Barito Raya

Menggambarkan Kehidupan Masyarakat yang Tinggal di Daerah Aliran Sungai Barito

Nilai Mansan dalam Tradisi Intelektual Bakumpai

Ditulis oleh baritobasin di/pada November 10, 2008

mansan-2

Bersiap-siap untuk bekerja.

Dalam bahasa Bakumpai dikenal kata atau istilah mansan yang secara sederhana diartikan menetap sementara untuk bekerja. Namun, istilah ini barangkali mulai asing karena jarang digunakan apalagi oleh penutur Bakumpai yang tinggal di daerah perkotaan. Aktivitas mansan tetap dilakukan orang Bakumpai yang tinggal di pedesaan dan dalam kehidupan sehari-harinya mengolah SDA. Kata mansan mulai terbatas penggunaannya, padahal suatu bahasa akan hilang atau setidaknya mengalami perubahan apabila satu persatu istilah-istilah yang terkandung di dalamnya jarang digunakan, apalagi tidak diikat dalam sebuah kamus. Begitu pula dengan istilah mansan, saya tidak menemukannya dalam kamus Bakumpai Indonesia (lihat Kawi, Dj., 1985; Rangga, 2007).

mansan-1

Hubung (Pondokan sederhana) tempat istirahat selama mansan.

Penggunaan istilah mansan dapat digunakan untuk binatang dan manusia. Misalnya, manuk mansan hunjun bandat (ayam mansan di atas lumbung padi). Kalimat ini menunjukkan ayam menetap sementara di atas bandat (lumbung padi). Penggunaan untuk manusia misalnya apa dengan uma ulun telu andau tuh mansan kan padang (ayah dan ibu saya sudah tiga hari ini pergi mansan ke tempat kerja). Dua penggunaan mansan menunjukkan arti berbeda. Bagi binatang istilah mansan menunjukkan aktivitas menetap sementara yang bukan di tempat asalnya, sedangkan bagi manusia meskipun juga menetap sementara, tapi memiliki aktivitas bekerja.

Orang Bakumpai pergi mansan bertujuan untuk mengumpulkan purun, ikan, rotan, pohon galam (Malaleuce cajuputy) dan lain sebagainya. Sebagai tempat tinggal sementara selama mansan mereka mendirikan hubung (pondok) yang semua bahan bangunannya terdiri dari pohon galam. Begitu juga atap dan dinding hubung (pondok) terbuat dari kulit galam. Mereka meninggalkan kampung selama beberapa hari dengan membawa peralatan kerja, selain itu juga membawa keperluan pokok (bahan makanan) sebagai bekal mansan. Praktis selama mansan segala aktivitas dan pikiran tertuju untuk pekerjaan yang dihadapi, dan merelakan diri jauh dari keluarga serta kehidupan masyarakat. Sehingga nilai mansan berarti orang bekerja dengan sepenuhnya hati dengan mengisolasi diri.

Tradisi Intelektual

Jika melihat gambaran di atas, nampaknya tidak ada hubungan sama sekali bagi orang mansan yang bekerja untuk mencabut purun, menarik rotan, menangkap ikan dan sebagainya dengan tradisi intelektual yang dilakukan kalangan mahasiswa, akademisi atau ilmuwan. Namun, marilah kita lihat pendapat seorang antropolog, Levi-Strauss, menurutnya bahwa kapasitas otak manusia di mana saja sama, bahwa cara berfikir masyarakat yang disebut “primitif” itu sebenarnya tidak serta merta lebih kuno ketimbang masyarakat “beradab”. Dengan pendapat ini, akan semakin jelas apabila kita menghubungkannya dengan tradisi kaum intelek yang menyepi dari keramaian demi menyelesaikan sebuah karya tulis.

Dari hasil jerih payah kaum intelektual berupa buku akan kita dapatkan dalam kata pengantarnya berupa ucapan terima kasih kepada orang-orang terdekat yang membiarkan dirinya untuk menyendiri. Prof Heddy Shri Ahimsa-Putra misalnya menulis dalam kata pengantar bukunya, saya ingin mengucapkan terimakasih kepada seluruh anggota keluarga saya, Ophir (isteri) dan anak-anak (Panji, Wisnu dan Cindi), yang telah membiarkan saja tetap di “perpustakaan pribadi” dan tidak menemani mereka nonton teve, untuk mengoreksi draf buku ini dan menyempurnakan isinya (Ahimsa-Putra, 2007:x).

Tradisi intelektual yang melahirkan sebuah karya tulis sama saja dengan tradisi mansan, yakni meninggalkan diri dari keramaian, jauh dari keluarga untuk sementara waktu. Dalam kata pengantar buku Kontsruksi dan Reproduksi Kebudayaan, Prof. Irwan Abdullah bercerita banyak bahwa buku yang molek dan enak dibaca sesungguhnya dihasilkan oleh suatu proses yang sangat bertolak belakang: bangun tengah malam, isolasi diri di ruang baca, jatuh sakit, bahkan kehilangan orang-orang terdekat. Lahirnya sebuah buku hampir selalu berarti tidak kenal lelah, tidak kenal menyerah, tidak kenal waktu, tidak kenal lingkungan, tidak kenal tempat, dan tidak jarang melibatkan serangkaian semangat asketisme yang lain (2007:v).

Barangkali sudah jelas nilai yang terkandung dalam mansan dan tradisi intelektual, sama-sama dilakukan dengan kerja keras, mengisolasi diri dari keluarga dan masyarakat. Ini artinya tidak ada satu hal yang dilakukan dengan bersantai diri, jika seorang ingin menjadi pandai harus dilakukan dengan belajar sepenuhnya hati.

