Barito Raya

Menggambarkan Kehidupan Masyarakat yang Tinggal di Daerah Aliran Sungai Barito

Jenis Angkutan di Sungai Barito

Ditulis oleh baritobasin di/pada Mei 25, 2008

Jukung dan kelotok adalah alat transportasi di Sungai Barito yang paling populer, Petersen (2001) secara detail menggambarkan jenis jukung di Sungai Barito beserta bahan-bahan dasar dan cara pembuatannya, adapun jenis jukung tersebut adalah : Jukung Sudur Jukung Rangkan, Jukung Patai, Jukung Hawaian, Alkon, Jukung Rombong, Klotok Halus, Feri, Klotok Baangkut Barang, Jukung Nalayan, Jukung Tiung, Jukung Raksasa, Motorbot. (Mengenai penjelasan masing-masing Jukung, lihat Petersen, Jukung dari Dataran Rendah Barito, 2001)

Dari semua jenis jukung tersebut, ada beberapa paling populer bagi masyarakat sungai Barito sementara sebagian lainnya jarang digunakan. Sebelum membahas tentang jenis angkutan sungai, terlebih dahulu saya kemukakan ada dua bagian utama dari kapal sungai, yakni haluan dan ngambudi. Haluan merupakan bagian depan kapal, tempat juragan kapal menyetir. Setiran dihubungakan dengan tali yang digulungkan kemudian pada dua sisi kapal tempat tali tersebut akan diikat pada dua ujung sampan pada buritan. Selain tali untuk sampan, ada satu tali berhubungan dengan mesin kapal. Di sebut tali gas, jika ditarik kecepatan kapal akan bertambah namun jika diulur kecepatannya akan melemah hingga mesin menjadi mati. Apabila jenis kapal menggunakan kopling untuk maju, mundur dan prai (tidak jalan), akan menggunakan satu lagi di ujung tali bagian mesin dihubungkan ke sebuah lonceng. Apabila loncengnya berbunyi satu kali “teng”, maka kopling harus prai, bila lonceng berbunyi dua kali, “teng, teng” maka kapal harus maju, kalau lonceng berbunyi tiga kali “teng, teng, teng” berarti kapal harus mundur. Adapun ngambudi adalah buritan kapal, terdiri dari mesin kapal dan bagian terakhir di belakang kapal terdiri dari roda dan sampan kapal. Dengan kata lain, ngambudi adalah tempt untuk mesin mendorong kapal untuk bergerak sedangkan haluan mengatur kecepatan kapal sekaligus arah bergeraknya kapal.

Kembali kepada jenis kapal, saya membagi angkutan sungai, berdasarkan penggunaannya ada tiga macam, yakni Kapal Tarik, Kapal Barang dan Angkutan Pribadi, sebagai berikut:

1. Kapal Tarik

Jenis kapal ini digunakan untuk menarik angkutan besar, Petersen menyebutnya dengan istilah Kapal Tunda, atau Tog Boat semua bahan dasarnya terbuat dari besi. Kapal Tunda/Tug Boat tersebut digunakan untuk menarik tongkang berisi batu-bara atau kayu (log) tebangan dari hulu Sungai Barito. Sesuai dengan kegunaannya, kapal tarik mempunyai kekuatan besar untuk membawa beban. Bisa juga digunakan untuk menarik lanting (rakit kayu), umunya lebih kecil dari pada kapal tarik untuk tongkang. Sebab menarik lanting diperlukan kapal-kapal tarik dengan jenis lain, menggunakan mesin diesel (kelotok) dengan haluan lebih lancip dan buritan tumpul gunanya supaya lebih mudah berputar dan tidak hanya menarik juga berfungsi mendorong.

Lanting berisi jejeran batang kayu panjangnya mencapai seratus meter lebih, di kelokan-kelokan Sungai Barito mesti hati-hati untuk menariknya. Resiko ceroboh adalah tali-tali mengikat kayu bisa putus, kalau terjadi batang kayu akan berhamburanh atau lanting mengenai pemukiman penduduk. Jadi meskipun kekuatan mesin kapal bisa menarik dengan kuat dan cepat, diperlukan kehati-hatian agar tidak beresiko kecelakaan di Sungai Barito.

2. Kapal Barang

Digunakan khusus untuk mengangkut barang, termasuk hasil hutan di dalam kapal tersebut. Terbuat dari besi adalah kapal tanker, oleh penduduk di sebut Kapal Tampak karena haluannya tumpul digunakan untuk mengangkat minyak atau kendaraan alat berat, seperti derek, stom, eskavator dan lain-lain. Kemudian terbuat dari kayu, semua dinding terbuat dari papan dan atapnya menutupi keseluruhan dari kapal tersebut. Kapal Dagang, isinya barang-barang (sembako) untuk diperjualbelikan kepada penduduk di sepanjang DAS Barito. Kapal Dagang biasanya datang dari Banjarmasin.

