Barito Raya

Menggambarkan Kehidupan Masyarakat yang Tinggal di Daerah Aliran Sungai Barito

Orang Dayak Berpuasa (Bagian 1)

Ditulis oleh baritobasin di/pada September 9, 2008

Oleh : Nasrullah


Ketika tiba bulan Ramadhan, aku banyak menerima ucapan selamat menjalankan ibadah puasa yang dikirimkan melalui sms. Sms-sms itu bisa seperti pantun, hingga kutipan hadits. Namun, paling terasa adalah sms dari Juhaidi, temanku yang studi S3 di Bandung, “TITIK banyu mata mangganang buka puasa dan sunset tepian Barito” (Menetes air mata mengingat berbuka puasa dan matahari tenggelam di tepian Sungai Barito).

Sejak awal Ramadhan aku berada di kota Yogya. Bermacam makanan dan minuman sebagai hidangan berbuka, bahkan keramaian kota Yogya dengan berbagai acara menyemarakkan Ramadhan tidak bisa menahan pikiranku untuk teringat kampung. Berpuasa dan ibadah-ibadah lainnya di bulan Ramadhan pada dasarnya berlaku universal bagi seluruh umat Islam, karena dilakukan sesuai ajaran Islam. Jadi Ramadhan di manapun bagi umat Islam adalah sama, tetapi yang membedakannya adalah tradisi budaya dan kehidupan sosial masyarakat dalam menjalankan ibadah puasa tersebut. Dalam tulisan ini akan membahas tradisi orang Dayak Bakumpai dalam menyambut, melaksanakan puasa dan hari-hari terakhir Ramadhan hingga hari raya Idul Fitri. Untuk mengetahui tentang Bakumpai silahkan klik di sini.

Mamagang

Selama Ramadhan di Yogya ada sesuatu yang tidak aku temukan, sesuatu yang hanya ada di kampung halamanku yang berada di tepi Sungai Barito. Itulah sebabnya aku selalu ingat kampung halaman dan ingin segera pulang. Barangkali kalau aku berada di kampung sendiri, dan tidak pergi ke mana-mana sesuatu yang berbeda itu tidak terasa adanya. Bahkan Ramadhan di kampung hanya rutinitas keagamaan belaka.

Oleh karena itu, aku ingin berbagi cerita tentang orang Dayak Bakumpai berpuasa. Cerita ini meliputi latar belakang geografis, tradisi lokal dalam menyambut bulan puasa, ritual di bulan Ramadhan. Cerita ini pula berhubungan dengan istilah lokal orang Bakumpai yang berhubungan dengan bulan Ramadhan.

Kampung aku berada sekitar 36 km dari kota Marabahan, ibukota kabupaten Barito Kuala. Kalau dari kota Banjarmasin, ibukota Kalimantan Selatan ke kota Marabahan berjarak 40 km yang bisa dicapai sekitar 1,5 jam melalui jalan darat. Namun, dari kota Marabahan ke kampungku tidak bisa ditempuh melalui jalan darat, artinya hanya bisa dicapai melalui transportasi di Sungai Barito. Kalau mau bepergian harus menumpang angkutan sungai yang hanya datang dan pergi satu kali sehari. Setali tiga uang dengan keadaan tersebut, di kampungku tidak ada listrik. Yang ada hanya genset milik penduduk, tapi tidak bisa menyalakan listrik selama 24 jam penuh. Praktis kegelapan malam tanpa cahaya listrik di bulan Ramadhan, menjadi cerita yang memberikan arti istimewa.

Kami menanti kepastian hari pertama berpuasa dengan memonitor berita dari radio dan televisi untuk mendengar pengumuman dari resmi pemerintah. Kaum ibu-ibu biasanya mempersiapkan menu untuk makan sahur, begitu juga setelah yakin puasa esok hari maka musholla dan masjid akan ramai dikunjungi jamaah untuk shalat Isya dan tarawih karena hari pertama atau malam pertama melaksanakan puasa di sebut mamagang.

