(Studi Kasus Terhadap Penonton Piala Dunia 2006)
Oleh : Nasrullah
Tulisan ini mencoba menelaah pendapat Daniel Miller dalam buku World Apart Modernity Through the Prism of the Local pada bab pertama Introduction Anthropology, Modernity and Consumption. Terutama ketika Miller mengatakan bahwa :
1) Barang-barang yang akan digunakan, sering membuat konsumen memilih sesuatu sesuai dengan seleranya. Bisa terjadi pertentangan antara barang yang tersedia dengan keinginan konsumen sendiri, sehingga diperlukan kreatifitas dari produsen dalam menghasilkan suatu barang; 2) Essensi dari konsumsi merupakan hubungan antara ideologi dengan benda-benda dari hasil kreatifitas, ideologi yang dominan akan mempengaruhi bentuk barang. Seseorang konsumen ketika membutuhkan, mungkin tidak dapat memilih, namun dalam pikirannya akan membayangkan bentuk barang ideal menurut kemauannya; 3) Antropologi di masa depan, akan lebih baik bila mempunyai agenda berhubungan dengan perbandingan kapitalis, perbandingan sistem birokrasi, dunia modern dan perbandingan konsumsi.
Tiga point di atas, menjadi topik utama pembahasan penulis dengan mengaitkan dengan fenomena yang ada di masyarakat pencinta olahraga sepakbola, terutama pada saat piala dunia 2006 sekarang.
Sepakbola dan Piala Dunia 2006
Penduduk dunia di negara manapun, nampaknya bersepakat bahwa sepakbola merupakan olahraga yang paling diminati. Piala dunia merupakan ajang pertandingan, tim dari pelbagai negara di berbagai belahan muka bumi berusaha keras untuk menjadi kontestan perayaan olahraga terbesar ini. Piala Dunia 2006 di Jerman, sebagaimana Piala Dunia sebelumnya juga menyita perhatian milyaran masyarakat.
Sepakbola memang sangat menarik, karena permainan ini tidak hanya dilihat dari sudut pandang olahraga. Sepakbola bisa saja dijadikan model dalam kehidupan sosial, ketika Levi-Strauss berbicara tentang struktur social, ia menyebutkan kehidupan social adalah seperti permainan. Robert Layton (1997) memperjelas permainan itu adalah sepakbola dan mengatakan, a sense of what a football match is like, nor will it enable one to predict which team will win the macth. Bahkan sepakbola menjadi ekspresi lain, dari sebuah olahraga penuh konflik. Blancard dan Taylor (1985) dalam The Anthropology of Sport menyebutkan conflict take many forms in any particular society, and some of these are often defined by sporting events. In the United States, the conflictive dimensions of football are perhaps the most obvious illustration of this fact. Itulah sebabnya, setiap berita tentang pertandingan sepakbola, bahasa-bahasa yang digunakan sering menggunakan istilah-istilah berbau peperangan.
Sepakbola sebagai sebuah permainan, benar-benar menembus batas olahraga. Kisah cinta pemain sepakbola pun, bisa dijadikan santapan public. Lihat saja kisah cinta David Beckham dan Victoria, atau perayaan pertunangan Ronaldo. Bahkan Azyumardi Azra (2004), ikut berbicara tentang sepakbola. Menurutnya sepakbola kini semakin melintasi batas-batas sosial, kultural, etnis, agama, ideologi, dan negara. Tetapi, agaknya sepak bola Eropa, khususnya, lebih dari sepak bola di kawasan-kawasan lain, seperti di Amerika Latin, semakin menampilkan dunia kita yang semakin multikultural, yang pada gilirannya cepat atau lambat mengharuskan adanya pandangan dunia dan sikap multikulturalisme, yang pada gilirannya terejawantah dalam kehidupan sehari-hari.
Fakta multikulturalisme dibeberkan Azyumardi, seperti pada tim Perancis, misalnya, ada Zinedine Zidane (asal Aljazair), Marcel Desailly (asal Kamerun), Lilian Thuram (asal Senegal), Patrick Vieira (asal Senegal), atau David Trezeguet yang berdarah Argentina. Lalu masih ada pemain-pemain terkenal black atau colored lainnya, seperti Thierry Henry, Sylvain Wiltord, Louis Saha, dan Claude Makelele.
