Oleh : Nasrullah
Ketika membaca buku Pramoedya Ananta Toer berjudul ‘Jalan Raya Pos, Jalan Daendels’, saya terpikir seandainya ada jalan darat yang Kabupaten Batola dengan HSU dan Barito Selatan (Barsel). Pram memang tidak sedikit pun menyinggung keadaan Kalimantan, ia menulis Jalan Raya Pos di zaman Belanda itu di Pulau Jawa. Saya tidak mengambil sisi buruk dari cerita dalam buku Pram itu. Untuk misi penyelesaian jalan, terjadi genosida terhadap rakyat Jawa. Kabarnya puluhan ribu orang meninggal dunia. Melainkan memberikan inspirasi, Jalan Raya Pos tersebut mampu menghubungkan antarkota di Pulau Jawa.
Antarkota di Pulau Jawa, bisa kita datangi dari jurusan mana pun. Ini menjadi pintu masuk transportasi sehingga kedatangan manusia, arus barang dan sebagainya yang menuju atau melewati sebuah kota tidak akan tersumbat. Sedangkan di Pulau Kalimantan tidak demikian sepenuhnya, karena terdapat isu dan permasalahan dalam pengembangan wilayah.
Abstrak makalah Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah pada 2002 mengenai Rencana Tata Ruang Wilayah Pulau Kalimantan terutama berkenaan dengan tulisan ini, terdapat dua hal. Pertama, keterbatasan dukungan prasarana dan sarana wilayah, terutama transportasi darat pada kawasan di bagian tengah Kalimantan hingga perbatasan. Kedua, di era otonomi daerah ini masih terdapat kecenderungan pembangunan yang lebih berorientasi pada pengembangan masing-masing propinsi secara internal, tanpa memperhatikan keterkaitannya dengan propinsi lain serta antarkawasan yang belum sionergis secara fungsional.
Kaitannya dengan Batola, Barsel dan HSU sebagai tiga kabupaten dari propinsi (Kalsel dan Kalteng) adalah mengingat Marabahan ibukota Batola hanya bisa dicapai dengan satu jalur jalan darat, demikian juga Buntok ibukota Barsel. Sementara Amuntai ibukota HSU, jelas tidak. Namun ada ‘sepenggal’ HSU di antara Batola dan Barsel tidak tersentuh jalan, yakni Paminggir. Paminggir bukan sebuah kota, ia hanya desa tetapi menjadi pintu keluar masuk orang hulu sungai untuk menuju Kabupaten Kapuas, Barsel dan Batola melalui transportasi sungai.
Manfaat Jalan Darat
Ide tulisan ini adalah mewacanakan adanya hubungan darat, menyusuri pinggir Sungai Barito dari Marabahan (Batola), Paminggir (HSU) hingga Buntok (Barsel). Memang sampai sekarang transportasi sungai sebagai sarana angkutan termurah. Tetapi gerak perpindahan manusia memerlukan kecepatan waktu, dari satu tempat ke tempat lain.
Manfaat utama yang sangat merasakan tentunya masyarakat di sekitar jalan. Mereka akan mendapatkan kemudahan bergerak dengan terbukanya akses jalan darat. Kebanyakan arah pembangunan hanya melihat skala prioritas, terutama dihubungkan dengan jumlah penduduk. Sebenarnya sekitar daerah lintasan jalan jumlah penduduknya memang masih sedikit, tetapi jalan tersebut akan menjadi alternatif menuju kota lainnya.
Melalui perhitungan jarak Encarta Reference Library Premium 2005 dengan satuan mil (1 mil = 1,6093 km), saya mendapatkan angka 115 mil sebagai jarak Marabahan – Paminggir – Buntok dengan menyusuri sungai Barito. Kalau terbangun jalan darat, misalnya Marabahan – Paminggir – Buntok memungkinkan melalui Muara Pelantau, Kuala Sirau, Rantau Kujang, Paminggir, Kuripan, Muara Pulau kemudian Marabahan jaraknya adalah 93,4 mil.
