Meniti Puisi di Jembatan Rumpiang
Ditulis oleh baritobasin di/pada Juni 23, 2008
Oleh Nasrullah
Apa yang anda rasakan ketika berdiri di jembatan Rumpiang, apa yang anda lihat dari ketinggian jembatan itu dan apa yang anda fikirkan dari atas sana? Jika yang kita fikirkan adalah kemudahan untuk berulang-alik Marabahan – Banjarmasin, atau tempat sepasang anak muda memadu janji di atas jembatan itu, maka percayalah teman, Jembatan Rumpiang menjadi miskin makna dan jembatan ini hanyalah sekumpulan rangkaian besi untuk menghubungkan dua buah daratan.
Sebuah benda apapun bentuknya, apalagi terkait untuk kepentingan orang banyak sesungguhnya menyimpan banyak cerita, jembatan Rumpiang bercerita tentang kelahirannya yang dibidani oleh tiga orang bupati. Ide pertama disampaikan Bardiansyah Mudjidi, kemudian menjadi bola salju di masa Bupati Eddy Sukarma terus diusahakan dan disambut Hasanuddin Murad (sewaktu menjadi anggota DPR Pusat). Kini, di masa bupati Hasanuddin Murad jembatan Rumpiang telah berdiri tegar dan oleh Presiden Republik Indonesia Sosilo Bambang Yudhoyono dikatakan inilah bukti konkret sinergi pusat dan daerah (pemprop dan pemkab) dalam memberikan dana untuk membangun jembatan.
Jembatan ini hendakanya menjadi inspirasi banyak orang sesuai dengan profesinya masing. Jika seorang penulis novel menceritakan sungai Barito dari Jembatan Rumpiang, aku yakin akan lebih indah dari Sungai Lenggang dalam novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata, atau Sungai Lenggang dalam Wisata Belitong tulisan Yusril Ihza Mahendra.
Aku teringat pelajaran fisika dulu, jika saja seperti sekarang tentu pikiranku akan terbuka menghadapi soal bila kupraktekkan di jembatan Rumpiang, anggap saja jika sebuah batu seberat 500 gram dijatuhkan dari atas Jembatan Rumpiang dengan ketinggiannya 1 km dengan gaya gravitasi maka berapakah kecepatan batu itu? Sungguh pelajaran fisika menjadi enak dipelajari seperti ini.
Teman, kalau saja aku seorang penulis puisi, percayalah akan banyak puisi terinspirasi dari jembatan Rumpiang. Tapi aku tak bisa, karena hanya seorang penikmat puisi tapi karena puisi-puisi dalam buku berjudul “Cinta Rakyat Antologi Puisi Sastrawan Barito Kuala” maka tulisan ini sanggup saya lakukan. Apalagi cover buku itu, memperlihatkan sepenggal jembatan Rumpiang, tepat sekali untuk kubicarakan. Jadi teman, marilah kita menembus batas jembatan Rumpiang keluar dari tubuh kasarnya berupa rangkai besi, beton, aspal, semen dan lain-lain kita masuk ke dunia lain yakni dunia kaum sastrawan.
***
Suatu pagi minggu yang cerah, jembatan Rumpiang ramai didatangi oleh anak-anak muda dengan wajah ceria, bersama keponakanku aku berbaur di keramaian itu. Nun jauh di sana kulihat alam yang masih hijau menyegarkan mata, belum ada cerobong pabrik menyemburkan asap melukis hitam langit Marabahan. Barisan gunung-gunung nampak samar namun berjejer rapi, aku membayangkan seperti barisan prajurit-prajurit yang perkasa menjaga petak danumnya dan siap melawan penjajah.
Dari atas jembatan Rumpiang ini, ingin kutunjukkan kepada keponakanku arah kota Marabahan, dan disana dulu para pejuang silih berganti lahir. Ingin kuceritakan kepadanya, seseorang yang ditakuti Belanda dialah Panglima Wangkang Sang Hulubalang (seperti judul tulisan Helius Sjamsuddin, yang menceritakan perjuangan Panglima Wangkang). Ingin kuceritakan pula di Badandan, Panglima Wangkang berjuang mati-matian dengan gagah berani melawan Belanda hingga tetes daarah terakhir, barangkali saat itu terbayang olehnya Pambakal Kendet sang Ayah yang dipancung Belanda. Aku ingin bercerita perjuangan orang Bakumpai, karena barangkali pengetahuan sejarah lokal mulai tidak dipedulikan orang. Tapi keponakanku masih terlalu kecil untuk tahu, ia asyik melihat ke bawah jembatan, ia berteriak dengan suaranya yang cadel membuyarkan lamunanku. “Mang, batubala… batubala mang kanih” katanya menatap wajahku, dan tangannya menunjuk ke arah tongkang batubara yang ditarik tugboat.