Ada dua argumen oleh Azyumardi: Pertama, meningkatnya migrasi orang- orang dari wilayah-wilayah yang sebelum Perang Dunia II merupakan jajahan atau koloni negara-negara, khususnya Perancis, Inggris, dan Belanda. Kedua, globalisasi yang mengurangi restriksi-restriksi dalam lapangan kerja. Pada saat yang sama penciptaan Uni Eropa telah memungkinkan klub-klub profesional di Eropa merekrut para pemain dari negara lain secara hampir tanpa batas.
Sisi lain lain sepakbola, ternyata menyentuh dunia magis. Menurut Malinowski ketika permainan diliputi perasaan emosional, antara harap dan cemas mendalam akan ditemukan unsur-unsur magis. Penuturan wasit Jimmy Napitupulu (Kompas, 16 September 2005), baik kompetisi Liga Djarum Indonesia 2005 serta liga sebelumnya, ia mengetahui sejumlah kebiasaan daerah yang mengikutsertakan kepercayaan spritual dalam memburu kemenangan ”Seperti di Stadion Dipta Gianyar, Bali. Ada kebiasaan menggosokkan minyak babi pada tiang gawang serta titik kick off. Stadion Agus Salim Padang, Sumatera Barat. Di sana kalau kita melakukan inspeksi sebelum pertandingan, penjaga gawangnya minta kepada kita agar tidak masuk dalam gawang. Di stadion Brawijaya Kediri, sebelum pertandingan ada tiga butir telur yang persis diletakkan di titik kick off. Di stadiun 17 Mei, Banjarmasin di lapangan akan terlihat nampan di dalamnya terdapat dua gelas kopi kosong serta lisong yang masih menyala.
Isu-isu politik dikesampingkan dalam Piala Dunia, bahkan ketika beberapa negara mencoba melarang Iran untuk ikut piala dunia, karena Ahmadi Nejad presiden Iran menyinggung pembantaian Yahudi di Jerman ternyata tidak membuahkan hasil. FIFA badan sepakbola dunia, mengijinkan tim Iran bermain, karena mereka tidak mau mencampurkan adukkan urusan bola dan politik. Bahkan Jerman sebagai negara penyelenggara piala dunia, mengusung saatnya untuk berteman.
Banyak orang mengatakan, urusan sepakbola merupakan agama baru. Sehingga sepakbola yang diisi oleh pemain dari berbagai agama tidak menjadi perbedaan, Azyumardi Azra dalam tulisannya di harian Kompas, mengatakan sepakbola sebagai civil religion. Selain mengesampingkan perkara agama, sepakbola sangat menentang isu rasis.
Piala dunia sepakbola di Jerman mempengaruhi milyaran penduduk dunia di berbagai Negara. Di Indonesia, aktivitas malam pun menjadi padat dengan menyaksikan pertandingan piala Dunia. Penggila bola, merelakan waktu tidurnya terpotong hanya untuk menonton siaran langsung pertandingan Bola. Acara tontonan yang paling menyenangkan adalah nonton bareng, orang-orang akan hanyut dalam emosi komunal guna mendukung tim negara favoritnya.
Menonton sepakbola ternyata lebih menyenangkan dalam bentuk kerumunan (crowd), wajarlah di kafe-kafe atau tempat terbuka diadakan acara nonton bareng. Kebahagiaan dan kekecewaan penonton bercampur di sana, ketika menyaksikan tim negara unggulannya mengalami kekalahan atau kemenangan.
Hak Siar Tunggal SCTV
Siaran piala dunia 2006 berbeda dengan siaran piala dunia 2002, hanya SCTV memiliki hak tunggal siaran di Indonesia. Sebagai konsekwensinya, SCTV membuat peraturan siapapun yang melakukan acara nonton bareng, baik di kafe-kafe, hotel-hotel, dan tempat publik lainnya apalagi terkait dengan sponsor, mesti minta izin dengan pemilik hak tunggal siaran Piala Dunia 2006, yakni SCTV.
Implikasinya SCTV banyak menuai protes, sedangkan di daerah-daerah SCTV menggandeng media tertentu sebagai fatner siar. Kasus Banjarmasin, harian Banjarmasin Post menjadi media fatner nonton bareng SCTV, namun media massa lain juga mengadakan acara nonton bareng. Di sini ada aroma persaingan, terlihat dalam iklannya, Banjarmasin Post menyatakan “Venue Berlisensi Resmi” dan diperjelas lagi dengan tulisan “Gratis Aman Berlisensi Resmi”.
Kembali kepada SCTV, kalau dulu piala dunia 2002 banyak siaran televisi swasta menyiarkan piala dunia. Artinya penggemar bola, bisa memilih channel manapun. Ketika siaran piala dunia 2006 dimonopoli SCTV, sebagai penyiar tunggal. Ternyata juga berpengaruh besar kepada penduduk, terutama di perkampungan atau daerah-daerah yang jauh dari pemancar ulang SCTV. Masyarakat pengguna antena parabola, praktik tidak bisa menyaksikan siaran piala dunia dari SCTV karena pihak SCTV mengacak siaran tersebut. Tujuannya, demi membatasi wilayah siaran di Indonesia saja, terutama dalam radius jangkauan stasiun pemancar ulang (relay) SCTV.
Siaran Tak Sampai: Dari Antena Robot hingga SMS
Penulis pulang kampung yang terletak 40 km dari ibukota Kabupaten Barito Kuala, atau sekitar 100 km dari Banjarmasin ibukota Propinsi Kalimantan Selatan. Satu-satunya mencapai kampung, hanya bisa ditempuh dengan transportasi sungai. Perkampungan penduduk terpencar-pencar, terpisah oleh hutan, antar kampung pun tidak ada jalan desa yang menghubungi.
Perjalanan mencapai kampung dari ibukota Kabupaten, menggunakan masin motor yakni kapal dengan menggunakan mesin mobil truk, sebagai motor penggerak. Waktu tempuh sekitar satu jam. Penulis mempunyai kebiasaan membawa koran lokal, yakni Banjarmasin Post sebagai bacaan selama diperjalanan. Namun di kampung yang rumah penduduknya sekitar 95 buah, koran itu dikerumuni penduduk. Rupanya mereka ingin tahu, perkembangan piala dunia.
“Kilau kueh adalah Amang um si hikau?” artinya Bagaimana adakah pamanmu di situ? Maksudnya di koran tersebut. Semula agak kebingungan dengan ditanyakan penduduk keberadaan Amang (Paman), terfikir apa hubungannya piala dunia dengan Amang. Seolah-olah terkesan akrab. Ternyata belakangan baru diketahui, Amang yang disebutkan adalah seseorang di kampung wajahnya mirip Ronaldinho. Sehingga kalau ada Ronaldinho di televisi atau surat kabar, penduduk menyebutnya dengan amang um. Apalagi memang amang um pada awal-awal piala dunia, paling menarik perhatian penggemar bola karena keahliannya bermain bola.
Sulitnya menerima siaran bola dari SCTV, membuat surat kabar menjadi media alternatif mengetahui perkembangan piala dunia. Ramai pula perdebatan penduduk, setelah membaca koran tersebut. “Ikih jadi kia mancoba antena robot, tapi ida maku manangkap piala dunia.”. Kami juga telah mencoba antena robot (Antena yang menggunakan rotator untuk mencari sinyal, biasanya merk Mazda) tetapi tetap juga tidak bisa menangkap siaran sepakbola. Pada awalnya mereka masih menikmati siaran piala dunia dari SCTV melalui parabola, ketika pertandingan dini hari, sayangnya tidak berlangsung lama. Pihak SCTV mengacak siaran sehingga kesempatan menonton dengan parabola, menjadi tidak bisa sama sekali.
Begitulah dampak dari tidak sampainya siaran bola melalui SCTV di perkampungan. Namun penggemar bola di kampung, masih mencoba peruntungan lain. Pemilik parabola, mencoba mencari stasiun televisi asing untuk mendapatkan siaran pertandingan piala dunia. Entah informasi dari mana, mereka mendapat siaran bola dari CCTV2.
