(Renungan di Hari Jadi Kabupaten Batola)
Oleh: Nasrullah
Setiap tanggal 4 Januari, pemerintah daerah merayakan hari jadi kabupaten Barito Kuala (Batola) yang pada tahun ini menginjak usia 52 tahun. Namun, di balik perayaan itu tersimpan pertanyaan tentang usia Marabahan, ibukota Batola. Tentu saja untuk mendapatkan jawaban usia kota Marabahan, menjadi wewenang sejarawan. Namun, menggunakan fakta sejarah akan menunjukkan usia kota Marabahan lebih tua dari usia Batola bahkan kemungkinan lebih tua dari kota Banjarmasin yang berusia lebih dari setengah abad.
Wacana pelacakan sejarah kota Marabahan bukan persoalan barabut tuha, bukan pula agar ada perayaan hari jadi ibukota kabupaten. Namun, lebih menekankan pada aspek manfaat: rasa percaya diri, serta sebagai dorongan berprestasi (need for achievement).
Fakta Marabahan sebagai kota tua yang bersejarah dapat dilihat beberapa tulisan dari sejarawan maupun dari antropolog melalui mitos serta bukti fisik bangunan berkaitan dengan sejarah. Letak kota Marabahan yang strategis karena berada di simpang tiga sungai Barito menghubungkan ke hulu Barito, Banjarmasin dan Margasari menjadi catatan ekspedisioner Denmark bahwa tempat ini menjadi lokasi perdagangan internasional di masa kerajaan Banjar (dalam Maulani, 2000). Di Marabahan pada masa lalu diperjualkan produk dari tanah Siang dan Murung melalui perdagangan sungai dengan berjejernya ratusan perahu dan rakit raksasa (Sjamsuddin, 2001).
Fakta ini mengisyarakatkan Marabahan menjadi kota besar sebelum kerajaan Banjar di Kuin, sebab begitu Pangeran Samudera menjadi raja, perdagangan di Marabahan dialihkan ke Banjarmasin sehingga bandar Marabahan berangsur-angsur menjadi sepi. Inilah konsekwensi logis pusat keramaian selalu berada di ibukota kerajaan. Juga membuktikan usia kota Marabahan ada sejak masa pra kerajaan Banjar, boleh jadi pada masa kerajaan Hindu yakni kerajaan Daha dan Negara Dipa.
Bukti lain menunjukkan tidak hanya kota Marabahan saja yang bernilai sejarah. Ternyata daerah sekitar kota Marabahan juga menjadi kisah penting. Diceritakan dalam buku klasik Hikayat Banjar, Lambung Mangkurat ketika bertapa di sungai Barito muncullah puteri Junjung Buih untuk menemuinya. Mitos ini pula menjadi sejarah bermulanya kain sasirangan yang sekarang dipakai sebagai kebanggaan masyarakat Kalimantan Selatan.
Mitos ini menceritakan situs pertapaan Lambung Mangkurat, sebagaimana dalam Kisah Lambung Mangkurat dan Raja Banjar. Pada saat bertapa, oleh dewata diberi seorang puteri yang muncul ke permukaan air di teluk Babuih yang kemudian puteri ini diberi nama Puteri Junjung Buih yang diambil dari nama tempat munculnya (Syukur, 2003:16). Letak situs pertemuan Lambung Mangkurat dan Puteri Junjung Buih ini berada di perbatasan desa Balukung kecamatan Bakumpai dan Jambu-Baru kecamatan Kuripan atau sekitar 20 km dari kota Marabahan. Penduduk setempat menyebutnya ulek babuih. Pesan penting dari mitos Junjung Buih bukanlah terletak dari benar-salahnya mitos tersebut, tetapi dari mitos saja menunjukkan daerah sekitar Marabahan telah menjadi bagian terpenting dalam sebuah cerita besar cikal bakal kekerabatan kerajaan Banjar. Kalau saja situs yang terdapat dalam mitos itu dapat dikelola dan “dijual”, niscaya menjadi daya tarik wisatawan untuk mengunjunginya dan mendapatkan nilai keuntungan baik pemerintah Batola dan masyarakat sekitarnya
Dari segi arsitektur juga menunjukkan Marabahan adalah kota tua melalui perbandingan antara rumah adat Banjar dan Bakumpai yang dapat diperhitungkan usia lebih muda dan tua. Menurut Mentayani terdapat begitu banyak sebaran rumah Banjar di daerah Bakumpai, Marabahan (2008: 54-64). Fenomena ini mengundang pertanyaan, salah satunya adalah apakah gejala ini hanya sekedar fenomena rumah pendatang ataukah ada hubungan arsitektural? Hasil penelitiannya menyimpulkan, antara rumah adat Banjar dan rumah adat Bakumpai di kota Marabahan terdapat hubungan kesamaan fisik arsitektural dan diperkuat dengan bukti-bukti sejarah.
