Orang Barito, Orang Yang Kaya
Ditulis oleh baritobasin di/pada Januari 8, 2008
Oleh : Nasrullah
Kehidupan manusia tidak terlepas dengan air, setiap orang menyadari air adalah sumber kehidupan yang primer. Pada masyarakat tradisional, orang-orang akan berkumpul kemudian membentuk suatu komunitas tidak jauh pada mata air. Dari sinilah timbul pelbagai budaya dan peradaban.
Terdapat korelasi yang begitu kuat, antara orang yang hidup di dekat air dengan timbulnya khazanah kekayaan peradaban. Bermula peradaban tinggi dunia dikenal, ketika terjadi kehidupan orang-orang di sekitar sumur zam-zam. Kemudian orang Mesir di pinggiran sungai Nil, melahirkan karya fenomenal sebagai keajaiban dunia seperti Piramid dan Spink. Di Bagdad terdapat peradaban tinggi dunia, di mana ilmu pengetahuan, teknologi, budaya, kekuasaan dan lain sebagainya pernah berkembang dengan pesat, karena lahir dari orang-orang penghuni pinggiran sungai Tigris.
Entahlah, bagi orang di pinggiran sungai Barito peradaban apa yang dimiliki mereka atau tidak punya catatan sejarah, atau tidak peduli sama sekali. Padahal orang Barito memiliki sumber-sumber potensial untuk melahirkan peradaban dunia yang baru, melalui kekayaan sungai dan wilayah di sekitarnya.
Kekayaan Alam
Daerah-daerah di pinggir sungai Barito yang dikenal memiliki kota tua, penuh catatan perlawanan penduduk terhadap penjajah atau pun kehidupan berbagai etnis lokal yang hidup secara rukun. Begitu pula dengan kekayaan sumber daya alamnya, pada kehidupan sekarang berhasil digali sehingga menghasilkan kekayaan alam yang luar biasa melimpahnya.
Kualitas kesuburan tanah di sepanjang daerah aliran sungai Barito oleh Maulani (2000) berkisar dari kelas 4-7 (bandingkan dengan Jawa dari kelas 1-3). Daerah-daerah yang subur terletak di muara sungai sebagai akibat proses penimbunan tanah alubial, sangat cocok sekali untuk pertanian dan perkebunan.
Kualitas kesuburan tanah di sepanjang daerah aliran sungai Barito oleh Maulani (2000) berkisar dari kelas 4-7 (bandingkan dengan Jawa dari kelas 1-3). Daerah-daerah yang subur terletak di muara sungai sebagai akibat proses penimbunan tanah alubial, sangat cocok sekali untuk pertanian dan perkebunan.
Meskipun demikian, perlu memperhatikan kehidupan masyarakat setempat, sebab meskipun DAS Barito dan wilayah sekitarnya mempunyai kekayaan alam, bahkan sampai saat ini jumlah pohonnya masih banyak dari jumlah manusianya. Bukan merupakan jaminan bagi orang lokal untuk menikmati kekayaan sendiri.
Seperti inilah kekhawatiran Mubyarto (1993) dalam Duapuluh Tahun Penelitian Pedesaan, kekayaan yang cukup berlimpah telah mendorong banyak kepentingan atas kawasan-kawasan tersebut. Perusahaan perkebunan, dan berbagai industri lainnya dapat tumbuh dengan cepat berkat tersedianya tanah dan buruh “murah” serta berbagai deregulasi. Namun, strategi pembangunan yang lebih mengutamakan pertumbuhan ekonomi itu ternyata sering kali justru tidak diikuti dengan usaha pengembangan perekonomian rakyat bahkan tidak jarang “mengabaikan” kepentingan masyarakat setempat, sehingga melahirkan berbagai masalah pertanahan, seperti “pembebasan” tanah, tidak diakuinya hak-hak ulayat, yang semuanya berakibat makin tersisihnya masyarakat pedesaan.
Kenyataannya terjadi ketika masih bercokol PT Indomoro Kencana, yakni Freeportnya Kalimantan di Puruk Cahu. Kekayaan emas sebagai harta karun orang Dayak Murung dan orang Dayak Siang diambil tanpa ada perbandingan yang wajar dengan kemakmuran kehidupan masyarakat setempat.
Selagi air, hutan dan segenap kekayaan alam masih belum terkikis habis, kiranya perlu menjaga dan memelihara kekayaan alam tersebut untuk kehidupan akan datang. Di bagian hulu Barito, merupakan kewajiban orang Barito khususnya, secara umum masyarakat dunia untuk menjaga Muller dan Sachwaner sebagai paru-paru dunia. Hutan yang terdapat di dua pegunungan tersebut masih belum terlalu banyak terjamah, mesti harus dijaga. Akan terjadi ketidakseimbangan bila kelak hutan tersebut terganggu.