Namun permasalah belum berakhir, di kampung tidak ada jaringan PLN, sehingga pemilik televisi harus memiliki generator untuk menghidupkan listrik. Sebagai solidaritas terhadap pemilik, warga yang ingin menonton bola mau tidak mau harus bapupuan atau memungut uang iuran untuk membeli minyak solar. Kalau biasanya mesin diesel untuk memutar generator listrik, hanya hidup sampai jam sepuluh malam. Terpaksa istirahat malam tetangga terganggu nyaringnya suara mesin diesel tengah malam, maklum saja siaran televisi asing hanya bisa dinikmati malam hari dan disesuaikan dengan jadwal pertandingan bola.
Pada malam lainnya, lagi-lagi para penggemar bola berkumpul dan mengambil kesepakatan untuk bapupuan kembali. Ilam (40 tahun) menjadi relawan, mengambil uang bapupuan. Setelah terkumpul, tinggal membeli minyak solar. Ternyata acara nonton bareng batal, rupanya jadwal main bukan tim favorite. Lamsi pun mengambilkan uang bapupuan tersebut.
Ternyata seperti kata pepatah, malang tak dapat ditolak untuk tak bisa diraih, siaran CCTV2 juga mendapat gangguan. Orang-orang di Kampung pun, menjadi gelisah. Informasi dari Atak (45 tahun) yang baru datang dari Buntok, Kalimantan Tengah agaknya sedikit menghibur penggemar Piala Dunia 2006, bahwa di Buntok ia melihat orang menggunakan Channel CCTV1. Meskipun demikian, masih saja menyulitkan. Bardi (32 tahun) pemilik parabola, harus mengubah posisi antenanya kemudian program pada receiver.
Ada kode-kode tertentu yang sesuai dengan suatu stasiun siaran, kesulitan mencari angka atau nomor pada kode tersebut, membuat Bardi harus berangkat ke kampung tetangga untuk mencari pemilik pesawat parabola yang mampu menangkap siaran CCTV1 guna mencari tahu kode-kode tersebut. Ia menemui beberapa orang, namun hasilnya nihil.
Berjuang Menonton Piala Dunia
Usaha menonton siaran piala dunia melalui parabola agaknya mengalami jalan buntu, berbeda dengan di ibukota kecamatan. Di kantor Polisi Resor Kecamatan (Kapolres), menggunakan receiver soccer (pemakai soccer menurut informasi harus berlangganan dengan bayaran Rp. 50.000 perbulan. Orang kampung tidak memilikinya, karena beban biaya tersebut lagi pula hanya terpakai selama Piala Dunia 2006) saja yang mampu menangkap siaran SCTV tanpa gangguan. Sehingga setiap siaran pertandingan piala dunia, puluhan penduduk ikut menonton bareng. Berbaur dengan aparat kepolisian, TNI, unsur muspika kecamatan. Saat menonton bola, kantor polisi menjadi daerah tujuan penonton siaran piala dunia.
Jarak kampung, ke ibukota kecamatan memerlukan waktu 1 jam dengan klotok. Waktu demikian, tidak memungkinkan penduduk desa pergi menonton siaran piala dunia, apalagi harus mengeluarkan biaya transportasi. Kebetulan masih ada kampung terdekat, bisa menangkap siaran SCTV dengan antena robot. Jadi mereka bisa pergi ke situ, meskipun dengan medan agak berat, melewati sungai kecil di tengah hutan yang gelap gulita. Alat transportasi memakai jukung, yakni perahu kecil mampu memuat 2-3 orang, digerakkan dengan tenaga otot dikayuh dengan dayung. Tidak setiap pertandingan ditonton, sebab jarak dan waktu tengah malam akan sangat menyulitkan mencapai lokasi, mereka memilih pertandingan tim-tim favorite saja untuk ditonton.
Bagi yang tim favoritenya kalah, berakhir pula perjuangan menonton bola. Aber (18 tahun), ia hapal banyak pemain bola dari berbagai negara dan pengidola tim Swedia. Gairah menontonnya menjadi hilang ketika Swedia kalah, ia hanya merenung dan tidak ikut menonton apalagi kesulitan mencapai lokasi.