Jika nilai intelektual yang sama juga dimiliki orang Bakumpai dalam tradisi budayanya, sesungguhnya sangat mungkin kita bisa meningkat sumber daya manusia Bakumpai itu sendiri. Saya mengagumi cerita seorang teman, wakil rakyat di Batola, menurutnya di kampung Basahab (Kampung Bentuk) pernah melahirkan beberapa orang Bakumpai yang telah menjadi guru besar dan pemikir. Nama mereka harum secara lokal dan nasional. Namun, ini tidak menjadi jaminan karena beberapa orang di antara mereka telah tiada, akan berangsur pula jaman keemasan Bakumpai yang melahirkan kaum cerdik pandai.

Dengan tradisi mansan untuk belajar maka generasi penerus Bakumpai yang intelek akan mengalami kesinambungan. Masalahnya sekarang adalah bagaimana mentransformasi mansan dari tradisi bekerja di hutan ke atas meja belajar atau perpustakaan. Masalah lain pun muncul, bagaimana mempertahankan semangat demikian apabila agar tetap lestari. Siapakah yang merasa bertanggung jawab? Jika selama ini ada kepedulian yang muncul secara pribadi, tapi tentu hanya dimiliki segelintir orang. Sungguh sangat membanggakan apabila ada suatu organisasi Bakumpai yang peduli akan regenerasi intelektualnya dengan komitmen membangun daerah. Generasi intelektual Bakumpai kalau pun dibiarkan barangkali tetap akan tumbuh, tapi ia akan tumbuh alami sebagaimana rumput kumpai (Scirpus grossus L) yang tak terpelihara, liar dan merana (Nasrullah).

6 Tanggapan ke “Nilai Mansan dalam Tradisi Intelektual Bakumpai”

  1. Opie_ berkata

    aslqm pahari..slm kasene..kula tuh asal pangkalan bun..kanih (p.bun) tege uluh etnis mendawai je basa ieh te kilau mirip basa bakumpai..baistilah kula-dika, yaku,.aku tuh becampur ih basa tuh..isut tacampur ngaju, katingan, tuntang banjar kea..tege penjelasan bara dika lah beh..hehehe..diameni lah.

    Kula kenal bahasa Pangkalan Bun ji mirip bahasa Bakumpai waktu masih kuliah S1. Cuma kalo interaksi awal mesti saling memahami helo, karena ada beberapa kata ji sama kilau mairek hunga bahasa Pangkalan Bun arti ei memperbaiki, tapi bahasa Bakumpai arti ei menyiangi ikan.
    Kalo persamaan bahasa ji lebih tepat ahli linguistik, tapi mun mengurut peta geografis bara Bakumpai (Marabahan), Kapuas, Samba, Sampit sampai Pangkalan Bun memang ada keterkaitan dan kemiripan hubungan kebahasaan.

  2. Opie berkata

    kula wayah tuh melai palangkaraya..studi S1 intu unpar..jujur,kula lebih faham bahasa ngaju daripada bahasa daerah kula kabuat (mendawai)..waktu kurik, uluh bakas intu huma, jarang mahapan basa te..jadi terasa asing beh..kula belajar basa dayak tuh pas tege pelajaran mulok wayah SMP huran..bara hete kula isut2 faham basa dayak trnyata mirip dengan mendawai..tapi kula lebih familiar dengan basa ngaju sampai wayah tuh..
    puji kula membasa artikel..mun suatu bahasa mulai jarang ihapan penutur’a..ulih punah basa tuh..kilenampi pendapat dika?.belaku maaf mun basa kula tuh tege je keliru..

    Tutu kuam, semakin jarang bahasa dipakai semakin dekat pada kepunahan. Kalau bahasa Mendawai ada kemiripan dengan Ngaju, te karena sama-sama Dayak. Bahasa menunjukkan budaya, apabila nehau bahasa maka berkurang warisan budaya. Ayu itah jaga.

  3. Opie berkata

    aslqm..kula handak maiesek..arti kata “kumpai” kabuat te narai lah wa ?kenampi sampai inyewut bakumpai..trimakasih ats penjelasannya.

    Kumpai te tumbuhan rawa (Scirpus grossus L), sedangkan awalan ba- arti ei memiliki (tergantung konteks). Jadi Bakumpai menunjukkan tempat yang ada kumpainya, sedangkan dalam pembahasan menunjukkan sebuah suku-bangsa yang termasuk bagian Dayak.

  4. opie berkata

    maaf kalau pertanyaan saya dianggap tidak penting..saya tetap haus akan pengetahuan.satu mata air,tidak akan cukup menghapus dahaga saya..trims atas beberapa penjelasannya slama ini.

    Damen beh Le, pertanyaan bahalap tutu apalagi merupakan rasa ingin tahu. Tetap semangat.

  5. opie berkata

    are tarimakasih wa..maklum,masih daha’tabela..hehehe.

    Damen beh, “darah muda darahnya para remaja” kuan bung Rhoma

  6. Poeboe@84 berkata

    Wah bagus banget nich postingannya.
    Eh kbetulan mamaku bakumpai.
    Tp aku nda tau bagaimana suku ini sampai di tempatku. Di tempatku, suku bakumpai dikelilingi oleh suku Maanyan. Tempatnya di desa Magantis, Tamiang Layang. Di Desa tersebut semua orang menggunakan bahasa bakumpai sebagai bahasa sehari-hari

    Terima kasih atas infonya, saya pun pernah mendengar bahwa komunitas Bakumpai di Tamiyang Layang terdapat di desa Magantis. Sayangnya saya belum pernah ke desa itu, meskipun beberapa kali pernah ke Tamiyang Layang. Menarik juga melacak sejarah keberadaan orang Bakumpai di sana.

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>