Barito Raya

Menggambarkan Kehidupan Masyarakat yang Tinggal di Daerah Aliran Sungai Barito

Batola Daerah Tujuan Wisata Baru

Ditulis oleh baritobasin di/pada Februari 2, 2008

(Mimpi Mengejar Ketertinggalan)

Oleh : Nasrullah

Saya mulai menulis opini ini, sambil membayangkan pikiran pembaca ketika pertama kali melihat judulnya. Mungkin menimbulkan dua penilaian yang saling bertolak belakang. Pertama, bagi Orang Batola atau pernah tinggal dan tahu tentang Batola barangkali aneh, mustahil bahkan tidak masuk akal. Kedua, bagi orang luar (semoga) akan menjadi penasaran dan timbul pertanyaan apa yang menarik dari Batola?


Dua penilaian itu tentu tidak bisa dihindari. Justru itu yang menjadi landasan berpikir saya dengan melihat dari sisi ordinary (biasa) dan ekstraordinary (istimewa). Kita sebagai orang Batola (insider), cenderung melihat sesuatu secara fisik yang ada dan tersedia di Batola. Ambil contoh, Sungai Barito, ilung (eceng gondok), Anjir (Talaran dan Tamban), Pohon Kelapa, Kebun Purun, Jeruk, Iwak Haruan, Papuyu, Sapat, Kerbau Rawa (Hadangan), Hutan Galam, dan lain-lain yang semua itu dianggap hal biasa.

Kalau dikaitkan dengan hal yang berhubungan dengan keindahan alam untuk tujuan wisata, tentu nilainya di bawah standar. Pikiran kita telah terkonstruksi di alam bawah sadar, bahwa gunung yang dari ketinggiannya kita bisa melihat berbagai pemandangan indah di bawahnya. Pemandangan laut, ada pasir putih di pantai, ombak bergulung saling berkejaran dan matahari tenggelam di senja hari (sunset) adalah keindahan yang selalu ingin dinikmati. Sebenarnya sesuatu yang terhampar di muka bumi maupun tersimpan di dalamnya, merupakan sebuah keindahan dari mahakarya Sang Pencipta. Tinggal bagaimana manusia menafsirkannya sebagai sebuah keindahan dan bernilai seni termasuk di Batola sendiri.

Namun akan sia-sia saja jika kita mengungkapkan keindahan Batola, apalagi sebagai potensi wisata. Kecuali, membawa ‘keluar’ pola pikir kita dengan memakai cara pandang orang lain (outsider) sehingga Batola menjadi sesuatu yang (istimewa).

Seorang teman dari Kota Jogja saya bawa ke kampung saya. Dia yang terbiasa memandang keindahan Pantai Selatan bersama sunsetnya ternyata mengatakan: “Alangkah indahnya matahari tenggelam di balik pepohonan di tepi Sungai Barito”. Sayangnya dia tidak sempat melihat lanting kayu yang di setiap sisinya, tepat di ujung batang kayu tebangan ada lampu minyak. Apabila malam hari ratusan lampu minyak dinyalakan, seakan seribu kunang-kunang sedang terbang berarak di atas permukaan Sungai Barito yang ternyata memberikan kesan indah bagi orang luar.

Setiap akhir pekan terutama di musim kemarau, puluhan bahkan mungkin ratusan orang pergi ke Kuripan menumpang kelotok hanya untuk menyalurkan hobi memancing ikan. Itu potensi Batola yang belum dikelola. Masyarakat setempat mungkin berhati-hati, manakala areal mereka tersentuh orang luar. Tapi sesungguhnya, ada wilayah tertentu bisa dinegoisasi dan menjadi ruang publik untuk menyalurkan hobi memancing.

Saya mengambil contoh Batola di Kecamatan Kuripan saja. Apa yang bisa kita lakukan dengan ternak kerbau rawa di Desa Tabatan, padahal di Danau Panggang HSU sudah menjadi ajang wisata karapan kerbau rawa. Apakah bukan sebuah keindahan, ketika menyaksikan rombongan kerbau berjalan beriringan menyisiri rerumputan yang hijau.