Terkadang tim-tim unggulan pun tidak sempat ditonton, tetapi tetap saja penggemar sepakbola berusaha untuk tahu hasil pertandingan dan hal tersebut telah dilakukan sejak awal-awal berlangsungnya siaran sepakbola. Kebetulan sinyal handphone cellular, sampai ke perkampungan peduduk yang tidak bisa menangkap siaran SCTV. Informasi dari telpon maupun sms, berkenaan dengan skor maupun siapa pencetak gol selalu ditunggu-tunggu dari kenalan atau keluarga yang bisa menyaksikan siaran piala dunia. Biasanya penduduk berdebat dan membahas sepakbola menjelang berangkat kerja pagi, mereka berkumpul saling bercerita dan berbagi informasi. Terkadang, kebiasaan ini dilakukan sore hari sepulang kerja.
Penulis melihat fenomena tersebut setelah melihat isi sms dari handphone keluarga. Seorang sepupu masih kuliah di Banjarmasin, menjadi pemasok informasi sepakbola terkadang ada juga sms bertanya waktu siaran bola (ketika parabola masih menangkap siaran piala dunia dari CCTV2). Banyaknya informan memberitahukan skor bola, terkadang beberapa sms masuk untuk tujuan sama memberitahukan informan. Wati (29 tahun) terkadang terbangun tengah malam, ia mengira telpon penting, ternyata hanya informasi untuk suaminya memberitahukan bahwa pertandingan tengah berlangsung agar mencoba mencari siaran televisi asing atau berhubungan dengan skor pertandingan.
Penulis sendiri akhirnya mendapatkan pertanyaan tentang skor akhir pertandingan, ketika sedang berada di Banjarmasin. Beberapa sms masih tersimpan ditulis sebagaimana adanya, sebagai berikut:
Tanggal 30/06/06 21:30 Nas kareh bl jd main Argentina vs Jerman tlg incaruman skor e lah.! (Nas nanti kalau sudah berakhir pertandingan Argentina vs Jerman tolong beritahukan skornya ya).
Tanggal 01/07/06 waktu 05:19 Aweh manang mlm Nas.? (Siapa menang tadi malam).
Tanggal 05/07/06 waktu 06:41 Nas aweh klh mlm Itali vs Jerman na? (Nas siapa kalah tadi malam Itali vs Jerman).
Pertanyaan demikian sering masuk ke hp penulis, mau tidak mau menyadari keterbatasan yang jauh dari jangkauan siaran SCTV, membuat solidaritas untuk berbagai informasi tentang piala dunia.
Pembahasan
Bagian ini, dibagi dalam tiga sub pembahasan berkaitan dengan pendapat Miller pada bagian pendahuluan.
1. Ketika Konsumen Harus Memilih
Hak siar tunggal SCTV dan membatasi tangkapan siarannya pada daerah yang ada pemancar ulang (antena relay), bagi pengguna antena parabola tidak mendapatkan kesempatan karena siaran Piala Dunia diacak. Alasannya agar wilayah siar tidak bisa diterima dari luar negeri, karena menyangkut kepentingan sponsor yang hanya menjual produk di Indonesia.
Padahal banyak daerah di Republik Indonesia, ternyata mampu menangkap siaran SCTV hanya melalui antena Parabola saja. Inilah yang merepotkan penggemar piala dunia, ketika mereka ingin menyaksikan siaran pertandingan sepakbola. Memang benar kata Miller ketika terjadi pertentangan antara barang yang tersedia dengan keinginan konsumen sendiri, produsen berkreatif menjual produk receiver merk Soccer.
Namun sebagaimana telah dijelaskan, receiver soccer dinilai hanya bersifat sementara dan harus berlangganan. Secara ekonomis memberatkan konsumen penonton bola. Pada mulanya, penduduk memiliki antena parabola tentu ingin menikmati siaran dari pelbagai saluran termasuk SCTV. Perkara siaran diacak membuat para konsumen pun harus kreatif, dari kasus di atas terdapat beberapa upaya alternatif dilakukan penonton sepakbola sekaligus pemilik parabola.
Pertama, memaksimalkan fungsi receiver yang ada. Caranya mereka mencari siaran televisi asing dengan harapan ada siaran piala dunia, CCTV2 menjadi alternatif sementara.
Kedua, beralih keperangkat lain. Siaran televisi asing nampaknya tidak bisa maksimal diharapkan, boleh jadi karena ketidakmampuan mencari ketepatan arah dari parabola. Mereka masih berharap dengan SCTV, mengingat kampung tetangga masih bisa menangkap siaran SCTV tanpa parabola. Antena Robot dicoba digunakan, ternyata hasilnya nihil.