Kaum Intelektual
Daerah pedalaman yang identik dengan keterisolasian dan keterbelakangan, menjadi momok menakutkan bagi masa depan pendidikan orang Barito. Bagi masyarakat tradisional, menyekolahkan anak untuk lulus sekolah dasar saja merupakan hal yang sangat membanggakan sekali. Penulis pernah merasakan sendiri, betapa bahagianya ketika pertama kali memakai sepatu sekolah, itupun hanya untuk persiapan ujian sekolah dasar ke ibukota kecamatan.
Sangkar kebodohan memang masih mengurung sebagian besar orang Barito. Meskipun tidak ada data resmi tentang pendidikan, tapi penulis mendapatkan bukti keterbatasan tenaga pengajar. Ada sebuah Sekolah Dasar ketika proses belajar mengajar, seorang guru dengan terpaksa harus menjadikan satu lokal untuk mengajar dua kelas secara bersamaan, belum lagi sekolah lain dari kelas satu sampai kelas enam hanya diajar oleh seorang guru.
Inilah suatu yang bertolak belakang, antara sumber potensial kekayaan alam yang dimiliki orang Barito dengan miskinnya kesempatan untuk menjadi cerdas. Hanya saja tidak semuanya terjadi demikian, ada beberapa warga Barito berani menentang keadaan dengan merantau, kemudian belajar menuntut ilmu pengetahuan hingga akhirnya menjadi tokoh masyarakat.
Orang Barito pada sisi lain boleh berbangga hati, mereka memiliki orang yang ditokohkan dan dikenal oleh masyarakat luas. Sebut saja misalnya, KH Hasan Basri (Alm), Prof Ali Hasmi (Alm), ZA Maulani, Prof H M Aswadie Syukur, H Sulaiman HB, Asmawi Agani dan lain sebagainya.
Beruntung dengan perubahan sistem pemerintahan atau OTDA, sedikit membuka keterisolasian dan bertambahnya sarana pendidikan. Sehingga kesempatan untuk menikmati pendidikan mulai dirasakan. Meskipun demikian, tidaklah bijak bila ada pemerintahan kabupaten dalam ruang lingkup DAS Barito dengan terburu-buru menyibukkan diri membuat berbagai perda retribusi sebagai dalih meningkatkan pendapatan daerah.
Pajak-pajak daerah terutama menyangkut hasil hutan, hendaknya diukur dengan besarnya jumlah pendapatan masyarakat. Sebab, selama ini orang Barito masih tetap mengandalkan hasil hutan, untuk makan/kehidupan dan biaya pendidikan anak.
Menjaga Kekayaan
Pentingnya sebuah sistem, sebagai naungan untuk menciptakan suasana baru yang teduh dan lebih memakmurkan masyarakat. Kemudian. melihat begitu banyak terjadi pemekaran daerah, seperti di Pulau Jawa, Sulawesi dan Riau. Tapi berbeda dengan keadaan yang tengah berkembang di Papua, terjadi pro dan kontra tentang pembentukan propinsi baru.
Ada kesamaan daerah antara Papua dengan Kalimantan, khususnya DAS Barito. Oleh sebab itu, tentang Papua, sangat penting mencermati analisa R William Liddle (Kompas, 30/08) bahwa karena keadaan Papua yang masih kosong, calon imigran diberi prakarsa pindah ke Papua dengan jumlah sebesar mungkin.
Liddle menekankan bahwa orang asli Papua punya hak yang lebih dari orang lain. Mereka ingin mempertahankan hak ulayat suku-suku asli, karena bila diabaikan tanah mereka akan dikuasai oleh pendatang. Inilah alasan penolakan orang-orang Papua. Profesor berkebangsaan Amerika ini, tidak menghendaki sejarah terulang kembali, kesalahan yang pernah terjadi di Amerika dan Australia terhadap orang Indian dan orang Aborijin.
Orang Papua boleh jadi ingin menunda dulu proses pemekaran, sebaliknya dengan alasan yang sama orang Barito justru ingin segera membentuk propinsi baru. Mereka ingin dengan cara demikian, dapat mempertahankan identitas diri dan penguatan NKRI. Tinggal bagaimana respon pemerintah pusat dan tindakan nyata dari orang Barito sendiri, selama ini meskipun keinginan kuat namun sepertinya, masih malu-malu tapi mau.