Oleh: Nasrullah
Judul buku : Demokrasi dan Pembangunan Daerah
Penulis : Z.A. Maulani
Penerbit : Pustaka Pelajar dan CRDS
Halaman : 187+xx
Tahun Terbit : 2000 (Cetakan kedua)
Beberapa waktu lalu Dewan Adat Dayak Nasional (DADN) menggelar kongres di Kalimantan Tengah. Kekawatiran utama peserta kongres adalah hak tanah adat milik masyarakat Dayak. Namun, persoalan ini sebenarnya telah dirasakan oleh Maulani dalam buku Demokrasi dan Pembangunan Daerah, selain membahas persoalan global dan nasional, persoalan daerah juga menjadi perhatian penting.
Selain persoalan konflik antar etnis yang berlangsung di Kalbar dan Kalteng serta pecah kerusuhan di Banjarmasin, persoalan nasib Dayak patut menjadi renungan bagi pembaca buku ini.
Persoalan utama yang terjadi di Kalimantan Tengah misalnya, yakni problem demografis. Selain masih langka sumberdaya manusia, terdapat pemukiman yang terpencar bahkan dihuni oleh 20 KK yang berimplikasi pada problem hirarkis, yakni hubungan antar daerah, kota maupun desa, belum membentuk simpul jaringan ekonomi.
Persoalan ekonomi semakin diperparah oleh sulitnya jaringan infrastruktur, sehingga transportasi darat masih mengalami hambatan. Selain itu, kekayaan Kalimantan Tengah belum sepenuhnya digali. Begitupula pendapatan petani belum cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri.
Namun, persoalan yang paling utama adalah cultural menyangkut sikap budaya dan mentalitas penduduk. Masyarakat suku Dayak masih menganut tingginya primordialisme kesukuan berdasarkan aliran sungai, yang tidak hanya,berupa ‘Tayakisme’ tetapi juga in group feeling’ bagi lingkungan pemukimannya. Kondisi mentalitas budaya ini tentu saja merupakan kendala bagi masuknya nilai-nilai yang diperlukan dalam proses perubahan sosial (h. 19)
Meskipun begitu banyak persoalan yang dihadapi oleh masyarakat Kalimantan, terutama bagi sukubangsa Dayak, bagi Maulani masih ada jalan keluarnya. Kunci utama menurutnya adalah pendidikan. Pendidikan yang berperan sebagai wahana untuk pencerahan secara pasti akan memperluas wawasan manusia, meningkatkan kemampuan produksi local berdaya guna bagi penduduk setempat, termasuk jangka panjang adalah keperluan memperlebar basis industry. Artinya Kalimantan tidak hanya memproduksi bahan mentah, tapi sudah mampu memproduksi bahan masak yang sudah jadi.
Inilah angan-angan seorang anak Dayak yang dikenal sebagai jenderal dan intelekual. Kini sepuluh tahun sejak buku ini terbit, telah terjadi perubahan baik terutama dalam bentuk fisik; infrastruktur dan jalanan. Namun, menjadi catatan bagi kita yang jujur harus diakui, sikap mental menjadi persoalan utama. Di antaranya sikap intelektual semestinya tidak hanya bersemayam dalam konsep dan terbenam dalam pikiran saja, tetapi bisa diaplikasikan dalam sikap dan tindakan.
Buku setebal 187 halaman ini harus diakui tergolong masih langka, apalagi menunggu terbitnya buku lain yang memiliki semangat yang sama. Yakni berani mengatakan kekurangan dan siap melakukan instropeksi terhadap diri sendiri.
Terbit di Tabloid URBANA, edisi Senin, 23 Nopember 2010