Dari arah berlawanan yakni hulu, kapal dagang sejenis digunakan untuk mengangkut rotan untuk dijual ke Banjarmasin. Jenis angkutan dari hulu ini, bisa seluruh kapal menggunakan atap bisa juga di bagian ngambudi, bagian haluannya saja atau bagian ngambudi dan haluan menggunakan atap di tengah kapal dibiarkan terbuka untuk lebih memudahkan memuat dan mengeluarkan barang.

Jenis lain, adalah Jukung Tiung, bentuknya tidak dibuat serapi dan sehalus kapal barang lainnya. Jukung Tiung dibuat terbuka tanpa atap penutup, kalau pun ada hanya sedikit untuk menutupi mesin kapal (ngambudi). Bahkan kebiasaan jukung tiung tidak dilengkapi mesin, karena digandeng kapal tunda. Jukung Tiung digunakan untuk memuat papan, pasir dan bebatuan atau jenis material yang tahan hujan dan panas. Kemudian Kapal Fery adalah jenis angkutan untuk menyeberangkan motor atau mobil di sungai Barito, meskipun sudah ada jembatan Barito yang menghubungkan dua daratan yang berseberangan namun satu jembatan penyebarangan saja tidak memadai untuk DAS Barito yang begitu panjang.

Jenis lain adalah kapal Camplon, merupakan nama lain dari kapal Pinisi, biasanya berasal dari Indonesia Timur, dari Makassar dan Madura keperluan kapal Camplon hanya untuk membuat hasil hutan Kalimantan berupa galam dan papan.

3. Kapal Taksi

Kapal taksi, kalau model angkutan darat seperti bus, angkot, metromini dan lain sebagainya. Beberapa tahun lalu antara tahun 1980-an dan menjelang tahun 2000 paling populer di Sungai Barito disebut masyarakat yakni Taksi Barito, adalah jenis bis air, kapal dengan bertingkat dua bisa mengangkut ratusan orang. Taksi Barito mengangkut penumpang dari Hulu Sungai Barito hingga tujuan akhir kota Banjarmasin. Di dalam kapal disediakan beberapa puluh ranjang, tentu dengan bayaran ekstra, bagi penumpang biasa bisa lesehan duduk berdempetan kalau penumpangnya sedikit bisa berbaring. Di dalamnya disediakan televisi video, memutar berbagai film untuk membuang rasa jenuh di dalam kapal, juga disediakan warung nasi di buritan kapal. Juga tersedia jamban, yang kotoran langsung jatuh ke dalam sungai Barito.

Kapal taksi jenis tercepat adalah speedboat terbuat dari fiberglass, bisa mengangkut penumpang 25 hingga 30 orang. Penumpangnya memiliki kesan mewah, atau bisa dikatakan sebagai angkutan kelas satu sebab selain cepat, barang bawaan terbatas juga tarif penumpang lebih mahal dari angkutan lain. Di bawah speedboat adalah longboat sesuai namanya bentuknya hanya lebih panjang dan memuat penumpang lebih banyak namun kalah cepat dengan speed boat.

Jenis berikutnya adalah Masin Motor atau motorboat panjangnya mencapai 25 meter lebih besar dari longboat bisa mengangkut penumpang 100 hingga 150 orang. Masin motor dikembangkan dari bakal jukung yang khusus untuk motorboat. Selain di bukanya jalan darat ke beberapa ibukota Kabupaten di sepanjang Sungai Barito. Keberadaan motorboat ini pada akhirnya menggeser keberadaan Taksi Barito dan longboat, karena lebih praktis dan cepat.

Selanjutnya adalah kapal getek, adalah jenis kelotok yang fungsinya khusus untuk mengangkut orang. Getek beroperasi pada kawasan kota Marabahan, untuk membawa penumpang dari desa-desa sekitar kota tersebut. Di banding taksi Barito, Speedboat, motorboat kemampuan getek membawa penumpang lebih sedikit, karena digunakan untuk angkutan sungai jarak dekat.

4. Angkutan Pribadi bernama Kelotok, Ces, Taletek dan Jukung

Angkutan pribadi yang saya maksud adalah angkutan sungai yang paling banyak di miliki orang Bakumpai adalah kelotok, bahan dasarnya terbuat dari jukung hanya saja karena ukurannya lebih besar maka jukung dibuat dari batang pohon kayu besar. Ketika jukung besar dipasang mesin diesel sebagai tenaga penggerak, maka namanya berubah menjadi kelotok. Penggunaan kelotok selain angkutan pribadi atau keluarga, maksimal hanya bisa memuat belasan orang saja bisa digunakan membawa hasil alam berupa buah-buahan, padi juga mengangkut manusia untuk keperluan tertentu seperti berobat dan pergi ke pasar, silaturrahmi atau menghadiri acara perkawinan maupun hiburan di desa lain.