Ketiga, menggunakan media lain. Tidak bisa menonton SCTV atau siaran televisi lain, untuk mengupdate perkembangan pertandingan piala dunia. Pesawat telepon cellular bisa dikatakan sebagai pelepas dahaga, setiap pertandingan paling tidak, mereka bisa mendapatkan informasi berupa tim yang menjadi pemenang atau pun skor akhir pertandingan.
Keempat, ke tempat lain. Pertandingan sepakbola piala dunia 2006 memang menjadi medan magnet yang sangat kuat, keterpencilan daerah tidak menjadikan alasan menonton pertandingan bola. Kampung-kampung tetangga yang bisa menerima siaran SCTV menjadi alternatif pilihan, meskipun harus berkorban tenaga.
2. Ideologi Sepakbola
Bermain sepakbola selain olahraga yang disenangi, juga menonton sepakbola nampaknya telah menjadi hobby tersendiri. Apalagi memiliki pemain-pemain idola, sehingga dengan cara apapun siaran piala dunia 2006 harus ditonton atau diketahui perkembangannya. Bagi penonton sepakbola juga bisa menjadi ideologi, terutama ketika adanya fanatisme terhadap tim atau pemain tersebut. Di arena pertandingan, fanatisme ini bisa dilihat dengan ketenaran holigan atau seperti bonek di Surabaya.
Ideologi penonton piala dunia, bisa datang tidak hanya dari kekaguman terhadap skill pemain. Bisa juga karena pengaruh ras, kedaerahan misalnya masuknya tim Jepang dan Korea dianggap mengangkat martabat Asia. Pertandingan final Prancis melawan Italia, bagi sebagian orang justru membela Prancis. Alasannya di tim negara Ayam Jantan tersebut ada Zidane yang memeluk agama Islam.
Ketika konsumen membayangkan benda yang dimiliki, mampu memuaskan harapan namun pada kenyataan tidak demikian. Begitu pula dengan alat tangkap siaran piala dunia, receiver yang dipakai tidak bisa dimanfaatkan terjadi peralihan benda. Bentuk ideal, sifatnya tentu abstrak tapi mengarah pada fungsi atau penggunaan yang sama.
Maka bisa dilihat, ketika receiver biasa tidak bisa digunakan. Idealnya menggunakan receiver soccer yang bisa menangkap siaran SCTV, tetapi itu tidak bisa, berubah lah benda menjadi antena robot, ketika masih saja tidak bisa handphone menjadi alternatif media non visual. Hingga pada akhirnya, langkah terakhir adalah perpindahan orang ke tempat yang bisa menangkap siaran pertandingan piala dunia. Orang-orang membutuhkan barang tersebut, karena permintaan hasratnya untuk menonton sepakbola demi sebuah hobby dan tim-tim yang menjadi favoritnya.
3. Masa Depan Antropologi
Seperti pendapat Miller, antropologi di masa depan, akan lebih baik bila mempunyai agenda berhubungan dengan perbandingan kapitalis, perbandingan sistem birokrasi, dunia modern dan perbandingan konsumsi. (lihat Miller, 1995: 17-21)
Pembahasan dalam kasus ini, tentu sangat berhubungan sekali dengan kapitalis media, sistem birokrasi, dunia modern dan perbandingan konsumsi meskipun lokasi studi berada jauh dari pelosok. Dampak siaran tunggal SCTV, benar-benar menampakkan kekuatan kapitalis media di Indonesia terutama dalam kasus piala dunia ini. Artinya pemirsa dipaksa menuruti kemauan pemilik hak tunggal siaran yakni SCTV, dari izin nonton bareng di kafe dan hotel atau penonton di rumah.