Saya menyebutnya jalan alternatif yang apabila (bisa) terealisasi, kepadatan di jalan raya antara Banjarmasin menuju kota di hulu sungai hingga kota Kalteng (Tamiyang Layang, Buntok, Muara Teweh) akan terkurangi. Perhitungan Encarta yang saya lakukan untuk mengetahui jarak Banjarmasin-Buntok, melewati kota jalur tempuh lalu lintas bus antarkota antarpropinsi adalah 165 mil.
Di Tengah Dua Ibukota Provinsi
Berdasarkan hasil Review Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, terdapat 14 kota di Pulau Kalimantan. Tiga kota yang berdekatan yakni Palangka Raya sebagai ibukota Provinsi Kalteng, Banjarmasin (ibukota Kalsel) juga pintu gerbang nasional dengan adanya pelabuhan aut dan bandara, serta Kuala Kapuas.
Paling menarik sebenarnya adalah Kuala Kapuas, sebagai pusat kegiatan ekonomi nasional. Pertanyaannya, mengapa tidak terjadi pada Marabahan, Amuntai atau Buntok saja? Secara sederhana, Kuala Kapuas berada di tengah jalur antaribukota Provinsi Kalsel dan Kalteng. Terbukanya Batola (Anjir Muara) dengan adanya Jembatan Barito, ternyata justru Marabahan sendiri tidak mendapatkan keuntungan maksimal.
Seandainya terbuka jalan darat antardaerah itu sebagai mana diwacanakan, maka akan diketahui posisi daerah masing-masing. Sekarang dibangun jalan tembus Buntok langsung menuju Palangka Raya. Berarti, Barsel berada di tengah dua ibukota provinsi. Boleh jadi ia akan menjadi pusat kegiatan ekonomi baru karena akses terdekatnya dengan Kota Ampah, Tamiyang Layang, dan Muara Teweh.
HSU, terutama daerah perbatasan seperti Paminggir akan terjadi percepatan pembangunan karena terbuka pintu keluar menuju dua ibukota kabupaten sekaligus provinsi yakni Marabahan – Banjarmasin dan Buntok – Palangkara. Kawasan wisata Danau Panggang andalan HSU pun, akan mudah dicapai.
Batola dengan adanya jembatan menyeberangi Sungai Barito di Desa Rumpiang, sepintas memang mempercepat pergerakan manusia dan barang. Tetapi tidak akan maksimal tanpa adanya akses lain, Marabahan hanya akan menjadi daerah tujuan terakhir. Terbukanya jalan darat menuju Paminggir kemudian Buntok, akan membobol ‘gang buntu’ yang selama ini menjadi imej Batola.
Hal lain sebagai pertimbangan hubungan darat Batola, HSU dan Barsel seperti dengan terbuka daerah perbatasan, akan terjadi perimbangan dengan keterbukaan arus komunikasi di mana jaringan telepon selular telah merambah daerah perdesaan. Juga terpenuhinya kesempatan pembangunan masyarakat perdesaan yang selama ini tidak terperhatikan, akan memperjelas tapal batas daerah masing-masing. Mengingat, sengketa perbatasan rentan terjadi di beberapa daerah.
Masing-masing daerah kabupaten terkait dengan potensi alam yang dimiliki bisa melakukan pertukaran, saling menutupi kebutuhan dan kekurangan. Selain itu, saya menyadari, gagasan ini juga dipikirkan banyak orang. Walaupun demikian, apalah artinya kalau ide cerdas yang dimiliki hanya tersimpan di kepala kita masing-masing.
Terbit di Harian Banjarmasin Post, 1 Maret 2006
http://www.indomedia.com/bpost/032006/1/opini/opini1.htm
semoga tulisan ini akan menjadi sejarah terciptanya jalan yg selama ini kita dambakan,,,,,,,,
Semoga tidak berakhir dengan dibangunnya jalan tembus itu.