Ada kelotok khusus untuk berjualan, dinamakan jukung rombong ada yang menggunakan mesin diesel dan bisa juga di kayuh saja. Di daerah muara Sungai Barito, barang dagangan dalam jukung rombong adalah minuman hangat seperti teh, kopi, susu dan sejenisnya. Juga menjual kue-kue khas Banjar, cara mengambilnya menggunakan tongkat diujungnya ada paku untuk menancapkan kue-kue tersebut. Di pedalaman sungai Barito, jukung rombong semuanya beratap dan menjual makanan seperti gado-gado dan soto. Pembelinya menunggu di batang sambil membawa piring, bisa juga masuk ke dalam jukung untuk makan disitu.

Mesin kelotok adalah digerakkan oleh mesin diesel berbahan bakar solar, mesin diesel tersebut pada awalnya menggunakan mesin buatan Jepang. Mesin diesel berbahan bakar solar tersebut dihidupkan menggunakan engkol berbentuk huruf “L” yang diputar pada bagian depan mesin dalam kecepatan putaran tertentu engkol dilepas dan mesin akan hidup, sebagai pendinginnya diperlukan air yang dipompa melalui tekanan roda di bagian belakang dihubungkan dengan selang ke dalam bagian mesin paling bawah, air akan keluar bagian atas mesin yang juga dihubungkan dengan pipa selang untuk mengeluarkan air keluar.

Perbedaan jenis mesin, membedakan nama jenis angkutan sungai, sebab selain mesin diesel yang praktis lagi, ada mesin jenis lain yabng menghidupkannya dengan cara ditarik dan menggunakan pendingin dari kipas angin dalam mesin tersebut yang dinamakan ces. Bahan bakar mesin ces terdiri dari bermacam BBM tergantung jenisnya, namun ada yang memakai bahan baar minyak tanah, bensin dan ada juga solar.

Ces selain mudah menghidupkannya, beratnya lebih ringan dari mesin diesel. Mesin ces kalau di perkotaan saya lihat dipakai untuk mesin untuk memutar tabung angin pada tempat tambal ban, atau pompa air bahan bakarnya bisa bensin atau minyak tanah. Sehingga kalau sudah selesai memakainya, pemilik ces bisa melepaskan mesin dan menyimpan di dalam rumah sehingga tidak khawatir akan hilang dicuri, maupun tenggelam. Kapal Ces hanya mampu menampung beberapa orang saja, namun lebih praktis digunakan.

Pengaruh negara besar dunia, nampaknya juga memberi dampak kepada pemilik angkutan Sungai Barito terutama masyarakat pedesaan. Cina muncul sebagai saingan Jepang memproduksi mesin kelotok, tentunya dengan harga lebih murah meskipun kualitas masih di bawah. Mesin Diesel China masuk menjelang tahun 2000 dan Orang Bakumpai dengan kemampuan terbatas mulai beralih kepada mesin diesel buatan Cina, meskipun daya tahan mesin agak kurang namun suku cadangnya mudah ditemukan sehingga merk-merk Jepang mulai redup di perairan Sungai Barito. Karena kualitasnya dibawah mesin buatan Jepang, selalu saja ada kerusakan di sana sini. Sehingga lebih sering memeriksa mesin, terutama bagian baut banyak yang longgar. Oleh orang Bakumpai, bagian mesin sering berbunyi “tek, tek” apabila kepanasan, maka untuk jukung dengan mesin diesel keluaran Cina dinamakan Taletek.

Baik kelotok, ces, atau taletek karena jenis angkutan air maka tidak dihindari lagi kemukinan air akan masuk ke dalam kapal. Kapal besar biasanya menggunakan pompa untuk membuang air, untuk kelotok, ces dan taletek membuang air menggunakan kompa got. Yakni bagian ngambudi badan jukung, biasa di depan mesin di bor hingga tembus dengan kemiringan tertentu namun kemiringannya mengarah mengikuti arus air. Setelah di bor dimasukkan selang, yang di ujung tembusannya dibuat runcing sementara di bagian dalam selang dipotong sejajar dengan badan kapal. Ketika kapal sedang melaju, otomatis terbuka udara akibat ruang kosong di bagian bawa kapal sehingga itulah yang meyedot air di kapal keluar lewat bawah. Ketika kapal berhenti, lobang kompa got harus ditutup agar air tidak masuk ke dalam kapal.

Sebenarnya jukung dalam keseharian orang Bakumpai, adalah perahu kecil yang untuk menggerakkannya digunakan besei (sampan). Jukung paling banyak dimuat oleh 3 orang dewasa, kecuali jenis Jukung Sudur namun sudah langka ditemukan. Mengayuh jukung dengan besei kalau tidak bisa, sama saja dengan orang belajar naik sepeda, kalau tidak jalannya berbelok-belok kemungkinan besar bisa terbalik. Balik mengontrol jukung adalah duduk di ngambudi, agar keseimbangan jukung bisa dikendalikan.

2 Tanggapan ke “Jenis Angkutan di Sungai Barito”

  1. anton budiono berkata

    thanks ya

  2. zee berkata

    salam kenal dari blogger muara teweh. artikelnya bagus megenai sarana transportasi air. moga kalimantan lebih dikenal oleh dunia luar akan halnya Bali

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>