Di luar hak siar, perkembangan teknologi mutakhir apalagi dengan kebendaan, berhubungan dengan hubungan komunikasi, Douglas dan Isherwood menulis “Consumption has to be recognized as an integral part of the same social system that accounts for the drive to work, itself part of the social need to relate to other people, and to have mediating materials for relating to them”. (1979:4)
Tulisan ini mengingatkan bahwa televisi mempersatukan orang dalam suatu kepentingan sama, secara sosial mereka bergotong royong atau bapupuan mengumpulkan uang untuk membeli minyak demi menyalakan listrik menghidupkan televisi untuk menonton piala dunia. Mediasi televisi dalam kasus piala dunia, mempertemukan orang-orang yang di pedalaman dengan dunia luar mereka yakni negara Jerman, tempat berlangsungnya pertandingan sepakbola.
Pelosok daerah sangat jauh, sentuhan teknologi dunia modern belum lagi tertanam kuat. Membuat mereka harus berusaha mengikuti perkembangan, transformasi alat yang digunakan dari televisi, handphone hingga surat kabar membuktikan usaha tersebut. Sebenarnya pada beberapa daerah kabupaten di Kalimantan Selatan, dimana siaran SCTV tidak begitu bagus diterima demi kepentingan masyarakat mereka melakukan kerjasama dengan pihak SCTV agar siaran piala dunia bisa dilihat langsung oleh masyarakat.
Kesulitan menerima siaran sangat berpengaruh dengan pola konsumsi, piala dunia jelas menaikkan tingkat pengeluaran baik waktu, tenaga maupun uang. Contoh kasus di atas misalnya, penggila bola harus mengorban uang untuk urunan membeli minyak, atau pemakaian pulsa lebih boros demi menanyakan berapa skor, tim yang menang dan kalah.
Terhadap penggunaan sms, penulis belum menemukan adanya indikasi perjudian. Hanya sebatas pemuas keinginan mengetahui informasi terkini tentang pertandingan sepakbola, berbeda seandainya akses siaran mudah didapatkan. Berbeda kalau menonton pertandingan secara langsung, sebab hasil akan diketahui secara langsung sehingga transaksi judi tidak akan terlambat.
4. Kesimpulan
Studi kasus penonton televisi piala dunia 2006 ini, memang sejalan dengan point-point dari pendapat Miller. Artinya ketika terjadi pertentangan barang yang tersedia dengan kebutuhan, maka pihak produsen perlu menghasilkan barang baru. Namun Miller tidak melanjutkan, kalau barang tersebut tidak bersifat permanen penggunaannya, maka akan timbul kreatifitas masyarakat untuk mensiasati agar bisa mengetahui berita sepakbola.
Seperti pepatah tak ada akar rotan pun jadi, kalau tidak bisa dinikmati secara langsung mereka menggunakan antena parabola, tidak bisa juga, ada fasilitas sms dari telpon cellular, hingga mengubah chanel ke televisi asing.
Ideologi atau pikiran pemirsa piala dunia 2006 terhadap pemain atau tim unggulan mereka, membuat kebutuhan mereka akan informasi piala dunia sudah menjadi kebutuhan primer. Terbukti ketika mereka menggunakan berbagai upaya, untuk berhasil menonton siaran sepakbola dengan berbagai cara.
Kapitalis media ternyata tidak bisa dielakkan, ketika birokrasi pemerintah belum mampu secara maksimal menyalurkan keinginan masyarakat pencinta bola dan ketika usaha secara individual mereka tidak bisa mendapatkan alternatif saluran televisi lain yang menyiarkan piala dunia. Penggila sepakbola pun harus beralih tempat ke daerah lain, demi menyaksikan pertandingan bola.
Daftar Pustaka
Blanchard, Kendall and Cheska, Alyce Taylor
1985 The Anthropology of Sport an Introduction, Bergin & Garvey Publisher, Inc: Massachussetts.
Douglas, Mary Tew and Isherwood, Baron
1979 The World of Goods, Basic Books, Inc., Publishers: New York
Layton, Robert.
1997 An Introduction to Theori in Anthropologi, Cambridge University Press: United Kingdom
Miller, Daniel (ed)
1995 World Apart Modernity Through The Prism of The Local, Roudledge: London and New York
Banjarmasin Post, 9 Juli 2006 “Grand Final, Nonton Bareng Piala Dunia 2006, Venue Berlesensi Resmi”
Kompas, … 2004 “Multikulturalisme Sepakbola”
Kompas, 16 September 2005
Kompas, 11 Juli 2006, “Komersialisasi dan “Soccer Betting”