Setelah beberapa kali melalui Anjir jalan trans Kalimantan (selanjutnya disebut trans Kalimantan saja) sepanjang kurang lebih 30 km antara Anjir Muara, Anjir Pasar hingga Anjir Serapat ternyata memberikan pengalaman dan kesan tersendiri bagi kita. Hal tersebut terjadi karena perbedaan kondisi badan jalan dan lingkungan sekitarnya. Bahkan nyaris sejengkal saja melewati pintu gerbang sebagai salah satu tapal batas propinsi sudah terasa perbedaan antara jalan mulus dan tidak rata. Baca entri selengkapnya »
Arsip untuk ‘Uncategorized’ Kategori
Wajah Kalsel – Kalteng di Perbatasan (Catatan di Anjir Jalan Trans Kalimantan)
Ditulis oleh baritobasin di/pada Juni 20, 2009
Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »
Makna Sakit Bagi Orang Bakumpai
Ditulis oleh baritobasin di/pada Mei 20, 2009
Sebelum membahas makna haban (sakit) bagi orang Bakumpai, terlebih dahulu diketahui tingkatan dan bagian haban, penyebab haban dan cara menangani orang yang sedang haban. Adapun haban sendiri adalah suatu gejala tidak sehat yang dirasakan oleh tubuh sebagai media untuk merasakan sakit, tapi haban masih bersifat umum. Secara khusus haban diketahui dari tingkatannya. Dari yang ringan yakni haban budas/biasa, tingkat sedang yang disebut haban kakate beh, hingga tingkat kritis yakni haban hawas. Haban biasa misalnya sakit kepala, sakit panas, kecapekan, dan lain sebagainya. Haban kakate beh artinya sakit yang dialami seseorang yang sering diidapnya, misalnya orang tersebut sering sakit mag sehingga ketika seseorang tersebut terkena sakit yang sama dianggap sudah menjadi penyakit biasa. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Uncategorized | 1 Komentar »
Abstrak Tesisku
Ditulis oleh baritobasin di/pada November 22, 2008
NGAJU, NGAWA, NGAMBU, LIWA
(LÉVI-STRAUSS’ STRUCTURALIST ANALYSIS OF DAYAK BAKUMPAI
SPATIAL CONCEPTUALIZATION AT THE BARITO RIVER)
Oleh : Nasrullah
Program Studi : Antropologi
Pembimbing : Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa-Putra, MA., M.Phil
Tanggal Wisuda : 29 Oktober 2008
The Barito River exists not only in its physical form, but also in the many meanings it possesses for the Bakumpai culture residing along the river. Empirically, this can be seen from the Bakumpai’s knowledge and experience on establishing orientation based on the flow of river. The Bakumpai have four directions: ngaju (upper course of the river), ngawa (lower course of the river), ngambu (land), and liwa (sea). This study is aimed at finding deeper meaning behind the Bakumpai’s spatial concept of the Barito River , probing beyond simple direction Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Uncategorized | 2 Komentar »
Nilai Mansan dalam Tradisi Intelektual Bakumpai
Ditulis oleh baritobasin di/pada November 10, 2008
Dalam bahasa Bakumpai dikenal kata atau istilah mansan yang secara sederhana diartikan menetap sementara untuk bekerja. Namun, istilah ini barangkali mulai asing karena jarang digunakan apalagi oleh penutur Bakumpai yang tinggal di daerah perkotaan. Aktivitas mansan tetap dilakukan orang Bakumpai yang tinggal di pedesaan dan dalam kehidupan sehari-harinya mengolah SDA. Kata mansan mulai terbatas penggunaannya, padahal suatu bahasa akan hilang atau setidaknya mengalami perubahan apabila satu persatu istilah-istilah yang terkandung di dalamnya jarang digunakan, apalagi tidak diikat dalam sebuah kamus. Begitu pula dengan istilah mansan, saya tidak menemukannya dalam kamus Bakumpai Indonesia (lihat Kawi, Dj., 1985; Rangga, 2007). Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Uncategorized | 6 Komentar »
Orang Dayak Berpuasa (bagian 2)
Ditulis oleh baritobasin di/pada September 9, 2008
Saur … saur …. saur….
Penjaga masjid yang disebut kaum (penjaga masjid), salah satu tugasnya pada bulan Ramadhan membangunkan orang untuk makan sahur. Ia berjalan kaki dari ujung desa hulu hingga hilir, dan memanggil setiap penghuni rumah dan baru berhenti memanggil apabila ada sahutan dari dalam rumah. Setelah itu, kaum (penjaga masjid) akan membangunkan penghuni rumah berikutnya. Orang atau penghuni rumah yang tidak menyahut panggilan kaum (penjaga masjid) untuk sahur dianggap tidak sopan. Oleh karena itu, kaum (penjaga masjid) memiliki wewenang untuk terus memanggil orang tersebut hingga ada sahutan. Bagi kaum (penjaga masjid) sendiri membangunkan orang tidur untuk makan sahur merupakan tanggung jawab dari tugasnya. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »
