Makna Sakit Bagi Orang Bakumpai
Ditulis oleh baritobasin di/pada Mei 20, 2009
Sebelum membahas makna haban (sakit) bagi orang Bakumpai, terlebih dahulu diketahui tingkatan dan bagian haban, penyebab haban dan cara menangani orang yang sedang haban. Adapun haban sendiri adalah suatu gejala tidak sehat yang dirasakan oleh tubuh sebagai media untuk merasakan sakit, tapi haban masih bersifat umum. Secara khusus haban diketahui dari tingkatannya. Dari yang ringan yakni haban budas/biasa, tingkat sedang yang disebut haban kakate beh, hingga tingkat kritis yakni haban hawas. Haban biasa misalnya sakit kepala, sakit panas, kecapekan, dan lain sebagainya. Haban kakate beh artinya sakit yang dialami seseorang yang sering diidapnya, misalnya orang tersebut sering sakit mag sehingga ketika seseorang tersebut terkena sakit yang sama dianggap sudah menjadi penyakit biasa. Namun, berbeda apabila sakit yang diamalinya mengalami tingkat keparahan dari semula atau semakin memburuk, sehingga orang lain menjadi khawatir akan keselamatan nyawanya. Bagian dari haban disebut kapahe, kedua istilah ini sama-sama berarti sakit, tapi kapehe menunjukkan tempat tertentu yang dirasakan sakit. Misalnya jika sakit di bagian kepala maka dinamakan ngalu takuluk (pusing kepala). Ngalu (pusing) adalah nama lain dari istilah kapehe, menunjukkan rasa sakit yang hanya dirasakan oleh kepala. Orang yang haban pasti merasakan kapehe, tapi kapehe itu sendiri belum tentu orang haban, karena haban dirasakan oleh seluruh tubuh.
Orang yang haban sebagaimana pada umumnya orang yang jatuh sakit, terjadi karena gangguan terhadap kesehatan yang terjadi karena orang datang dari suatu tempat kerja, sehingga pulang ke rumah menderita haban. Meskipun bekerja memeras tenaga dan tubuh berhadapan dengan kondisi cuaca ekstrim panas atau dingin yang berbeda dengan kondisi di dalam rumah, artinya gejala atau penyebab terjadinya haban diketahui karena sesuatu yang jelas. Orang Bakumpai ternyata melihat penyebab lain, haban dapat terjadi karena gangguan makhluk halus yang mendiami suatu tempat (baganan) sehingga ganan atau penunggu tempat tersebut merasa diusik ketenangannya. Bahkan makhluk halus dianggap menempati benda-benda pusaka, seperti keris, mandau (pedang khas Dayak). Apabila seorang anggota keluarga haban, upaya penyembuhan selain dilakukan dengan pengobatan medis ke dokter atau membeli obat-obatan yang dijual bebas di warung-warung penduduk.
Mencari penyebab lain haban biasanya dilakukan jika orang mengalami sakit cukup lama dan tak kunjung sembuh atau mendadak mengalami haban hawas. Upaya pengobatan dilakukan pertama kali memang adalah penyelesaian secara medis, atau kedokteran, jika belum teratasi anggota keluarga yang lain segera mengingat-ingat rekaman peristiwa awal orang menjadi jatuh sakit. Jika dianggap berasal dari suatu tempat kerja yang disebut kapuhunan atau gangguan makhluk halus, berarti si sakit telah mengganggu tempat makhluk halus. Jika tidak diketahui dari suatu tempat manapun, akan dicoba mengingat benda-benda pusaka atau tradisi leluhur yang memberi makan kepada makhluk halus.
Cara pengobatan selain medis dilakukan dengan tawar atau menawar yakni membaca mantra tertentu kepada orang yang jatuh sakit, berbagai jenis tawar tergantung jenis sakit yang dialami : (1) tawar Sadengen (dingin), yakni apalagi orang jatuh sakit panas, supaya tubuh kembali normal atau menjadi dingin dibacakan ayat “Kulna yaa naru kuni bardan wassalamun ala ibrahim”. Tawar ini bisa langsung di hidu (bacakan di air), atau setelah dibacakan lalu ditiup pada tempat sakit; (3) Tawar Balasu untuk mengobati sakit panas; (3) Tawar Palasit, sering terjadi orang kesurupan atau kemasukan makhluk halus disebut palasit. Palasit biasanya dialami perempuan, ditandai dengan pembicaraan tidak jelas, sorot mata tajam dan mengerikan dan berteriak. Untuk menyebuhkannya dibacakan mantra dalam segelas air putih, kemudian disemburkan ke wajah si sakit. Cara lain menggunakan sahang, kemudian dipencet di salah satu ujung kaki. Semacam palasit, dikenal dengan istilah kasarungan, baik laki-laki atau perempuan bisa terkena. Biasanya orang kasarungan mempunyai tenaga luar biasa, beberapa orang bisa tidak tahan memegangnya. Cara menawarnya bisa dengan menyemburkan air ke wajah atau membacakan ayat di tangan kemudian telapak tangan dipukulkan ke kening orang tersebut; (2) Tawar Pajaliau. Yakni sakit kepala atau pusing luar biasa, menurut orang tua sakit itu karena disentuh malaikat.
Dari jenis haban dan cara pengobatannya diketahui bahwa orang Bakumpai mengenal sakit yang tidak hanya disebabkan oleh karena gangguan kesehatan, tapi karena ada penyebab lain yakni akibat hubungan tidak harmonis dengan makhlus halus. Ternyata cara pengobatan selain ke dokter, juga menggunakan pengobatan tradisional atau tatamba kampung. Jika berobat ke dokter merupakan upaya penyembuhan terhadap gejala fisik untuk kembali sehat, tapi upaya penyembuhan dengan melakukan tawar pada dasarnya dimaknai lebih dari sekedar sehat yakni sebagai upaya untuk mengharmoniskan kembali hubungan dengan ‘dunia lain’. Pengobatan terhadap orang haban tersebut bahkan menjadi semakin serius dengan dilakukan upacara batatenga (memberikan sesaji) kepada makhluk halus. Namun, upaya tawar jika dilihat kepada upaya mendatangi orang yang memiliki ilmu agama (uluh alim), dapat dimaknai sebagai puncak usaha untuk mengupayakan keharmonisan hubungan manusia dengan makhluk lain melalui penyerahan diri kepada yang kuasa.
darman berkata
ASS..WR.WB
yg mau saya tanyakan bagaimana kalau sekiranya ada seorang kerabat kita yang sering2 tersinggung bila kita berbicara sama dia,..dan satu hal yang diherankan dia kalau ada masalahnya dia selaluh pergi disuatu tempat yang dia datangi kalau dia punya masalah,..tempat yang dia datangi itu jauh dari keramaian, dia kesanah seorang diri,…biasanya kalau dia kesana biasanya seharian penuh….tolong dikasih solusinya…
Hmmm, teman-teman pembaca adakah yang punya solusinya?