***
Jembatan Rumpiang memang menggodaku, ketika berkenalan dengan mahasiswa di Jogja dan kukatakan aku berasal dari Marabahan lalu mereka segera berkata “Wah di sana ada jembatan Sydney”. Luar biasa, kota Marabahan sekarang go internasional dan disamakan dengan negeri yang terkenal dengan binatang kangguru itulah Jembatan Sydney Harbour jalur utama untuk menyeberangi Pelabuhan Sydney (Sydney Harbour) yang menghubungkan distrik bisnis sentral Sydney (Sydney CBD) dengan wilayah utara Sydney (North Sydney). Di atasnya terdapat jalur kereta api, kendaraan bermotor, sepeda, dan trotoar (www.wikipedia.com).
Desa Rumpiang dulu hanyalah desa sepi di ujung hilir kota Marabahan, sesekali bunyi feri meramaikan suasana. Merobek sunyi desa di hilir kota.
….
Perjalanan menyeberangi penyeberangan panjang
Mestikah tetap jalan
Di tempat himpitan ombak
Gesekan gelombang sungai Barito
Lewat feri kecil asapnya menjelaga
Setelah batu-bara lewat
….
(Ahmad Albar BS. 2007:5)
Jika ada seorang pemuda yang jatuh cinta kepada kekasihnya, dan berada di desa Rumpiang maka puisi inilah yang tepat menggambarkan suasana hatinya:
….
Di hilir, penghujung kota ini
Ku kejar bayangmu pergi
Dalam temaram cahaya
Namun… langkahku terhenti
Tak Pasti
(Eddy Rosadi, 2007:18)
Jika bukan karena cinta, barangkali untuk menggambarkan kesunyian dengan bait puisi yang lain:
Yang lalu
Tak ada apa-apa disitu
Hanya sebuah pelabuhan
Tempat menyeberangku dulu
(Mutia Rahmah Albar, 2007: 86)
Kini dua tempat yang menghubungkan jembatan Rumpiang mulai terkenal dan menjadi ramai, tak salah kalau kita berharap akan menjelma seperti distrik bisnis sentral Sydney (Sydney CBD) dan wilayah utara Sydney (North Sydney). Dan jembatan Rumpiang itu, tak salah kita sebut sebagai The Coathanger (gantungan pakaian) seperti jembatan Sydney yang membuat kita bangga.
….
Jembatan Rumpiang
Sidney ke – 2 kusebut dia
Sebuah kebanggaan sendiri
Bagiku
Bagimu
Bagi siapa saja yang memandangnya.
(Mutia Rahmah Albar, 2007: 86)
Tahukan teman, entah karena kebetulan dari bentuk fisik jembatan Rumpiang memang seperti jembatan Sydney, tapi lebih dari itu masih ada kebetulan yang lain. Jembatan Rumpiang ini dibangun ketika Batola mengalami masa krisis status, yakni sebagai salah satu kabupaten tertinggal di Indonesia dan yang terjadi di Sydney di masa lalu ternyata sama, jembatan itu rampung dibangun pada masa krisis ekonomi besar yang dikenal dengan the Great Depression. Jembatan Pelabuhan Sydney dulu dijuluki sebagai paru-paru besu karena membantu menghembuskan nafas kehidupan ke kota tersebut dan ke seluruh negara yang dilanda krisis (lihat http://www.bbc.co.uk/indonesian.). Maka marilah kita berharap lagi, jembatan Rumpiang ini menghembuskan nafas kehidupan kepada masyarakat Batola.
***
Sekarang marilah cerita kita tarik mundur, berdirinya jembatan Rumpiang tak ubahnya para pelari yang membawa tongkat estafet, satu periode Bardiansyah Mudjidi memimpin Batola berlari menyerahkan tongkat estafet kepada Eddy Sukarma, hingga akhirnya tongkat estafet mencapai garis finis di tangan Bupati Hasanuddin Murad sekarang.
….
Sementara,
Jembatan Rumpiang
Menunggu waktu
Menautkan kita
….