Bagi kaum laki-laki yang bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga, mereka akan ikut memagang, tapi hari-hari selanjutnya tidak berpuasa. Jika ada orang yang baru memagang padahal puasa sudah berjalan beberapa hari, berarti orang tersebut baru memulai puasa. Selain kemampuan fisik, puasa atau tidaknya seseorang pada dasarnya tergantung keyakinan diri untuk sanggup menjalankan kewajiban puasa. Oleh karena itu, banyak orang Bakumpai yang bekerja keras, tapi puasanya tetap lancar saja. Keistimewaan orang yang berpuasa terletak pada kesanggupannya untuk berbuka sampai pada waktunya, meskipun selama berpuasa ia bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Di kampungku, pada siang hari di bulan Ramadhan tidak ada warung yang menjual makanan dan minuman. Oleh karena itu, bagi mereka yang tidak berpuasa hanya akan menyiksa diri karena tidak ada yang di makan. Kalau pun ingin makan, minum atau merokok tidak boleh di sembarang tempat. Sebenarnya tidak ada ketentuan tertulis yang mengatur hal demikian, tapi melanggar norma di masyarakat adalah hukuman sosial yang paling memalukan seperti jadi pembicaraan orang kampung sebagai uluh ji gida katawan basa (orang yang tidak tahu aturan).

Keistimewaan berpuasa dengan kesanggupan diri untuk tidak berbuka, terletak pada rasa kemenangan ketika tiba saatnya berbuka puasa. Inilah puncak dari perjuangan orang berpuasa yakni menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa selama satu hari penuh.

Aku teringat di waktu kecil ketika tiba bulan Ramadhan, bersama kakak-kakakku, kami menyiapkan meriam bambu. Kami memasukkan minyak tanah dan menyalakan api dalam lobang bambu tersebut, setelah beberapa saat untuk memanaskan meriam bambu kemudian terdengar letusan nyaring dari meriam. Suara meriam terdengar bersahut-sahutan dari beberapa tempat, kadang kami main perang-perangan dengan saling menghadapkan moncong meriam. Kini meriam bambu sudah jarang digunakan. Selain bambunya tidak ada, orang lebih senang bermain petasan, kembang api dan mercon. Mungkin lebih praktis dan nyala apinya bisa berwarna-warni.

Kalau hari panas, takkan terasa jika dibawa bekerja. Tubuh akan lebih capek jika berdiam diri. Namun, jika bulan puasa pada musim kemarau udara yang panas memang menyiksa. Ketika sudah memasuki jam 4 sore, aku sering menceburkan diri ke dalam sungai Barito. Kalau menyelam pada permukaan sungai, air akan tetap terasa panas, jika menyelam lebih dalam akan terasa kesejukan air. Dingin dan membuat tubuh segar kembali.

Waktu berbuka Puasa

Menjelang berbuka puasa, orang-orang berkumpul di depan rumah. Biasanya bergerombol dan mengobrol menunggu saat berbuka. Dari pengeras suara yang dibunyikan kaum (penjaga masjid), penduduk kampung bisa mendengarkan siaran dari RRI Banjarmasin atau Radio Dakwah Masjid Raya Sabilal Muhtadin. Dari situ bisa diketahui waktu berbuka puasa, biasanya didahului oleh ceramah agama, kemudian istigfar barulah kemudian terdengar suara beduk.

Kalau sudah terdengar pembacaan istigfar mulai radio, penduduk akan pulang ke rumah masing-masing karena waktu berbuka sudah dekat. Namun, mendengarkan radio untuk mengetahui waktu berbuka perlu memastikan siaran radio berasal dari Banjarmasin, kalau siaran radio dari tempat lain justru waktu berbuka lebih lambat atau lebih cepat. Untuk menangkap siaran radio, kami tidak bisa menggunakan FM tetapi melalui medium wave (MW). Gelombang ini bisa menangkap siaran radio dari tempat yang jauh, seperti Surabaya, Makasar bahkan Bukit Tinggi. Tempat-tempat tersebut, terdapat selisih waktu berbuka puasa sangat berbeda jauh.

Jika ada pertanyaan mengapa orang lebih menggunakan siaran radio untuk memastikan waktu berbuka, dibanding menggunakan jam? Pada dasarnya setiap penduduk kampung memiliki jam, baik jam tangan maupun jam dinding. Namun, terdapat perbedaan pemahaman mengenai penunjuk waktu. Ada yang disebut jam waktu dan jam wit. Jam waktu dipahami dengan waktu shalat yang tetap. Misalnya, shalat subuh pada jam 5, shalat zuhur pada jam 12, shalat Ashar pada jam 4, shalat magrib pada jam 6 dan shalat isya jam 7. Misalnya shalat subuh pada jam 5 pagi, berarti jarum pendek menunjukkan angka 5 dan jam panjang menunjukkan angka 12. Begitu pula dengan waktu shalat lainnya. Adapun jam wit menggunakan ketentuan jadwal yang berlaku, yakni kalau shalat subuh misalnya tidak tepat jam 5 pagi. Tentu ada perubahan waktu beberapa menit, baik bertambah atau berkurang.

