan penting, fenomena (kebudayaan) apakah yang terjadi saat ini? Penulis membahasnya dalam sudut pandang antropologi sebagai ilmu mempelajari kebudayaan. (lebih…)

Read Full Post »

Oleh: Nasrullah

Selama perjalanan darat dari kota Tenggarong, Kutai Kartanegara menuju kota Sendawar, Kutai Barat yang memakan waktu sekitar enam jam, seolah membaca buku cerita yang terbuka tentang bumi Kalimantan. Sepanjang jalan pandangan mata terpaku pada pepohonan kecil yang berusaha bangkit dari nestapa rimba raya Kalimantan yang telah digergaji dan ibabat habis. Tak ubahnya tukang gunting memotong rambut para narapida hingga meninggalkan bentuk yang tak jelas.

Cerita tentang kemakmuran hutan Kalimantan Timur dan pulau Kalimatan pada umumnya, hanyalah milik para pemodal. Begitu pohon telah habis, gampang saja mereka mengangkat koper tanpa harus menoleh ke belakang. Entah berapa lama masyarakat Dayak harus survive untuk melewati masa recovery hingga pepohonan kembali menjulang ke langit dan akarnya kokoh mencengkram ke bumi. Kita tidak akan bisa menebak dibutuhkan waktu 50 tahun, 100 tahun atau lebih agar alam Kalimantan kembali kepada seperti semula. (lebih…)

Read Full Post »

Kisah yang Senasib

Oleh: Nasrullah

 Judul, ide dan pengalaman yang berbeda cerita berbeda pula. Apalagi bagi kaum sastrawan tak akan sudi diatur-atur. Namun, entah kenapa perbedaan itu hanya pada tataran permukaan. Inilah yang terjadi dalam buku Di Perbatasan Kota Bunga Kumpulan Cerpen Borneo. Duabelas cerpen dari duabelas orang pengarang yang berbeda nyaris berkisah tentang hal yang sama: kematian. Entah dalam bentuk kiasan atau pun cerita sebenarnya, tetapi begitulah kenyataannya.

Cerpen berjudul Ayah Kami karya cerpenis Serawak, Poul Nanggang menceritakan sikap kaku seorang Ayah yang bertahan dengan tradisi pengobatan tradisional. Konflik muncul antara Ayah dan anak yang ingin membawanya ke rumah sakit. Aku sanggup mendukung ayah. Ayah juga menolak. Aku sanggup ayah dengan “joli” yang dipinjam dari Su Runting, juga ditolak ayah kerana nyawanya tidak mampu bertahan. Akhirnya, ayah mengarahkan Aku memanggil Yaki Yampil, seorang pengamal perubatan tradisi Bisaya (h. 5). (lebih…)

Read Full Post »

Oleh M Syaifullah

Sumber Teks dan Foto dari Kompas

”Pak, mohon dibacakan doa selamat bagi keluarga kami,” Itulah kira-kira permintaan seorang ibu yang disampaikan dalam bahasa Dayak Bakumpai bercampur Banjar saat bertamu ke H Idrus di rumahnya di Jalan Arya Bujangga, Berangas Timur, Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, beberapa waktu lalu.

(lebih…)

Read Full Post »

Generasi Kuriding (Patah)

Tiga orang pemain Kuriding dari Ngaju Kantor (ulu Benteng), Marabahan, Kalsel

Tangan kirinya memegang tali pendek melingkar yang menahan bilah kayu itu agar menempelkan di mulut. Tangan kanannya menarik-narik tali panjang yang diikat pada ujung bilah sebelahnya. Terdengar seperti suara angin menderu-deru, diiringi bunyi menghentak-hentak berirama teratur. (lebih…)

Read Full Post »

Setelah beberapa kali melalui Anjir jalan trans Kalimantan (selanjutnya disebut trans Kalimantan saja) sepanjang kurang lebih 30 km antara Anjir Muara, Anjir Pasar hingga Anjir Serapat ternyata memberikan pengalaman dan kesan tersendiri bagi kita. Hal tersebut terjadi karena perbedaan kondisi badan jalan dan lingkungan sekitarnya. Bahkan nyaris sejengkal saja melewati pintu gerbang sebagai salah satu tapal batas propinsi sudah terasa perbedaan antara jalan mulus dan tidak rata. (lebih…)

Read Full Post »

Makna Sakit Bagi Orang Bakumpai

Sebelum membahas makna haban (sakit) bagi orang Bakumpai, terlebih dahulu diketahui tingkatan dan bagian haban, penyebab haban dan cara menangani orang yang sedang haban. Adapun haban sendiri adalah suatu gejala tidak sehat yang dirasakan oleh tubuh sebagai media untuk merasakan sakit, tapi haban masih bersifat umum. Secara khusus haban diketahui dari tingkatannya. Dari yang ringan yakni haban budas/biasa, tingkat sedang yang disebut haban kakate beh, hingga tingkat kritis yakni haban hawas. Haban biasa misalnya sakit kepala, sakit panas, kecapekan, dan lain sebagainya. Haban kakate beh artinya sakit yang dialami seseorang yang sering diidapnya, misalnya orang tersebut sering sakit mag sehingga ketika seseorang tersebut terkena sakit yang sama dianggap sudah menjadi penyakit biasa. (lebih…)

Read Full Post »

Abstrak Tesisku

NGAJU, NGAWA, NGAMBU, LIWA

(LÉVI-STRAUSS’  STRUCTURALIST ANALYSIS OF DAYAK BAKUMPAI

SPATIAL CONCEPTUALIZATION AT THE BARITO RIVER)

Oleh                        :  Nasrullah

Program Studi         :  Antropologi

Pembimbing            :  Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa-Putra, MA., M.Phil

Tanggal Wisuda      :  29 Oktober 2008

The Barito River exists not only in its physical form, but also in the many meanings it possesses for the Bakumpai culture residing along the river. Empirically, this can be seen from the Bakumpai’s knowledge and experience on establishing orientation based on the flow of river. The Bakumpai have four directions: ngaju (upper course of the river), ngawa (lower course of the river), ngambu (land), and liwa (sea). This study is aimed at finding deeper meaning behind the Bakumpai’s spatial concept of the Barito River , probing beyond simple direction (lebih…)

Read Full Post »

Older Posts »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.