Oleh: Nasrullah

Menjelang pergi bekerja terlebih dahulu orang Bakumpai berinteraksi sesama warga.
Saya merasa ditimpakan beban berat di atas pundak, ketika seorang teman dengan entengnya menyampaikan pertanyaan “Apa makna Dayak bagi orang Dayak sendiri?”. Mendengar pertanyaan itu, saya terdiam agak lama. Beruntung teman yang berasal dari Amerika, mahasiswa Wisconsin University dan sedang meneliti sejarah Dayak tidak mendesak saya untuk memberikan jawaban atau barangkali dia maklum bahwa pertanyaan itu memerlukan perenungan, artinya tidak perlu dijawab segera. Sekarang, bagi saya sendiri pertanyaan itu menjadi inspirasi untuk menulis sekaligus sebagai judul dari tulisan ini.
Tidak mudah menjawab secara langsung “Apa makna Dayak bagi orang Dayak?” karena bukan hanya sekedar mengemukakan jawaban sebatas pada pengertian Dayak belaka. Mendapatkan makna tersebut bagaikan membentuk sebuah mozaik dari kepingan-kepingan peristiwa berserakan yang dialami orang Dayak, serta melalui proses dialektika dan perenungan mendalam. Bahkan untuk menjawabnya, kita memerlukan beberapa pertanyaan turunan. Misalnya, apa yang dialami Dayak? Kemudian, apa yang (akan) dihadapi orang Dayak? Pertanyaan tersebut tidak hanya melihat kejadian di tanah Dayak, tapi menyangkut opini yang berkembang di dunia luar tentang Dayak. Dua pertanyaan ini akan saya bahas satu persatu.
***
Pertanyaan pertama dapat dikembangkan mengenai isu dan kenyataan yang dialami orang Dayak, lingkungan, maupun kebudayaannya. Barangkali sudah jamak kalau Dayak dianggap suku asing yang barbarianisme, karena itulah menjadi kegelisahan Kurniawan, seorang pemuda Dayak. Ia memprotes isi novel yang berjudul Desersi Menembus Rimba Raya Kalimantan.

Mengangkat pantar pali, menjelang upacara batiwah di Desa Tumbang Labaning Kalimantan Tengah.
Selain kritik terhadap novel karangan Perelear, ia juga mengkritik tulisan orang asing lainnya. Buku berbahasa Prancis yang ditulis Jean-Yves Domalain (1971) yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Len Ortzen berjudul Panjamon: I was a Headhunter (Morrow, New York, 1973) yang berkisah tentang kayau terakhir (mungkin). Buku ini lebih banyak memuat fantasi sang petualang (turis) Domalain. Karena itu tidaklah mengherankan Library of Congress (AS) membuat subjek buku ini sebagai Borneo- Description and Travel yang secara tak langsung menunjukkan kualitas buku ini tak lebih dari sekadar iklan untuk turis yang keranjingan bepergian ke tempat-tempat “eksotik”, liar, primitif, dan menyeramkan. Terutama dalam menantang mara bahaya kayau (Lihat http://budidayak.blogspot.com).
Apa yang menjadi kegelisahan Budi Kurniawan, merupakan protes seorang pemuda Dayak atas salah persepsi orang lain terhadap Dayak. Bahkan, jangankan di luar negeri, di Indonesia sendiri masih terjadi salah paham terhadap etnik Dayak. Maulani menceritakan pengalamannya dalam buku Melaksanakan Kewajiban Kepada Tuhan dan Tanah Air Memoar Seorang Prajurit TNI. Dalam acara perpisahan akhir tugas praktek yang disebut “Praja Yudha”, semacam kuliah kerja nyata di desa Dangkel, Kecamatan Parakan, Wonosobo, masyarakat desa menyajikan suatu acara paling seru “dayak-dayakan”. Badan para pemainnya dilumuri dengan bubuk arang, sehingga pada malam hari tubuh mereka tampak hitam mengkilat terkena sinar lampu minyak tanah yang digantungkan di sekeliling tempat acara. Aurat mereka hanya ditutupi oleh janur daun kelapa, dengan tutup-kepala yang dihiasai dengan bulu-bulu. Mereka jadi tampak seram sekali. Dengan sebilah tombak dari bambu yang dicat hitam dan tameng dari niru, mereka meloncat-loncat sambil meneriakkan teriakan perang “Huu, huu. Huu !”.