Nah, kalau jadwal buka puasa, termasuk juga imsak atau shalat Jum’at, orang tidak bisa menggunakan jam waktu karena akan terjadi selisih waktu. Sehingga mendengarkan radio lebih dipercaya dari pada berpatokan kalender berbuka puasa yang jarang digunakan. Padahal mendengarkan siaran berbuka di radio, sama saja dengan melihat kalender berbuka puasa di bulan Ramadhan.

Jika tiba saatnya berbuka puasa, kami biasanya minum dan makan kue saja. Selanjutnya pergi ke sungai Barito untuk berwudhu, tapi sebelumnya duduk-duduk beberapa saat melihat pemandangan di Sungai Barito. Terkadang ada kapal-kapal yang lewat, sesekali tog boat yang membawa tongkang berisi batu bara yang menggunung bentuknya. Ada juga lanting Barito (Rakit kayu dari hulu Barito) yang nyala lampu minyak kelap-kelip di setiap sisi lanting, seperti kunang-kunang yang beterbangan menyambut malam tiba.

Setelah melaksanakan shalat magrib, kami melanjutkan makan. Setelah itu, bersiap-siap ke masjid untuk shalat Isya dan shalat tarawih. Di malam hari, biasanya suara dari kejauhan akan terdengar jelas, sehingga menjelang shalat Isya terdengar suara azan dari desa tetangga. Suara itu dipantulkan oleh pepohonan maupun dibawa larut oleh riak sungai Barito. Kampung kami yang sepi dari gemuruh mesin kendaraan dan hanya sesekali dipecahkan oleh suara angkutan sungai, semakin malam akan terdengar suara azan maupun lantunan ayat suci dari baik dari hulu atau hilir sungai.

Tarawih

Berangkat ke masjid untuk shalat isya dan tarawih, biasanya kami membawa senter untuk menerangi jalanan. Sesekali jalan yang dilewati terang oleh adanya listrik dari genset warga. Selain itu, beberapa orang membawa colok (obor) yang cahaya apinya terlihat menari-nari dari kejauhan. Masjid di kampungku saat ini menggunakan genset untuk menghidupkan listrik, sehingga kami bisa menggunakan pengeras suara. Sebelumnya, untuk menghidupkan pengeras suara kami menggunakan aki yang kalau stroomnya mulai berkurang, suara mic pun terdengar seperti orang yang sakit tenggorokan. Selain tarawih di masjid yang berada di hilir kampung, kami juga memiliki musholla yang berada di hulu kampung. Jadi, penduduk yang shalat bisa memilih tempat yang terdekat dengan rumah mereka masing-masing. Musholla di kampung kami menggunakan pengeras suara yang dinyalakan melalui aki, beruntung kekuatan aki bisa diisi setiap hari dengan menggunakan pembangkit listrik tenaga surya.

Begitu selesai shalat Isya, beberapa orang shalat sunat dua rakaat, dilanjutkan shalat tarawih berjamaah sebanyak 20 rakaat dengan ketentuan satu kali salam setiap dua rakaat. Biasanya karena terlalu banyak rakaat, bacaan surah di setiap tarawih dipercepat sebab kalau panjang akan terasa makin lama. Imam yang bacaannya cepat, akan menjadi kesukaan jemaah shalat.

Setiap salam jamaah mengucapkan salawat. Siapa saja boleh mengucapkan salawat yang dijawab oleh jamaah secara bersamaan. Kadang dari ujung saf sebelah kiri, seorang jamaah mengucapkan salawat “Allahumma shalli alaa Muhammad” dijawab “Allahumma shalli wa sallim alaih” secara bersamaan. Setelah itu, bisa saja jamaah di ujung saf sebelah kanan, di tengah atau di belakang mengucapkan salawat kedua “Allahumma shalli alaa rasulika sayydina Muhammad” begitulah seterusnya secara bergantian di setiap salam. Setelah shalat tarawih dan membaca doa, dilanjutkan shalat witir sebanyak 3 rakaat yakni dengan 2 kali salam. Salam pertama, dilakukan sebanyak dua rakaat dan salam kedua dengan shalat sunat witir satu rakaat. Setelah mengucap salam terakhir dalam shalat witir dilanjutkan dengan pembacaan doa, kemudian mengucap niat puasa secara bersama-sama. Sebelum pulang jamaah akan bersalaman satu sama lain.

Judul tulisan ini berinspirasi dari judul buku “Orang Batak Naik Haji”

Satu Tanggapan ke “Orang Dayak Berpuasa (Bagian 1)”

  1. fahrezaer berkata

    mantap

    thank

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>