Barangkali saya terlalu jauh ‘bermimpi’. Tapi, apabila kita hanya berpikiran dari sudut pandang kita hasilnya akan biasa saja, tidak ada yang menarik. Ide itu menghendaki penikmat wisata Batola, berasal dari mereka yang terbiasa dengan pemandangan pegunungan dan lautan yang berasal dari tempat tak terkira jauhnya dan mencari suasana pemandangan lain.

Jika ada niat mencobanya, barangkali bisa dimulai dari hal sederhana yang halus dan estetis: menggugah alam bawah sadar kita atas keindahan alam sekitar kita. Saya membayangkan siring di depan rumah dinas Bupati Batola tidak hanya dimanfaatkan oleh pedagang di sore hari, namun diselingi kehadiran seniman dengan latar Sungai Barito dan Negara. Ajaklah seniman melukiskan keindahan Sungai Barito di atas kanvas, atau melalui puisi, prosa dan pembacaan cerpen.

Seberapa pun indahnya tempat kita, jika tidak diketahui atau dipublikasikan tentu akan sia-sia. Itulah yang saya rasakan. Di zaman sekarang, kita perlu memanfaatkan dunia maya. Batola sudah mengalami status tertinggal malah dipersulit, karena sampai tulisan ini dibuat situs resmi Pemkab Batola masih sulit saya akses. Bagaimana orang luar Batola tahu, jika hal sederhana saja diabaikan.

Memanfaatkan jasa blogger, melalui semacam lomba bikin blog untuk mendeskripsikan keindahan Batola, saya kira langkah awal sederhana dan praktis untuk memperkenalkan Batola ke dunia luar. Mulailah kita mengundang orang luar, supaya melihat Batola sebagai sesuatu yang istimewa melalui tamasya mereka di dunia maya. Kita tunggu kehadiran mereka di dunia nyata, yakni menapakkan kaki di Bumi Bahalap.

Semoga Batola tidak lagi menjadi daerah tertinggal, tapi bangkit dengan melihat Batola dari sudut pandang berbeda. Tentunya, dengan penuh percaya diri meskipun hanya dimulai dari sebuah mimpi.

Terbit di Harian Banjarmasin Post, Sabtu 2 Februari 2008

3 Tanggapan ke “Batola Daerah Tujuan Wisata Baru”

  1. Reny Khairina Damayanti berkata

    “bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu…” (Sang Pemimpi; Andrea Hirata). ayo Ka, kita bangkit, merangkai mimpi membangun Batola. banyak potensi yg bisa kita gali, kenapa kita tidak memanfaatkan sungai yg lebar itu sebagai objek wisata dengan perpustakaan terapungnya…? jika ingin memancing minat anak muda, gunakan istilah cafe dipadukan dengan perpustakaannya. ayo semangat…

    Sepakat Ren. Perpustakaan terapung kayanya sudah ada, tapi tidak tahu apakah betul-betul maksimal. Perpustakaan daerah juga ada, tempatnya nyaman dibaca. Sayangnya dari luar kelihatan tidak menarik.

  2. Triongko berkata

    Salam kenal.
    Saya outsider bagi batola. Baru tiga bulan di banjarmasin, dan sudah lima kali ke Batola. Dua kali ke Jembatan Barito, Tiga kali ke Marabahan. Karena harus selalu berinteraksi dengan Barito, sempat terfikir apa obyek wisata yang bisa saya kunjungi.
    Untuk wisata keluarga di siang hari baru kefikiran untuk menikmati alur sungai barito di bawah jembatan barito maupun jembatan rumpiang. Tetapi membayangkan meriahnya cahaya lampu minyak di bantaran sungai sungguh merupakan obyek yang belum terbayangkan. Tapi kapan dan dengan apa ya saya bisa menikmatinya?

    Dear Friend.
    Saya kira inilah perbedaan outsider dan insider. Insider merasa daerah Batola biasa-biasa saja, sehingga hal-hal yang berhubungan dengan potensi wisata tidak tergarap secara maksimal dan profesional. Terutama pihak yang terkait dengan dunia wisata mereka hanya menjalankan rutinitas, tidak pernah mencoba melihat sesuatu berdasarkan pandangan orang luar yang melihat keindahan Batola dari sisi yang tidak terduga oleh insider. Senoga mereka bisa menyadarinya.

  3. Zian X-Fly berkata

    Betul, sebenarnya banyak sekali potensi pariwisata yang bisa digali di daerah kita ini, tinggal pengelolaanya.

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>