Menurut Maulani, acara “dayak-dayakan” membuat orang terhibur, tapi kapten Untung Sridadi, komandan kompi taruna membisikkan kepada pak Lurah yang di sampingnya bahwa ada taruna asal Dayak di kesatuan mereka maka terkejutlah lurah itu. Keesokan harinya, menyebarlah berita ada orang Dayak sehingga begitu banyak penduduk yang melepaskan keberangkatan para taruna terutama ingin mengetahui penampilan orang Dayak. Dengan rasa penasaran Pak Lurah menanyakan siapa orang Dayak kepada komandan kompi karena tidak ada yang aneh dengan para taruna yang berbaris, apalagi semua taruna berpakaian seragam lapangan (PDL) dengan wajah tertutup topi baja. Sang komandan menunjukkan kepada taruna kebetulan memimpin peleton berdiri di ujung kanan yakni Maulani sendiri. Pak Lurah itu tidak bisa menyembunyikan kekagetannya, “Lha, sagedipun taruna Dayak niku wonten Magelang, nangkepipun kados pundi?” (Taruna Dayak itu sampai bisa ke Magelang bagaimana cara menangkapnya?) (lihat Maulani, 2005:98).
Persepsi terhadap orang Dayak sebagaimana cerita di atas terjadi sekitar tahun 1965-an dan terletak di pelosok pulau Jawa, tapi bagaimana kalau terjadi pada tahun 2005 di ibukota Jakarta. Seorang perempuan berjilbab berprofesi sebagai guru TK pernah bercerita kepada saya, ketika ia ikut dalam rombongan dari Kalimantan untuk kegiatan studi banding di Jakarta. Bus mereka terjebak kemacetan di jalan raya ibukota. Mungkin karena merasa bosan berlama-lama dalam bus, dan melihat tempat yang dituju sudah tidak terlalu jauh, keluarlah ia dari bus dengan pergi berjalan kaki.
Sambil duduk beristirahat menunggu rombongan, beberapa pelajar SMU datang mengelilinginya. Para pelajar itu menanyakan asalnya, maka dijawablah dari Kalimantan. Pertanyaan berikutnya menyusul, apakah ia orang Dayak? Setelah dijawab “ya” maka berbisik-bisiklah para pelajar itu. Kemudian mereka meminta ibu guru TK agar melepaskan jilbab. Ia menceritakan “Kebetulan pada saat itu, saya merasa merasa gerah karena begitu panas maka saya pun membuka jilbab. Saya tidak menduga, para pelajar itu terkejut setelah melihat telinga saya. Mereka mengatakan rupanya telinga orang Dayak sama saja dengan kita”.

Manyahar Lauk: Mencari ikan yang terkurung dalam beje (sumur) di musim kemarau, tapi sebelumnya membersihkan sumur lalu beristirahat. Orang tua, muda dan anak-anak semua bekerja. Inilah sebenarnya hidup adalah perbuatan.
Selanjutnya dari masalah persepsi tentang Dayak, kita melihat sisi lain dari dalam yakni apa yang benar-benar dihadapi secara langsung oleh orang Dayak dan lingkungannya. Maunati menjelaskan dalam buku Identitas Dayak Komodifikasi dan Politik Kebudayaan bahwa terjadinya marjinalitas sejarah di bawah pemerintahan Orde Baru membuat orang Dayak menderita tekanan yang mengakibatkan marjinalisasi politik dan ekonomi (lihat Maunati, 2006:358). Oleh karena itu, muncul gagasan tentang pemberdayaan suku Dayak, seperti ditulis Kusni dalam buku Negara Etnis. Salah satu poin pemikirannya adalah melakukan pemberdayaan dari pinggiran, hal tersebut karena orang Dayak telah mengalami marjinalisasi (Kusni, 2001).
Nugraha dalam Rindu Ladang Persfektif Masyarakat Desa Hutan mengangkat tema perladangan dengan pendekatan ekologi budaya yang mengeksplorasi kerinduan masyarakat Tanjung Paku Kalimantan Tengah untuk kembali berladang. Ketika praktek perladangan berubah dengan adanya perjalanan politik dan ekonomi kehutanan, diterbitkan SK Menteri kehutanan No. 691/Kpts-II/1991 yang mewajibkan setiap perusahaan pemegang HPH/HPTHI untuk melakukan pembinaan terhadap masyarakat desa hutan, salah satu sasaran utamanya adalah pencetakan sawah (Nugraha 2005:203).