Diam-diam dalam diam
Aku semakin bangga
Menjadi wargamu
Barito Kualaku
….
(Rizhanuddin Rangga, 2007:91)
Setiap estafet itu tentu mengalami proses perpindahan atau suksesi, jembatan Rumpiang adalah saksi bisu suksesi di Batola. Diam-diam dalam diamnya (meminjam puisi R. Rangga), jembatan Rumpiang menyerap semua harapan untuk berkuasa, jeritan dan kegembiraan selama suksesi berlangsung.
….
Tiba-tiba terdengar teriakan
Aku harus menang … !
Aku tak boleh kalah … !
Akulah penguasa … !
….
(M. Aini Asmuni, 2007:64)
Barangkali jembatan Rumpiang juga menyimpan rahasia bisik-bisik pesan strategi menuju kemenangan dalam suksesi, tapi tentu ia hanya diam menyerap semua rahasia karena ia bukanlah suka membuka rahasia orang lain. Biarkan semua berjalan apa adanya, begitu Rumpiang berkata kepada sungai Barito dibawahnya. Maka sebelum tahu perang berakhir, sebelum kepala mencium tanah dalam sujud dan tafakkur syukur tentu lengkung jembatan Rumpiang menerima isyarat-isyarat keresahan dan kegundahan menunggu hari esok.
…
Matahari kirip di seberang barat
Kecewa bagai jaring tersangkut menunggu saat pilihan
Berdenyut rasa jantung darah di dada
Rasanya tidak …
Rasanya ada…
(Bajau Malela, 2007:14)
Begitulah setiap detik berlalu terasa sangat lama, ketika enja berganti gelap dan malam merayap menyimpan misteri, tabir gelap takkan terbuka hingga menunggu tabir tersingkap esok hari. Jembatan Rumpiang tetap diam, meskipun nasibnya tergantung niat baik siapa yang terpilih, dan ketika waktu itu ia tahu semua kejadian. Ia tahu suara-suara gemuruh itu menerpa tubuhnya dan tak kuasa ia redam, maka ia gemuruh itu ia pantulkan ke arah mana saja.
Gemuruh jejak langkah para pemilih
Telah merobek ratusan ribu surat suara
Gemuruh bunyi paku para pencoblos
Tidak mampu ‘mangariau’ orang-orang di ‘hubung’
Orang-orang di tepian.
Orang-orang di perempatan
Gemuruh pekik menyebut nama sang calon sahut menyahut
Dengan alunan azan
Game over !
Perang telah berakhir !
(Surya Achdiat, 2007:118)
Semua masa telah berakhir, masa baru kembali bermula dan pagi yang sibuk itu bergerak menuju siang tapi suara gemuruh suksesi berlahan meredup, kekarnya jembatan Rumpiang tak lagi memantulkan suara karena suara mulai menurun dan meredup dalam ucapan selamat. Dan petang itu, ia tahu dari kokohnya tiang jembatan yang menancap kuat di dasar bumi Bahalap, terdengarlah bisikan rahasia bahwa anak negeri telah datang kembali untuk berbakti. Ia menerima kemenangan bukan untuk bergembira tapi larut dalam tafakkur, sambil berucap.
….
Selamat Petang tanah leluhur
Sebelum senja tergelincir di riak air
Pastikan air rasa syukur
Mengalir dan mengalir dari setiap hati tafakkur
(Jaka Mustika, 2007:60)
Biarkanlah mereka yang bertafakkur, namun terimalah juga ucapan selamat datang, karena yang selama ini terasa menggumpal di dada mereka berharap antara ada dan tiada. Senja semakin meredup di jembatan Rumpiang, matahari tenggelam perlahan menunggu kepastian hari esok. Kini tahulah sudah siapa yang terpilih, sebait puisi selamat datang jatuh menggetarkan air di sungai Barito menebarkan riak-riak kegembiraan yang menyentuh tiang-tiang jembatan.
Selamat datang…
Selamat datang…
Selamat Datang anak negeri
Anak Banua yang siap membangun negeri.
(Bajau Malela, 2007:15)
Kini badan Jembatan Rumpiang tidak lagi disentuh oleh telapak kaki yang ragu melangkah, ucapan selamat datang mengandung isyarat anak banua yang betul-betul siap memimpin dan berpengalaman, bukan siap setelah menjadi pemimpin. Namun Jembatan Rumpiang ini pun menyimpan khawatir, orang-orang yang menjejakkan kaki ditubuhnya selalu memandang ke atas dan lupa memandang ke bawah padahal ia mendengar rintihan pemuda yang hanyut dalam sepotong puisi.
