Pengumpan:
Tulisan
Komentar

(Renungan di Hari Jadi Kabupaten Batola)

Oleh: Nasrullah

 Setiap tanggal 4 Januari, pemerintah daerah merayakan hari jadi kabupaten Barito Kuala (Batola) yang pada tahun ini menginjak usia 52 tahun. Namun, di balik perayaan itu tersimpan pertanyaan tentang usia Marabahan, ibukota Batola. Tentu saja untuk mendapatkan jawaban usia kota Marabahan, menjadi wewenang sejarawan. Namun, menggunakan fakta sejarah akan menunjukkan usia kota Marabahan lebih tua dari usia Batola bahkan kemungkinan lebih tua dari kota Banjarmasin yang berusia lebih dari setengah abad.

Wacana pelacakan sejarah kota Marabahan bukan persoalan barabut tuha, bukan pula agar ada perayaan hari jadi ibukota kabupaten. Namun, lebih menekankan pada aspek manfaat: rasa percaya diri, serta sebagai dorongan berprestasi (need for achievement). Lanjut Baca »

Atas Nama Kebudayaan

Oleh: Nasrullah

Akhir-akhir ini istilah ‘kebudayaan’ begitu ramai dibicarakan, bahkan menjadi trending topic karena selalu diletakkan dalam berbagai kegiatan. Istilah ‘kebudayaan’ tersebut dapat dilihat dalam berbagai baliho yang berukuran kecil hingga raksasa, dilekatkan dalam berbagai kegiatan dari menari, menyanyi, hingga masuk dalam kancah kegiatan festival besar. Pokoknya kebudayaan seperti benda pajangan dalam etalase toko yang dapat dilihat, dipegang dan dibeli untuk kepentingan apapun. Jika kebudayaan menjadi sedemikian fleksibel, dapat menyeruak dalam segala lini maka menjadi pertanyaan penting, fenomena (kebudayaan) apakah yang terjadi saat ini? Penulis membahasnya dalam sudut pandang antropologi sebagai ilmu mempelajari kebudayaan. Lanjut Baca »

Mentalitas Orang Dayak

Oleh: Nasrullah

 Judul buku     :  Demokrasi dan Pembangunan Daerah

Penulis            :  Z.A. Maulani

Penerbit          :  Pustaka Pelajar dan CRDS

Halaman        :  187+xx

Tahun Terbit  :  2000 (Cetakan kedua)

 

Beberapa waktu lalu Dewan Adat Dayak Nasional (DADN) menggelar kongres di Kalimantan Tengah. Kekawatiran utama peserta kongres adalah hak tanah adat milik masyarakat Dayak. Namun, persoalan ini sebenarnya telah dirasakan oleh Maulani dalam buku Demokrasi dan Pembangunan Daerah, selain membahas persoalan global dan nasional, persoalan daerah juga menjadi perhatian penting. Lanjut Baca »

Oleh: Nasrullah

Selama perjalanan darat dari kota Tenggarong, Kutai Kartanegara menuju kota Sendawar, Kutai Barat yang memakan waktu sekitar enam jam, seolah membaca buku cerita yang terbuka tentang bumi Kalimantan. Sepanjang jalan pandangan mata terpaku pada pepohonan kecil yang berusaha bangkit dari nestapa rimba raya Kalimantan yang telah digergaji dan ibabat habis. Tak ubahnya tukang gunting memotong rambut para narapida hingga meninggalkan bentuk yang tak jelas.

Cerita tentang kemakmuran hutan Kalimantan Timur dan pulau Kalimatan pada umumnya, hanyalah milik para pemodal. Begitu pohon telah habis, gampang saja mereka mengangkat koper tanpa harus menoleh ke belakang. Entah berapa lama masyarakat Dayak harus survive untuk melewati masa recovery hingga pepohonan kembali menjulang ke langit dan akarnya kokoh mencengkram ke bumi. Kita tidak akan bisa menebak dibutuhkan waktu 50 tahun, 100 tahun atau lebih agar alam Kalimantan kembali kepada seperti semula. Lanjut Baca »

Kisah yang Senasib

Oleh: Nasrullah

 Judul, ide dan pengalaman yang berbeda cerita berbeda pula. Apalagi bagi kaum sastrawan tak akan sudi diatur-atur. Namun, entah kenapa perbedaan itu hanya pada tataran permukaan. Inilah yang terjadi dalam buku Di Perbatasan Kota Bunga Kumpulan Cerpen Borneo. Duabelas cerpen dari duabelas orang pengarang yang berbeda nyaris berkisah tentang hal yang sama: kematian. Entah dalam bentuk kiasan atau pun cerita sebenarnya, tetapi begitulah kenyataannya.

Cerpen berjudul Ayah Kami karya cerpenis Serawak, Poul Nanggang menceritakan sikap kaku seorang Ayah yang bertahan dengan tradisi pengobatan tradisional. Konflik muncul antara Ayah dan anak yang ingin membawanya ke rumah sakit. Aku sanggup mendukung ayah. Ayah juga menolak. Aku sanggup ayah dengan “joli” yang dipinjam dari Su Runting, juga ditolak ayah kerana nyawanya tidak mampu bertahan. Akhirnya, ayah mengarahkan Aku memanggil Yaki Yampil, seorang pengamal perubatan tradisi Bisaya (h. 5). Lanjut Baca »

Tulisan Sebelumnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.