Sejalan dengan Nugraha, Rini (2005) dalam Tempun Petak Nana Sare menggunakan pendekatan teori strukturasi Anthony Giddens, David Harvey dan sosiologi Ibnu Khaldun, melihat adanya kesamaan dengan orang Dayak Kadori di daerah hulu sungai Paroi Kalimantan yang dipengaruhi oleh perusahaan pemegang Hak Pemilikan Hutan (HPH). Sama-sama telah terjadi perebutan ruang, antara peladang dan pemilik HPH, kebun-kebun dan ladang mereka menjadi tergusur oleh karena perluasan lahan dari perusahaan-perusahaan kayu.
Orang Dayak di Kutai pun mengalami kasus sama, hasil penelitian Lahajir (1999) dalam tesisnya yang berjudul Sistem Perladangan Berpindah Masyarakat Dayak Tonyooy – Rentenukng Di Dataran Tinggi Tunjung Kabupaten Kutai Kalimantan Timur Suatu Kajian Antropologi Ekologi dan Etnoekologi, ia menemukan berubahnya ladang atau makin sedikit areal perladangan akibat perkebunan karet, ikut merubah rituil, mitos dan adat-istiadat perladangan pun semakin menghilang lalu terjadilah perubahan atau pergeseran pemaknaan atas ekosistem perladangan dan padi (Lahajir, 1999:341)
Tema tentang perladangan orang Dayak yang dilakukan dalam penelitian Nugraha (2005), Rini (2005) dan Lahajir (1999) sama-sama melihat terjadi perubahan tradisi orang Dayak, yakni bergesernya perladangan kepada sistem perkebunan dan persawahan yang memberikan dampak negatif bagi kebudayaan Dayak berupa sempitnya hak atas tanah sebagai tempat berladang, maupun perlakuan mereka terhadap alam, padahal orang Dayak sendiri memiliki hubungan erat dengan alam.
***
Dari peristiwa-peristiwa yang dialami oleh orang Dayak, maupun persepsi orang lain terhadap Dayak sesungguhnya posisi Dayak begitu terdesak dari dalam dan dari luar. Kini, yang dihadapi orang Dayak dari dalam jelas adalah kerusakan lingkungan, sedangkan dari luar adalah kesalahpahaman tentang Dayak sendiri. Bahkan tidak cukup sampai di situ, kasus dicurinya sapundu ternyata hanya diprotes seorang pemuda Dayak bernama Kobuta dalam sebuah media massa beberapa waktu lalu. Sepanjang pengamatan saya, sampai sekarang belum ada kekuatan besar dari orang Dayak sendiri yang menyuarakan dan mempertahankan keberadaan sapundu dari ambisi orang yang ingin memilikinya secara tidak sah. Apakah ini menunjukkan ketidakpedulian kita terhadap artifak sakral Dayak?
Pada sisi lain, tentang kesalahpahaman orang lain terhadap Dayak, bukan berarti kita memukul rata semua orang salah persepsi. Beberapa peneliti asing justru menunjukkan keberpihakannya. Misalnya Di kawasan pegunungan Meratus, dalam buku Di Bawah Bayang-Bayang Ratu Intan: Proses Marjinalisasi Pada Masyarakat Terasing, Tsing (1998) membahas mengenai konstruksi kebudayaan dan politik dari marjinalitas pada orang Meratus. Secara garis besar dikatakan bahwa keberadaan Meratus menyalahi gagasan ideal resmi mengenai ketertiban dan pembangunan, karena kebudayaan politik nasional masih tetap memandang orang Meratus sebagai sisa-sisa masyarakat purba. Orang Meratus sendiri menolak anggapan bahwa mereka berada di luar jalur sejarah, atau bahkan hubungan mereka negara dan “peradabannya” adalah baru. Sebaliknya, mereka yakin bahwa orang Meratus memiliki sejarah panjang, pergantian kekuasaan silih berganti (Tsing, 1998:55).
Mallincordt dalam buku Gerakan Nyuli di Kalangan Suku Dayak Lawangan menjelaskan bahwa orang Dayak diperkenalkan berbagai hal baru, yang dahulu tidak mereka kenal, dan kebanyakan hal itu minta pengorbanan materiil: orang harus ikut mengerjakan jalan, harus membayar pajak, harus minta izin kalau ada hendak mengadakan pesta, harus bersama dalam desa-desa tertentu, harus membersihkan halaman, harus segera mengubur orang-orang yang meninggal, tidak boleh lagi main judi dan lebih banyak lagi yang jadi keharusan di mata orang Barat, tetapi orang Dayak masih merupakan persoalan sehingga mereka melakukan perlawanan kepada penguasa Belanda melalui gerakan Nyuli (Mallinckrodt, 1974). Jadi, Tsing (1998) dan Mallinckrodt (1974) sama-sama melihat adanya marginalitas yang dialami orang Dayak, karena religi atau kepercayaan mereka “berbeda” dengan ketetapan negara.
