Oleh: Nasrullah
Judul, ide dan pengalaman yang berbeda cerita berbeda pula. Apalagi bagi kaum sastrawan tak akan sudi diatur-atur. Namun, entah kenapa perbedaan itu hanya pada tataran permukaan. Inilah yang terjadi dalam buku Di Perbatasan Kota Bunga Kumpulan Cerpen Borneo. Duabelas cerpen dari duabelas orang pengarang yang berbeda nyaris berkisah tentang hal yang sama: kematian. Entah dalam bentuk kiasan atau pun cerita sebenarnya, tetapi begitulah kenyataannya.
Cerpen berjudul Ayah Kami karya cerpenis Serawak, Poul Nanggang menceritakan sikap kaku seorang Ayah yang bertahan dengan tradisi pengobatan tradisional. Konflik muncul antara Ayah dan anak yang ingin membawanya ke rumah sakit. Aku sanggup mendukung ayah. Ayah juga menolak. Aku sanggup ayah dengan “joli” yang dipinjam dari Su Runting, juga ditolak ayah kerana nyawanya tidak mampu bertahan. Akhirnya, ayah mengarahkan Aku memanggil Yaki Yampil, seorang pengamal perubatan tradisi Bisaya (h. 5).
Konflik dalam keluarga antara kubu tradisional yang diwakili tokoh ayah, berhadapan dengan kubu modern diwakili tokoh Aku mendapatkan jalan tengah. Jalan itu adalah Sekitar jam 12 tengah malam adikku Nila Kesuma sekali lagi mengesahakan bahawa Ayah telah meninggalkan kami semua (h. 9). Setiap kehilangan menyadarkan bahwa kehadiran seseorang sungguh berarti seperti pengakuan tokoh Aku, aku tidak terlalu memuji ayah tetapi sedar itulah ayah kerana ayah tidak mendapat pendidikan formal (h. 9).
Berikutnya Mendulang karya cerpenis yang juga berasal dari Serawak, Jaya Ramba Wulan. Cerpen ini bercerita tentang ritual kematian, tepatnya upacara terakhir mengangkat tulang belulang manusia. Meski tradisi turun temurun dalam kenyataannya mulai terkikis. Jika kamu tidak lakukan perkara ini, kamu bukan bangsa Berawan sejati. Kamu sudah jauh ke dunia lain. Kamu semakin melupakan amalan, adat, dan upacara bangsa ini (h. 23).
Penolakan terhadap tradisi leluhur agaknya berusaha untuk disadarkan dalam upacara mendulang. Malah pelbagai perkara aneh berlaku. Seakan tulang-tulang itu menjelma bayangan, seakan sedang berbisik-bisik kepada ahli keluarga mereka dan seakan-akan member seribu amaran kepada bangsanya (h. 26).
Jika dua cerpen dari Serawak menceritakan tentang konflik keluarga yang perdamaiannya dengan cara kematian ayah dan upacara kematian. Cerpen dari Kalimantan Barat oleh Hanna Fransisca menegaskan bahwa kematian tersentuh oleh kekuasaan dan ekonomi. Bahkan mayat pun tak menolak ganti rugi, apalagi Mak yang masih hidup (h. 36). Kalimat ini terasa sangat menusuk karena menunjukkan begitu kuat dan kejamnya penetrasi kekuasaan, tanpa terkecuali kepada mayat sekalipun.
Masih dari Kalimantan Barat, Aant S. Kawisar mengangkat simbol pohon beringin yang juga diangkat oleh Hanna Fransisca dan Budi Kurniawan. Cerpen berjudul Utek Olang, Ruk, dan Beringin Raja Lanun berupaya memperteguh mitos animism tentang pohon beringin. Para tentara di tahun 1950-an tak kuasa menumbangkan pohon beringin. Justru tentara itulah tumbang karena mengganggu pohon yang dianggap pusat kerajaan lelembut. Rupanya ada kekuatan yang sanggup melawan daya magis beringin tersebut, selain termakan usia rupanya ada ‘pohon pendatang baru’ yakni kelapa sawit. Sementara di mataku, pohon beringin itu tampak bagai pusaran kabut, tampak mulai rapuh dan ranggas dalam kerentaannya, di tengah perkebunan kelapa sawit yang hampir menelan seluruh desa Ranuruk, milik pensiunan seorang Jenderal di Jakarta, almarhum kakekku (h. 43).