Walaupun terdapat kesamaan, menurut Mentayani, arsitektur tradisional yang berkembang di Suku Bakumpai terlihat lebih sederhana. Namun demikian, kesederhanaan ini justru menunjukkan bahwa arsitektur tradisional Suku Bakumpai lebih tua usianya, lebih awal perkembangannya, dan berbagai elemen komponen arsitektural belum berkembang sebagaimana yang terdapat di wilayah suku Banjar.
Selain fakta dari sejarah dagang, mitos, dan arsitektur masa lampau. Ternyata kota Marabahan memiliki sejarah perekonomian sebagai penghasil tikar purun dan tikar kajang serta menyimpan dokumentasi bersejarah di perpustakaan asing. Menurut R. Broersma, antara tahun 1916 hingga 1922, Marabahan telah mengekspor belasan juta tikar melalui pelabuhan Banjarmasin. Puncak ekspor pada tahun 1920 yakni lebih dari 13 juta lembar tikar dengan nilai 380 ribu Gulden (dalam Susilawati, 2004: 54).
Penelusuran data melalui internet, kota Marabahan mendapat perhatian dari pihak asing. Penulis mendapatkan dokumentasi foto-foto kota Marabahan diambil antara tahun 1908 dan 1920 berupa masjid, kantor pemerintahan Belanda dan sekolah pemerintah yang dipublikasikan oleh perpustakaan University of Southern California. Bukti seperti ini juga menunjukkan kalau Marabahan baik dari sejarah dan fungsinya merupakan kota penting di masa lalu.
Kiranya dengan menggunakan bukti-bukti sejarah yang penulis paparkan, dapat menjadi bukti awal betapa bersejarah dan pentingnya kota Marabahan di masa lampau. Namun melacak sejarah Marabahan bukanlah berhenti dengan data yang sedikit ini, serta hanya sekedar menemukan angka tahun yang menunjukkan sebagai kota tua. Melacak sejarah sebuah kota, bukan sebuah keinginan untuk bernostalgia ke masa silam atau pun kebanggaan belaka.
Sejarah adalah sesuatu yang telah berlalu, tapi setiap peristiwa penting di masa lalu dapat membangkitkan muruah atau harga diri penduduk kota di masa sekarang. Mengetahui sejarah kota Marabahan, sebagaimana pendapat Taufik Ismail dalam kata pengantarnya pada buku Banten dan Pergulatan Sejarah bahwa “beginilah perjalanan sejarah, tetapi pesan apakah yang didapatkan, dan kemana masa depan harus diarahkan?” Tentu hal demikian terjadi pula pada sejarah kota Marabahan yang belum diketahui secara pasti hingga sekarang. Jadi menggali sejarah kota Marabahan sebagai upaya mundur ke belakang (masa lalu) untuk melompat lebih jauh, demi meraih percepatan kemajuan di Kabupaten Barito Kuala.
Insya Allah.
Terbit di Harian Mata Banua, 4 Januari 2012