Oleh: Nasrullah
Selama perjalanan darat dari kota Tenggarong, Kutai Kartanegara menuju kota Sendawar, Kutai Barat yang memakan waktu sekitar enam jam, seolah membaca buku cerita yang terbuka tentang bumi Kalimantan. Sepanjang jalan pandangan mata terpaku pada pepohonan kecil yang berusaha bangkit dari nestapa rimba raya Kalimantan yang telah digergaji dan ibabat habis. Tak ubahnya tukang gunting memotong rambut para narapida hingga meninggalkan bentuk yang tak jelas.
Cerita tentang kemakmuran hutan Kalimantan Timur dan pulau Kalimatan pada umumnya, hanyalah milik para pemodal. Begitu pohon telah habis, gampang saja mereka mengangkat koper tanpa harus menoleh ke belakang. Entah berapa lama masyarakat Dayak harus survive untuk melewati masa recovery hingga pepohonan kembali menjulang ke langit dan akarnya kokoh mencengkram ke bumi. Kita tidak akan bisa menebak dibutuhkan waktu 50 tahun, 100 tahun atau lebih agar alam Kalimantan kembali kepada seperti semula.
Semakin membuat ragu, ketika batang-batang pohon sawit ditanam berjejer, seperti pasukan kompeni yang tak membiarkan ada tanaman lain tumbuh di sela-selanya. Sebuah papan nama bertulis “Sawit mensejahterakan masyarakat dan tidak merusak lingkungan” seolah surat cinta pemilik kebun untuk merayu masyarakat sekitarnya agar berpartisipasi bekerja di lahan sawit.
Kala itu, separo perjalanan sudah dilewati. Seperti mengantarkan lembaran demi lembaran buku dari alam yang terbuka, menuju sebuah episode tentang kekayaan SDA bumi Kalimantan Timur. Tak puas memotong pohon-pohon, kini perut bumi digali pula. Batu bara menjadi pilihan selanjutnya untuk menikmati kekayaan alam selanjutnya.
Tak jauh dari lahan tambang batu bara, saya melihat seorang perempuan menanam padi di ladang. Sejenak mobil yang saya tumbangi berhenti, untuk mencermati pemandangan yang kontras. Di belakang ladang perempuan itu bercokol tangan besi eskavator yang menggali tanah, sedangkan lobang tambang batu bara semakin menganga lebar akibatnya.
Saya mendekati peremuan tua itu untuk melihat caranya berladang. Tiga hingga lima buah butir padi tergenggam di tangan kanannya, kemudian dilemparkan dengan agak sedikit berjongkok ke dalam lobang tanah (tugal). Dia adalah pelempar yang lihai, nyaris tak ada sebutir padi pun membangkang keluar dari lobang sebesar tutup botol air mineral. Setelah padi masuk ke dalam tugal, dilanjutkan ke tugal berikutnya tanpa harus menutup. “Kalaupun burung memakan benih padi itu, biarkan saja karena tidak semua benih dalam lobang itu dapat dimakannya” katanya. Saya mencoba menirukan caranya memasukkan butir padi, hasilnya hanya sebutir padi setia mengikuti perintah, sisanya berserakan di atas tanah.
Perempuan peladang yang mengaku dari Dayak Benuaq itu bekerja pada saat jarum pendek jam tangan saya menunjukkan angka dua siang hari. Dia sendiri, tak ada yang menemani. Pengakuannya, baru saja suaminya pergi untuk urusan lain. Sementara seorang anak laki-lakinya, tampak duduk di bawah pohon di pinggir jalan sedang berbicara dengan seorang temannya. Tampak ia tak peduli kepada ibunya yang bermandikan peluh bekerja di ladang. Barangkali ia lebih peduli kepada sebuah sepeda motor di sampingnya yang ikut berteduh di bawah rimbunnya pepohonan.
Para petani di sawah atau pun peladang, nampaknya menerima perubahan cuaca yang tidak bersahabat dengan mereka. Pun perempuan peladang Dayak Benuaq yang tidak mau menyebutkan namanya, mengakui ia nyaris terlambat menanam padi di ladang. Semestinya musim kemarau dan saatnya membakar ladang, ternyata hujan masih mengguyur mengacaukan siklus berladang.
“Sudah dua tahun saya tidak berladang, sekarang baru bisa menanam padi gunung meskipun agak terlambat” katanya sambil menyeka keringat di leher. Nampak benjolan daging di lehernya, akibat kekurangan yudiom. Saya berfikir, ibu itu tentu tidak akan sanggup melawan eskavator di belakangnya yang tetap bekerja saat hari panas mau pun dingin. Lebih parah lagi ketika ia menceritakan lahan tambang itu semula adalah miliknya. Ia hanya diberikan lahan untuk berladang di sekitar tambang, kemudian tahun depan berpindah lagi di pinggir tambang yang lain.
Betapa malangnya penduduk yang penghuni awal tanah Kalimantan, mereka sadar atau tidak telah berada di pinggir lahannya sendiri. Inilah cerita yang sama tentang perladangan orang Dayak yang dilakukan dalam penelitian Nugraha (2005), Rini (2005) dan Lahajir (1999). Mereka melihat terjadi perubahan tradisi orang Dayak, yakni bergesernya perladangan kepada system perkebunan dan persawahan yang memberikan dampak negatif bagi kebudayaan Dayak berupa sempitnya hak atas tanah sebagai tempat berladang, maupun perlakuan mereka terhadap alam. Padahal orang Dayak sendiri memiliki hubungan erat dengan alam.
Tak lama saya bercakap dengan perempuan itu, ia menelusuri sisa lobang tugal untuk memasukkan benih-benih padi. Di belakangnya lobang tambang semakin menganga, eksavator pun seolah berpacu dengan waktu menggali setiap jengkal tanah.
Terbit di Tabloid Urbana, Edisi 8 November 2011
Secara pribadi…saya memandang semua orang borneo adalah Dayak apakah itu….Dayak dengan beratus-ratus subsukunya, atau Kutai yang awalnya hanya nama sebuah kerajaan Dayak Tunjung…atau Banjar yang awalnya juga hanyalah nama kerajaan yang…raja-rajanya lebih dominan darah Dayak aslinya ketimbang jawa atau melayu. agaknya nama Dayak sangat cocok atau pas sebagai nama persatuannya mengingat artinya adalah “daerah bukan muara alias daerah hilir dan hulu” yang mana rerata nama-nama subsuku Dayak sendiri juga dominan bermaknya sebagai “daerah bukan muara” misal lun dayeh bermakna sebagai hulu sungai sama dengan ot danum yang bermakna hulu air/sungai juga. atau dalam bahasa Dayak Kendayan hulu di sebut “Daya yg asal muasal istilah Daya itu”
aslinya adalah istilah” Daya” namun untuk membedakan makna kata Dayak antara yang bermakna sebagai kekuatan atau daerah hulu dengan “Daya” yang bermakna sebagai etni, maka di tambahlah sebuah apostrof atau sekarang dengan di tambah huruf “K”