Pekerjaan rumah bagi orang Dayak adalah melakukan pembelaan terhadap dirinya sendiri atas berbagai isu dan kenyataan yang tengah dialami. Sehingga diperlukan opini tandingan, misalnya ketika Perelear menulis tentang ngayau maka sudah selayaknya ada novel ngayau versi orang Dayak sendiri. Itu hanya contoh kecil, dalam bentuk lebih luas, sebenarnya terdapat satu masalah bahwa kita tidak punya rumah di atas tanah sendiri untuk mengkaji Dayak secara komprehensif. Padahal sangat penting untuk mengabarkan kepada dunia luar apa dan bagaimana Dayak sesungguhnya. Pun, kajian-kajian tentang Dayak dalam bentuk tulisan akan menjadi benteng pertahanan orang Dayak terhadap gempuran opini yang tidak berimbang.
***
Jika melihat kenyataan yang dialami orang Dayak selama ini, dan dikaitkan paradigma kelompok dominan dan subordinat (lihat, Schermerhorn dalam Poerwanto, 2005) maka kita akan berfikir ulang apakah selama ini Dayak sebagai salah satu suku bangsa yang mendiami pulau Kalimantan sebagai kelompok mayoritas yakni mempunyai jumlah penduduk yang besar dan kekuasaan yang besar pula. Atau jangan-jangan sebaliknya, sebagai kelompok subordinat kategori subyek massa yakni memiliki jumlah yang besar, tapi sedikit memiliki kekuatan.
Dari paradigma kelompok tersebut, boleh jadi sebagai arah yang menunjukkan jalan yang mengantarkan kita kepada makna Dayak walaupun tidak bisa secara langsung memberikan jawaban final. Bahkan apa yang tertulis ini hanyalah serpihan kepingan-kepingan peristiwa tentang Dayak yang masih belum mampu membuat sebuah mozaik. Sungguh pencarian makna bukanlah perkara mudah, tapi akan terus dilakukan demi menuju masa depan Dayak yang lebih cerah.
Penulis: Alumni s2 Antropologi UGM
Tulisan ini terbit di Harian Sinar Kalimantan, Sabtu 21 Maret 2009.
Assalamu’alaikum w.w.
Salam kenal Pak.
Tulisan di atas sangat bagus untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat, salut.
Terima kasih. Semoga kita selalu mendapatkan pencerahan.
asslamualaikum..hasundau nday itah lah bang..tege kecenderungan..mun itah je beragama islam lebih condong menyewut arep kabuat sebagai melayu..ewen tau mahamen mun i nyewut uluh dayak,,awi narai..perpepsi uluh akan dayak te lebih condong ke agama nasrani..padahal mun pendapat kula, itah je belom tuntang melay bumi borneo tuh adalah utus tatu hiang itah huran je asalnya bara uluh dayak kea..limbah tame agama tuntang etnis je beken..haru ih..terpisah-pisah..kinampi menurut dika??
Yah, gara-gara salah persepsi. Padahal tidak ada hubungan bahwa suatu suku-bangsa beragama tertentu pula. Begitupula dengan Dayak.
maaf….”tutu auh ikau te!,,, sikueh bwei,,pasti presepsi oloh kilau te
tege je lengau kula..kinampi dia manampah group akan itah hung Facebook..akan uluh bakumpai..
bagus bgt tulisannya pa ae,tnyata kehidupann dayak ramae jg
Salut!!! Lanjutkan perjuangan dan pergumulan identitas. Gabung di dayakblogs.blogspot.com bersama teman2…Tabe,
Adil ka’talino bacuramin ka’saruga basengat ka’jubata……
dayak ba ngahe,,
lanjutkan generasi dayak,,
tanamkan nilai-nilai suku dayak..
Adil ke’talino bacuramin ka’saruga basengat ka’jubata
Aruss………
tetapkan tanamkan nilai-nilai dayak
Adil ka’talino basuramin ka’saruga basengat ka’jubata……
dayak ba ngahe,,
lanjutkan generasi dayak,,
tanamkan nilai-nilai suku dayak..