Cerpen dari Kalimantan Selatan, Tumbukan Banyu oleh Hajriansyah dan Jukung oleh Zulfaisal Putera pun menyampaikan kisah yang sama. Tokoh Maman dalam cerpen Tumbukan Banyu sedang pontang panting mencari jati dirinya, meski telah menjelajahi berbagai negara. Pencarian Maman sebenarnya tidak perlu jauh, yakni makam leluhurnya. Pekuburan tenggelam di tengah semak. Sunyi, pagi yang hangat hari itu membuat Maman nyaman memandang langit. Tak ada yang menghalangi pandangannya ke cakrawala jauh. Di sana semua nampak cerah. Awan-awan berkejaran lewat. Dan, sedari itu, meneruskan keinginannya yang semakin bulat ia memutuskan menjelang fajar esok hari ia akan tenggelam… (h. 55).
Jika Hajriansyah menyampaikan sesuatu dalam kesamaran, berbeda dengan Zulfaisal Putera. Melalui cerpen Jukung dengan tegas ia menggambarkan kematian seorang ibu sebagai jalan keluar konflik dalam keluarga. Meski keinginan si anak yang digambarkan dengan tokoh Suamiku sebenarnya baik. Ia menginginkan ibunya yang renta agar beristirahat di rumah, tanpa banting tulang mengayuh jukung. Sebaliknya sang ibu memilih mempertahankan tradisi. Bang, jukung yang pian titipkan ulun tak bisa lagi ulun pertahankan. Jukung itu telah karam, Bang (h. 76). Di sini, Hajriansyah dan Zulfaisal menggambarkan akhir cerita dengan istilah yang memiliki kesamaan yakni tenggelam dan karam.
Cerpen Menari di Puncak Beringin karya Budi Kurniawan dari Kalimantan Tengah juga sama. Tarik menarik antara rindu dan geram pada kampung halaman berpusat dengan symbol pohon beringin. Melalui pohon beringin Aba merayu aku untuk pulang. Aba tahu betul, beringin adalah imajinasi dan nostalgia aku. Sayang ketika tokoh aku berhasil dirayu, aba justru memintanya untuk tidak pulang. Akhir cerita ini mirip cerpen Aant S. Kawisar dari Kalimantan Barat yakni beringin tumbang dikeroyok kebun sawit. Bedakannya, cerpen Menari di Puncak Beringin lebih menyayat hati dengan kalimat di akhir surat aba. Satu pohonnya (sawit) ditanam tak jauh dari dapur kita (h. 86).
Sandi Firly dalam cerpen Bunga Ibu mengangkat latar belakang Kuala Pembuang. Kandungan cerita adalah kegelisahan seorang duda muda untuk menjelaskan kepada Samira, anaknya tentang kematian istrinya, ibu Samira sendiri. Ia mencoba mencari jalan keluar dengan bunga kamboja dari pusara istrinya yang disebut “bunga ibu”. Ia mencoba menggambarkan kepergian ibu Samira, istrinya tersebut ibumu adalah kamboja yang tumbuh di antara dua batu kembar di tanah lapang (h. 96).
Jika pembaca menelusuri cerpen selanjutnya Lelaki Melunta dan Di Perbatasan Semayang, dua-duanya dari Kalimantan Timur ternyata tentang kematian juga. Hanya dua buah cerpen dari Brunei yakni Wang Kahwin dan Jebol yang agak berbeda.
Membaca kumpulan cerpen setebal 150 halaman ini sungguh menimbukan tanda tanya besar. Bagaimana tidak, menulis cerpen yang memerdekakan berfikir, karena semuanya memasuki dunia imajinasi dan semestinya bisa berbuat sesuka hati sesuai keinginan penulis. Bahkan meminjam judul buku Seno Gumira Ajidarma Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara tetapi kenapa isi buku ini telah kehilangan daya juang dan daya tempur untuk melawan nasib???
Judul buku : Di Perbatasan Kota Bunga Kumpulan Cerpen Borneo
Pengumpul : Hajriansyah
Penerbit : Tahura Media
Halaman : xvi+150
Tahun Terbit : 2011
Terbit di Tabloid Urbana Edisi 20 Juni – 4 Juli 2011