….
Rambai-rambai pasrah, tumbang tak berpenghadang
Karena tanah luruh ketika gemuruh riuh
Sementara lidah-lidah berlompatan
Terjejal air berubah rasa candu masam
Tergelepar ikan-ikan dibagian terbuang
Karena sungai-sungai menjadi tempat yang asing
Tak banyak lagi jukung-jukung bertambat
Pengayuh-pengayuh patah, kalah berpacu
Dengan deru mesin dan kibasan tongkang
…
(Aspihan N. Hidin, 2007:11)
Ingin sekali Jembatan Rumpiang ini berkata kepada orang-orang yang menjejakkan kaki di tubuhnya, supaya tidak selalu mendongak ke atas lihat pula yang dibawah. Tapi ia hanyalah sekumpulan besi yang hanya bisa diam, bahasanya bukan bahasa manusia, namun kini suara apapun yang datang padanya akan siap ia pantulkan kemana saja dan kepada siapa. Di tengah teriakan suka cita dan kegembiraan, ada seorang ibu sambil menggendong anaknya sambil meniti jembatan yang makin menanjak. Ibu itu berkata:
….
Ui… Anjang ji memimpin lebo
Tulung beh imbangun lebo itah
Impapintar manusia eh, impaare gawian akan iki
Mangat iki ida sandukung malumu tunjuk
(Imelda, 2007:44)
***
Teman, di pagi minggu yang ramai itu, kuabadikan jembatan Rumpiang dalam beberapa kali kilatan cahaya camera ku. Keponakanku dengan riang berdiri disampingku, di jembatan mirip Sydney ini kami berfoto. Dan setelah itu semuanya terasa begitu cepat, burung besi yang kutumpangi lebih cepat membawaku sampai ke perantauan untuk menimba ilmu, daripada aku naik kelotok pulang ke kampung halaman.
Foto-foto itu dengan bangga kuperlihatkan kepada temanku seorang mahasiswi dari Negeri Matahari Terbit, kepadanya ingin kukatakan, inilah jembatan kebanggan kami seperti Jembatan Sydney tapi tak usah kusebutkan, biarlah foto itu kuberikan padanya dan biarlah foto-foto itu saja yang bercerita dengan jujur. Tak kusangka beberapa hari kemudian kami berpisah, sebuah pesan pendek darinya masuk ke dalam hp ku. Ia mengatakan “Aku penasaran melihat jembatan besar itu, semoga besok-besok aku diberkati kesempatan untuk datang kesana”.
Kubaca berulang kali pesan pendek itu, entah kenapa tiba-tiba seolah menjadi puisi yang indah. Seindah ia mengatakan saat ini musim semi di tempatnya, dan bunga-bunga sedang bermekaran di bulan Mei. Semuanya menjadi serba indah seperti sebuah puisi Hitomaro Jika Geludug Mulai Mendentam dan ia seolah berdiri di jembatan Rumpiang membacakan puisi untukku.
Jika geluduk mulai mendentam
Dan langit berlayar hitam
Maka datanglah hujan:
Engkaupun ada di sampingku
Tapi jika geludug tak ada
Dan Hujan tak jatuh
Jika saja kau minta
Aku siap ada disampingmu
(Hitomaro dalam Sapardi Joko Damono, 2007:42)

wahidah berkata
kalau mau konsultasi ke bapak Bupati gimana caranya ya?
belle setiawan berkata
Jembatan Rumpiang..
Semoga tidak hanya jadi simbol belaka
Semoga slalu terpelihara
Warga batola…
Duhh.. pengen deh kesana.
I hope so
fuji berkata
tenyata selama ini Batola adalah kota yang perlu dan wajib d,banggaakan.. dan buktikan kepada semua orang…. bahwa batla bisa maju sepeerti kota-kota lain,,, dan jadikn lah iya sebuah propnsi,,,,
sukses selau,,,,,
semangat batola…
jaya..
Hmmm,menjadikan Batola sebuah propinsi…Mungkinkah???
comeng berkata
om yun to klo na buat brta yg lgkp dong jgn stgh2……….????
Kalo nulis komentar jangan pake singkatan yang ngerti kamu aja. Beritanya lengkapi sendiri aja.